Oleh : Rachmad Rivai
Di seberang jalan banyak itik
Harimau belang sedang makan
Wahai adik yang sangat cantik
Bolehkah abang mau kenalan
Harimau belang sedang makan
Anak itik pakai sepatu roda
Wahai abang silahkan kenalan
Asalkan adik jangan digoda
Anak itik patah sayapnya
Ada udang dimakan ular
Adik yang cantik siapa yang punya
Bolehkah abang jadikan pacar
Anak itik menginjak duri
Pergi ke ladang mencari kayu
Adik memang masih sendiri
Sungguh abang pandai merayu
Pergi ke ladang mencari kayu
Karena hujan hendak berteduh
Abang ini bukan merayu
Karena abang bersungguh-sungguh
Kalau di ladang banyak kayu
Sungguh indah sikain batik
Kalau abang bukan merayu
Sungguh senang hati adik
Kalau memang indah sikain batik
Sungguh hijau hamparan ilalang
Kalau memang senang hati adik
Apakah mau jadi pacar abang
Anak itik di tengah ilalang
Anak domba mandi dikali
Adik mau jadi pacar abang
Coba katakana sekai lagi
Anak domba mandi di kali
Anak itik dimakan hiu
Akan ku katakana sekali lagi
Adik yang cantik I Love You
Anak itik dimakan hiu
Ada udang di atas batu
Akan adik balas cintamu
Wahai abang I Love You Too
Belajar adalah kebiasaan dari orang-orang yang berilmu. Kuy Kita Belajar biar makin berilmu dan pintar.
Thursday, December 15, 2011
Istilah-istilah Dalam Seni
amatir
: kegiatan yang dilakukan atas dasar kesenangan dan bukan untuk
memperoleh nafkah, misalnya orang yang bermain musik, melukis, menari,
bermain tinju, sebagai kesenangan.
ambang
: tingkat
berita
: cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat;
kabar
biografi
: riwayat hidup seseorang yang
ditulis oleh orang lain
bordes
: tangga untuk naik ke pintu kereta api
cerita
: karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan
orang; kejadian dan sebagainya baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun
yang hanya rekaan belaka
degradasi
: kemunduran, kemerosotan, penurunan
devisa
: alat pembayaran luar negeri yang dapat ditukar dengan uang luar negeri
diagram
: gambaran (buram, sketsa) untuk memperlihatkan atau menerangkan sesuatu
dialog
: percakapan
domisili
: tempat tinggal resmi
dongeng
: cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian
zaman dulu yang aneh-aneh)
frustasi
: rasa kecewa akibat kegagalan di dalam mengerjakan sesuatu atau akibat
tidak berhasil dalam mencapai suatu cita-cita
gaplek
: ubi kayu yang telah dikupas dan dikeringkan
hipnotis
: membuat orang berada dalam keadaan seperti tidur karena sugesti
indikator
: sesuatu yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan
inovasi
: penemuan baru yang berbeda
dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan,
metode, atau alat)
kalimat
: satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola
intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa
kamus
: buku yang memuat kumpulan istilah atau nama yang disusun menurut
abjad beserta penjelasan tentang makna dan pemakaiannya
kawah
: bagian puncak gunung berapi yang dilewati bahan letusan berbentuk
lekukan
besar
kinesik
: ilmu tentang pemakaian gerak tubuh, tangan, muka, dan sebagainya
sebagai
bagian dari proses komunikasi
kolumnis
: orang yang secara tetap
menulis artikel di koran atau majalah
komentar
: ulasan atau tanggapan atas berita, pidato (untuk menerangkan atau
menjelaskan)
kompetisi
: persaingan
komunikasi
: pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau
lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; perhubungan
konfigurasi
: bentuk; wujud
konkret
: benar-benar ada
kontribusi
: sumbangan
misi
: tugas yang dirasakan orang sebagai suatu kewajiban untuk melakukannya
demi agama,
ideologi, patriotisme, dan sebagainya
motivasi
: dorongan yang timbul dari diri seseorang secara sadar atau tidak
sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu
natural
: alamiah
objek
: hal, perkara, atau orang yang menjadi pokok pembicaraan
panorama
: pemandangan alam yang bebas dan luas
pantun
: bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait biasanya terdiri atas 4
baris yang bersajak a-b-a-b, tiap larik biasanya terdiri atas 4 kata,
baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan sajak dan baris
