Friday, January 6, 2012

Kajian Novel Ayat-ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy




BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Novel merupakan karya seni yang sangat erat berhubungan dengan kehidupan manusia dan berupa gambaran perjalanan hidup manusia. Gaya bahasa dalan novel merupakan perwujudan penggunaan bahasa oleh penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi pembaca. Penelitian ini merupakan bagian dari langkah untuk memahami gaya bahasa berdasarkan jenis gaya bahasa yang didominasi. Novel Ayat-ayat Cinta (AAC) sebagai sumber penelitian adalah didasarkan atas kemunculan dan kesuksesan novel AAC karya Habiburraman El Shirazy. Novel itu lahir pada saat yang tepat.. Hal lain novel AAC sebagai sumber penelitian adalah bahasanya mudah dipahami dan mengandung sarat gaya bahasa.
Ustadz H. Abu Ridho, dalam Bedah Ayat-Ayat Cinta di Munas PKS 2005 berpandangan bahwa, “Aya-ayat Cinta merupakan novel yang sangat bagus dan lengkap kandungannya. Ini bukan hanya novel sastra dan novel cinta, tapi juga novel politik, novel budaya, novel religi, novel fikih, novel etika, novel bahasa, dan novel dakwah. Sangat bagus untuk dibaca siapa saja.” Hal ini juga didukung oleh pandangan Baidan. Dalam Fenomena Ayat-ayat Cinta (2008:24).
gaya bahasa adalah gaya seseorang pada saat mengungkapkan perasaannya baik secara lisan maupun tulis dan dapat menimbulkan reaksi pembaca berupa tanggapan. Gaya bahasa berdekatakan dengan majas. Majas merupakan bahasa kias, sehingga majas berada dalam gaya bahasa.
Hal di ataslah yang melatar belakangi saya untuk megkaji novel Ayat-ayat Cinta ini..
1.2. Rumusan Masalah
Gaya bahasa apa sajakah yang terdapat dalam novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburraman El Shirazy?
1.3. Batasan Masalah
Dalam pembahasan makalah ini saya membatasi masalah yang akan saya bahas adalah hanya gaya bahasa yang terdapat dalam novel Ayat-ayat cinta karya Habiburrahman El Shirazy
1.4. Tujuan
Menemukan berbagai macam gaya bahasa yang digunakan dalam novel Ayat-ayat Cinta.
1.5. Manfaat
Memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang berbagai macam gaya bahasa yang digunakan Habiburrahman El Shirazy dalam novel Ayat-ayat Cinta.








BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pendekatan Stilistika
Asumsi pendekatan ini adalah bahwa bahasa mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam kehadiran sastra. Bahasa tidak dapat dilepaskan dari sastra. Tidak ada bahasa tidak ada sastra. Keindahan sebuah karya sastra sebagian besar disebabkan kemampuan penulis mengeksploitasi kelenturan bahasa sehingga menimbulkan kekuatan dan keindahan.
Pendekatan stilistika ini merupakan pecahan dari linguistik terapan. Hal ini terjadi setelah munculnya teori tata bahasa generative yang dikembangkan Noam Chomsky, bahwa setiap orang mempunyai rumus bahasa gramatis tetapi penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari tidak sama. Struktur dalam yang dimiliki manusia sebagai asas komunikasi adalah sama, yang berbeda adalah cara pelahirannya. Dalam hal ini pengarang mempunyai kelebihan dalam kemampuan mengekspresikan bahasa sehingga menjadi suatu yang khas.
stilistika secara sederhana dapat diartikan sebagai kajian linguistik yang objeknya berupa gaya yaitu cara penggunaan bahasa dari seseorang dalam konteks tertentu dan untuk tujuan tertentu.
Jadi pendekatan stilistika dalam pengkajian novel Ayat-ayat Cinta ini adalah mengetahui gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang dalam menyampaikan gagasan dan tujuannya.