ketiga dan keempat merupakan isi
paragraf
: bagian bab dalam suatu karangan (biasanya mengandung satu ide pokok
dan penulisannya dimulai dengan garis baru); alinea
pendapat
: kesimpulan sesudah mempertimbangkan, menyelidiki, dan lain sebagainya
peraga
: alat media pembelajaran untuk memperagakan sajian pembelajaran
pesan
: amanat
prioritas
: yang didahulukan dan diutamakan dari pada yang lain
profesi
: bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian
profil
: ikhtisar yang memberikan fakta tentang hal-hal khusus
register
: buku catatan atau daftar yang disusun secara bersistem dan menurut
abjad
ronde
: babak pada pertandingan tinju
spontan
: serta-merta
stalagtit
: batangan kapur yang terdapat pada langit-langit gua dengan ujung
meruncing ke bawah
sutradara
: orang yang memberi pengarahan
dan bertanggung jawab terhadap atas masalah artistik dan teknis dalam
pementasan drama, pembuatan film
target
: sasaran yang telah ditetapkan untuk dicapai
teoretis
: menurut teori
tiwul
: penganan yang dibuat dari tepung gaplek, diberi gula sedikit,
kemudian dikukus, dapat dimakan bersama kelapa parut yang telah diberi
garam sedikit
transisi
: peralihan dari keadaan
turnamen
: pertandingan yang diikuti oleh
beberapa regu
ultimatum
: peringatan atau tuntutan yang terakhir dengan diberi batas waktu
untuk menjawabnya
Adegan : Bagian dari babak yang menggambarkan satu suasana dari beberapa suasana dalam babak
Additive Mixing : Pencampuran warna pada objek yang disinari dari dua atau lebih lampu yang berbeda
Akting : Tingkah laku yang dilakukan pemain sebagai wujud penghayatan peran yang dimainkan
Aktor : orang yang melakukan akting
Amphiteater : Panggung pertunjukan jaman Yunani Kuno
Amplifikasi : Penguatan energi listrik setelah melalui rangkaian elektronik
Apron : Daerah yang terletak di depan layar atau persis di depan bingkai proscenium
Arena : Salah satu bentuk panggung yang tidak dibatasi oleh konvensi empat dinding imajiner
Artikulasi : Hubungan antara apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakanya, dan dipengaruhi oleh penguasaan organ produksi suara
Aside : Dialog menyamping, atau suara hati dan pikiran tokoh
Atmosfir : Isitlah teater untuk menyebutkan suasana atau kondisi lingkungan
Audibility : Segala sesuatu yang berkaitan dengan pendengaran
Auditorium : Ruang tempat duduk penonton dalam panggung proscenium
Backdrop : Layar paling belakang. Kain yang dapat digulung atau diturun-naikkan dan membentuk latar belakang panggung
Bahasa tubuh : Bahasa yang ditimbulkan oleh isyarat-isyarat dan ekspresi tubuh
Bar : Pipa bisa yang digunakan sebagai baris untuk pemasangan lampu
Barndoor : Sirip empat sisi yang diletakkan pada lampu dan digunakan untuk mebatasi lebar sinar cahaya
Batten : (1) Lampu flood yang dirangkai dalam satu kompartemen (wadah). (2) Perlengkapan panggung yang dapat digunakan untuk mengaitkan sesuatu dan dapat dipindahpindahkan
Beats : Satu kesatuan arti terkecil dari dialog
Belly to Belly : Dua lensa yang dipasang berhadapan dalam sebuah lampu dan jaraknya bisa diatur
Bifocal : Lampu Bifocal adalah lampu profile standar yang ditambahi dengan shutter tambahan
Blocking : Gerak dan perpindahan pemain dari satu area ke area lain di panggung
Boom : Baris lampu yang dipasang secara vertikal
Border : Pembatas yang terbuat dari kain. Dapat dinaikkan dan diturunkan. Fungsinya untuk memberikan batasan area permainan yang digunakan
Bracket : Pengait untuk memasang lampu pada boom. Disebut pula sebagai boom arm
Catwalk : Permukaan, papan atau jembatan yang dibuat di atas panggung yang dapat menghubungkan sisi satu ke sisi lain
Clamp : Klem atau pengait untuk memasang lampu pada bar, disebut juga sebagai C-clamp atau Hook Clamp
Control Balance : Pengaturan tingkat kekerasan suatu sumber suara terhadap sumber suara yang lain
Control Desk : Disebut juga Remote Control, alat untuk mengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya dari jarak jauh
Cyc Light : Lampu flood yang dikhususkan untuk menerangi layar belakang (siklorama)
Denotasi : Arti yang sebenarnya sesuai dengan arti yang terdapat dalam kamus
Dialog : Percakapan para pemain.
Diafragma : Sekat yang memisahkan antara rongga dada dan rongga perut
Diffuse : Jenis refleksi cahaya yang memiliki pantulan merata serta panjang sinarnya sama
Diftong : Kombinasi dua huruf vokal dan diucapkan bersamaan
Diksi : Latihan mengeja kata dengan suara keras dan jelas
Dimmer : Alat pengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya
Distorsi : Hasil rekaman suara melebihi standar batas maksimal yang ditentukan
Donut : Pelat metal yang digunakan untuk meningkatkan ketajaman lingkar sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu spot
Drama : Salah satu jenis lakon serius dan berisi kisah kehidupan manusia yang memiliki konflik yang rumit dan penuh daya emosi tetapi tidak mengagungkan sifat tragedi
Dramatic Irony : Aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu, dimana tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri
Ekstensi : Menambah besarnya sudut antara dua bagian badan
Eksposisi : Penggambaran awal dari sebuah lakon, berisi tentang perkenalan karakter, dan masalah yang akan digulirkan
Elastisitas : Tingkat kekenyalan suatu objek sehingga dengan mudah bisa diterapkan atau digunakan
Ellipsoidal : Jenis reflektor yang memiliki bentuk elips
Emosi : Proses fisik dan psikis yang kompleks yang bisa muncul secara tiba-tiba dan spontan atau diluar kesadaran
Ephemeral : Sifat pertunjukan yang bermula pada suatu malam dan berakhir pada malam yang sama
ERS : Elliposoidal Reflector Spotlight. Lampu spot yang menggunakan reflektor berbentuk elips disebut juga lampu profile atau leko
ERS Axial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang secara horisontal
ERS Radial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang miring 45 derajat
Farce : Seni pertunjukan yang menyerupai dagelan tetapi bukan dagelan yang seperti di Indonesia
Filter : Palstik atau mika berwarna untuk mengubah warna lampu
Flashback : Kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini
Flat Karakter : Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih
Fleksi (flexion) : Membengkokkan suatu sendi untuk mengurangi sudut antara dua bagian badan
Fleksibelitas : Daya lentur suatu objek / tingkat kelenturan suatu objek
Flies : Disebut juga penutup. Bagian atas rumah panggung yang dapat digunakan untuk menggantung set dekor serta menangani peralatan tata cahaya
Floodligth : Jenis lampu yang sinar cahayanya menyebar serta tidak bisa diatur fokusnya
Focal Point : Titik temu (pusat) pendar cahaya
FOH : Front Of House. Bagian depan baris kursi penonton dimana di atasnya terdapat pipa baris lampu
Fokus : (1) Istilah dalam penyutradaraan untuk menonjolkan adegan atau permainan aktor. (2) Istilah tata cahaya untuk area yang disinari cahaya dengan tepat dan jelas
Follow Spot : Jenis lampu spot yang dapat dikendalikan secara manual untuk mengikuti arah gerak pemain
Fore Shadowing : Bayang-bayang yang mendahului sebuah peristiwa yang sesungguhnya itu terjadi
Foyer : Ruang tunggu penonton sebelum pertunjukan dimulai atau saat istirahat
Frequency Respon : Kemampuan dalam menangkap frekuensi pada batas maksimum dan minimum
Fresnel : (1) Lensa yang mukanya bergerigi. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa bergerigi
Gesture : sikap tubuh yang memiliki makna, bisa juga diartikan dengan gerak tubuh sebagai isyarat
Gestus : Aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antar tokoh
Gimmick : Adegan awal dari sebuah lakon yang berfungsi sebagai pemikat minat penonton untuk menyaksikan kelanjutan dari lakon tersebut
Globe : Panggung yang tempat duduk penontonnya berkeliling, digunakan dalam pementasan teater jaman Elizabeth di Inggris
Gobo : Pelat metal yang dicetak membentuk pola atau motif tertentu dan digunakan untuk membuat lukisan sinar cahaya
Groundrow : Lampu flood yang diletakkan di bawah untuk menerangi aktor atau siklorama dari bawah
Imajinasi : Proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran, dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya atau mungkin hanya sedikit yang dialaminya
Improvisasi : Gerakkan dan ucapan yang tidak terencana untuk menghidupkan permainan.