2.2. Sinopsis Ayat-ayat Cinta
Novel ini bercerita tentang perjalanan cerita dua anak manusia yang berbeda latar belakang dan budaya; yang satu adalah mahasiswa Indonesia yang sedang studi Universitas Al-Azhar Mesir (Fahri), dan yang satunya lagi adalah mahasiswi asal Jerman yang kebetulan juga sedang studi di Mesir (Aisha). Kisah percintaan ini berawal ketika meraka secara tak sengaja bertemu dalam sebuah perdebatan sengit dalam sebuah metro (sejenis trem).
Di Mesir, Fahri tinggal bersama dengan keempat temannya yang jga berasal dari Indonesia, yaitu Saiful, Rudi, Hamdi dan Misbah. Fahri sudah tujuh tahun hidup di Mesir. Mereka tinggal di sebuah apartemen sederhana yang mempunyai dua lantai, dimana lantai dasar ditempati oleh Fahri dan keempat temannya dan lantai atas ditempati oleh sebuah keluarga Kristen Optik yang sekaligus menjadi tetengga meraka. Walau keyakinan mereka berbeda, namun mereka dapat hidup berdampingan, rukun dan damai bahkan akrab terutama Maria yang merupakan anak dari keluarga tersebut. Maria adalah gadis Mesir yang baik budi pekertinya.
Pada waktu itu Fahri sedang dalam perjalanan menuju masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Kaima, ujung utara kota Cairo, untuk talaqqi (belajar secara langsung pada seorang syaikh) pada syaikh Utsman Abdul Fattah, seorang syaikh yang cukup tersohor di seantero Mesir. Kapadanya Fahri belajar tentang qiraah Saba’ah (membaca Al-Qur’an dengan riwayat tujuh imam) dan ushul tafsir (ilmu tafsir paling pokok). Hal ini sudah biasa ia lakukan setiap dua kali seminggu setiap hari Ahad/Minggu dan Rabu. Dia sama sekali tidak pernah melewatkannya walau suhu udara panas menyengat dan badai debu sekalipun. Karena baginya itu merupakan suatu kewajiban karena tidak semua orang bisa belajar pada Syaikh Ustman yangn sangat selektif dalam memilih murid dan dia termasuk salah seorang yang beruntung.
Di dalam metro, Fahri tidak mendapatkan temapt dudukmau tidak mau dia harus berdiri sambil menunggu ada kursi yang kosong. Kamudian dia berkenalan dengan Ashraf yang juga seorang muslim. Mereka bercerita tentang banyak hal, termasuk tentang kebencian Ashraf kepada Amerika. Tidak beberapa lama ada tiga bule Amerika (dua perempuan dan satu laki-laki) naik kedalam metro. Satu diantaranya adalah seorang nenek yang kelihatannya sangat lelah. Biasanya orang Mesir akan memberikan tempat duduk jika ada perempuan yang tidak mendapatkan tempat duduk, namun kali ini tidak. Mungkin karena mereka sangat membenci Amerika. Sampai suatu saat ketika nenek tersebut hendak duduk menggelosor di lantai metro, sorang perempuan bercadar putih yang sebelumnya dipersilahkan Fahri untuk duduk di bangku kosong yang sebenarnya bisa ia dudukinya. Perempuan tersebut memberikan kursinya kepada nenek tersebut dan meminta maaf atas perlakuan orang-orang mesir lainnya. Dan orang-orang Mesir yang paham dengan bahasa Inggris merasa tersinggung dengan ucapan perempuan tersebut, di dinilah perdebatan dimulai. Mereka mengeluarkan makian dan umpatan kepada gadis tersebut, dan gadis tersbut hanya bisa menangis. Kemudian Fahri berusaha untuk menenangkan/meredakan perdebatan itu. Dan dia mencoba menjelaskan pada mereka bahwa apa yang dilakukan gadis tersebut adalah benar, dan makian-makian tersebut tidak layak dilontarkan. Kemudian orang-orang Mesir tersebut bertambah marah dan meminta Fahri tidak ikut campur urusan mereka dan jangan sok alim karena juz Amma saja belum tentu ia hafal. Kemudian mereka terdiam saat Ashraf yang tadinya juga ikut memaki gadis tadi, ia menjelaskan bahwa Fahri adalah Mahasiswa Al-Azhar dan hafal Al-Qur’an dan juga murid dari Syaikh Ustman yang terkenal itu. Kemudian semua orang Mesir itu meminta maaf kepada Fahri. Kemudian Fahri menjelaskan bahwasannya tidak seharusnya mereka lakukan itu karena ajaran baginda Nabi tidak pernah seperti itu. Lalu ia menjelaskan bagaimana seharusnya kita bersikap kepada tamu apalagi orang asing sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw. Merekapun mengucapkan terimakasih kepada Fahri karena sudah mengingatkan mereka. Sementara itu si bule muda mendengarkan penjelasan dari gadis bercadar dengan bahasa Inggris tentang apa yang sedang terjadi. Kemudian bule muda tersebut mengucapkan terimakasih kepada Fahri kemudian menyerahkan kartu namanya kepada Fahri. Tak lama kemudian metro berhenti dan gadis bercadar tadi hendak turun, tetapi sebelum turun ia mengucapkan terimakasih kepada Fahri karena telah menolongnya tadi. Akhirnya mereka berkanalan ternyata gadis itu bukanlah orang Mesir melainkan orang Jerman yang sedang studi di Mesir ia bernama Aisha.
Kehidupan Fahri berubah total ketika menikah dengan Aisyah seorang muslimah dari anak orang kaya. Dari pernikahan itu otomatis kehidupan Fahri berlimpahkan harta, meskipun demikian ia tetap rendah hati dan tidak sombong. Sejak membangun rumah tangga dengan Aisyah hidupnya serasa mimpi, ia mempunyai istri cantik, sholeha serta kaya. Mereka tinggal di apartemen elit di Kairo yang merupakan tempat orang-orang penting Mesir.
Ketika Fahri menikah dengan Aisyah ternyata membuat kecewa tiga gadis lainnya, salah satunya Maria sampai sekarat, Nurul hampir patah hati dan Naura yang tega menjebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan telah memperkosanya. Dalam penjara Fahri konsisten menjalankan perintah Allah SWT dengan berpuasa, sholat lima waktu dan sholat sunnah. Tidak hanya itu ia juga belajar ilmu dari seorang guru besar ekonomi yang dipenjara karena kritikannya yang pedas.
Namun setelah bukti-bukti menyatakan bahwa Fahri tidak bersalah, ia pun bebas dari penjara. Setelah Fahri bebas, Maria kembali dirawat di rumah sakit hingga pada akhirnya meninggal setelah masuk Islam dan menikah dengan Fahri.

2.3. Analisis Novel Ayat-ayat Cinta dengan Pendekatan Stilistika
Stilistika adalah kajian yang memusatkan perhatian pada hal-hal yang menyimpang dari kebiasaan dari kekhusukan. Kekhususan itu dalam penelitian ini adalah gaya bahasa apa yang digunakan oleh pengarang dalam novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman ini.
2.3.1 Gaya bahasa yang digunakan dalam novel Ayat-ayat cinta
A. Gaya bahasa Klimaks
Kata klimaks berasal dari bahasa Yunani (klimax) yang berarti “tangga”. Klimaks adalah sejenis gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang semakin lama semakin mengandung penekanan; keblikannya adalah antiklimaks (Shadily : 1982:1795) (dalam Tarigan :2009 : 79).
Gaya bahasa ini ditemukan dalam novel Ayat-ayat Cinta seperti dalam penggalan teks berikut.
Meskipun butut, ini adalah tas bersejarah yang setia menemani diriku menuntut ilmu sejak di Madrasah Aliyah sampai saat ini, saat menempuh S.2. di universitas tertua di dunia (17).
Pada penggalan teks di atas terdapat penggunaan gaya bahasa klimaks yang ditandai kelompok kata seperti sejak di Madrasah Aliyah, saat ini, menempuh S.2. Urutan pikiran yang makin meningkat berdasarkan kepentingan merupakan bentuk klimaks.
B. Gaya bahasa Antiklimaks
Antiklimaks adalah kebalikan gaya bahasa klimaks; sebagai gaya bahasa, antiklimaks merupakan suatu acuan yang berisi gagasan-gagasan yang diurutkan dari yang terpenting berturut-turut kegagasan yang kurang penting
Penggunaan kalimat yang bergaya bahasa antiklimaks. Terdapat pada penggalan teks berikut.
Di dunia ini memang banyak sekali rahasia Tuhan yang tidak bisa dimengerti oleh manusia lemah seperti diriku. (27).
Pengurutan kata dalam penggalan teks di atas diawalli dengan urutan hal terpenting yaitu Tuhan, manusia, dan diriku.
Sahabat nabi itu lalu meninggalkan diriku. Semakin lama semakin jauh. Mengecil. Menjadi titik. Dan hilang. Aku merasa kehilangan dan sedih. Mataku basah (hal. 135.)
Pengurutan acuan terdapat dalam penggalan teks di atas yang diawali dengan urutan yang lebih penting. Kelompok kalimat tersebut seperti, meninggalkan diriku, lama semakin jauh, mengecil, menjadi titik, dan hilang.
C. Gaya bahasa Paralelisme
Paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang beusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frase-frase yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Kesejajaran tersebut dapat pula berbentuk anak kalimat yang tergantung pada sebuah induk kalimat yang sama. Gaya bahasa ini lahir dari struktur kalimat yang berimbang (Keraf, 1985:126) (dalam Tarigan, 2009:132).
Gaya bahasa tersebut dapat dilihat dalam penggalan kata berikut :
“Bagaimanapun mungkin aku yang sudah merepotkan mereka masih juga membebankan biaya pada mereka.” (106).
Penggunaan gaya bahasa paralelisme tersbut adalah merepotkan yang sejajar dengan membebanka.
D. Gaya bahasa Anafora
Anafora adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap baris atau setiap kalimat (Tarigan, 2009:184).
Gaya bahasa tersebut terletak pada penggalan teks berikut :
Tak kenal kata absen. Tak kenal cuaca dan musim. (16)
Pengulangan kelompok kata tak kenal terdapat dalam penggalan teks di atas Kelompok kata itu diulang kembali pada kelimat kedua.
E. Gaya bahasa Epizeukis
Epizeukis adalah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung, yaitu kata yang ditekankan atau yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
Gaya bahasa tersebut dapat dilihat dalam penggalan kata berikut :
Aku satu-satunya orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia. (17).
Pemakaian gaya bahasa epizeukis dalam penggalan teks di atas berupa penggalan kata satu-satunya yang diulang dua kali. Kata itu dipentingkan dalam kalimat.
F. Gaya bahasa Hiperbola
Hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan jumlahnya, ukurannya atau sifatnya dengan maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya. Gaya bahasa ini melibatkan kata-kata, frase, atau kalimat (Tarigan, 2009:55)
Kata hiperbola berasal dari bahasa Yunani yang berarti “pemborosan”, “berlebihan” dan diturunkan dari hyper “melebihi” + ballien “melemparkan”. Hiperbola merupakan suatu cara yang berlebih-lebihan mencapai efek; suatu gaya bahasa yang di dalamnya berisi kebenaran yang direntangpanjangkan (Dale, 1971:233) (dalam Tarigan, 2009:55).
Gaya bahasa tersebut terdapat dalam penggalan kata berikut :
“aku cepat-cepat melangkah ke jalan menuju masjid untuk shalat Zuhur. Panasnya bukan main. (22)
Dalam penggalan teks di atas terdapat kelompok kata bukan main, yang terkandung maksud bahwa pada saat zhuhur terlalu panas dan tidak dapat ditentukan berapa derajat suhunya. Kelompok kata itu merupakan pembentuk gaya bahasa hiperbola.










BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
Berbagai macam gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam menyampaikan gagasan atau pemikirannya. Begitu banyak gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang, namun di sini penulis hanya menunjukkan beberapa gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang dalam karyanya tersebut. Diantaranya adalah :
1. Gaya bahasa Klimaks
2. Gaya bahasa Antiklimaks
3. Gaya bahasa Paralelisme
4. Gaya bahasa Anafora
5. Gaya bahasa Epizeukis
6. Gaya bahasa Hiperbola
3.2. Saran
Untuk menegtahui lebih banyak tentang bebagai gaya bahasa yang digunakan pengarang maka pembaca hendaknya membaca lebih seksama dan berulang-ulang.
Untuk mendapatkan nilai-nilai yang terkandung dalam novel tersebut dengan gaya bahasanya yang beragam pembaca hendaknya teliti dengan berbagai macam gaya bahasanya tersebut.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan sehingga saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, Henry Guntur.2009.Pengajaran Gaya Bahasa.Bandung:Angkasa
Nurgiyantoro, Burhan.1994.Teori Pengkajian Fiksi.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press
Shirazy, Habiburrahman El.2006.Ayat-ayat Cinta. Jakarta:Republika
http://khusnin.wordpress.com/
Muslihah, Nurnisai. Bahan ajar Apresiasi Puisi

No comments:

Post a Comment

Saran dan masukan sangat berguna bagi kami.