Intonasi : Nada suara (dalam bahasa jawa disebut langgam), irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton.
Insersio : Kearah mana otot itu berjalan atau arah jalannya otot yang bergerak.
Irama : Gelombang naik turun, longgar kencangnya gerakkan atau suara yang berjalan dengan teratur
Iris : Piranti untuk memperbesar atau memperkecil diameter lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu
Jeda : Pemenggalan kalimat dengan maksud untuk memberi tekanan pada kata.
Karakter : Gambaran tokoh peran yang diciptakan oleh penulis lakon melalui keseluruhan ciri-ciri jiwa dan raga seorang peran
Karakter Teatrikal: Karakter tokoh yang tidak wajar, unik, dan lebih bersifat simbolis.
Kolokasi : Asosiasi kata dengan bahasa yang tidak formal, bahasa percakapan sehari-hari pada suatu tempat dan masa tertentu.
Komedi : salah satu jenis lakon yang mengungkapkan cacat dan kelemahan sifat manusia dengan cara yang lucu, sehingga para penonton bisa lebih menghayati kenyataan hidupnya
Komedi Stamboel : Pertunjukan teater yang mendapat pengaruh dari Turki dan sangat populer di Indonesia pada jaman sebelum kemerdekaan
Komunikan : Penerima komunikasi
Komunikator : Penyampai kamunikasi
Konflik : Ketegangan yang muncul dalam lakon akibat adanya karakter yang bertentangan, baik dengan dirinya sendiri maupun yang ada di luar dirinya.
Konotasi : Arti kata yang bukan sebenarnya dan lebih dipengaruhi oleh konteks kata tersebut dalam kalimat.
Konsentrasi : Kesanggupan atau kemampuan yang diperlukan untuk mengerah kan pikiran dan kekuatan batin yang ditujukan ke suatu sasaran tertentu sehingga dapat menguasai diri dengan baik.
Lakon : Penuangan ide cerita penulis menjadi alur cerita yang berisi peristiwa yang saling mengait dan tokoh atau peran yang terlibat, disebut juga naskah cerita
Lakon Satir : Salah satu jenis lakon yang mengemas kebodohan, perlakuan kejam, kelemahan seseorang untuk mengecam, mengejek bahkan menertawakan suatu keadaan dengan maksud membawa sebuah perbaikan
Latar Peristiwa : Peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi
Latar Tempat : Tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi.
Latar Waktu : Waktu yang menjadi latar belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi
Level : (1) Istilah pemeranan dan penyutradraan untuk mengatur tinggi rendah pemain. (2) Isitilah tata suara untuk tingkat ukuran besar kecilnya suara yang terdengar
Lever : Bilah yang dapat dinaikkan dan diturunkan yang terdapat pada control desk
Ligamen : Jaringan ikat yang menghubungkan otot dengan tulang atau pembungkus sendi.
Melodrama : Salah satu jenis lakon yang isinya mengupas suka duka kehidupan dengan cara yang menimbulkan rasa haru kepada penonton
Membran : Selaput atau lapisan tipis yang sangat peka terhadap getaran
Metacarpal : Disebut juga dengan metatarsus atau ossa metatarsalia yaitu tulang pertama dari jari
Mime : Pertunjukan teater yang menitikberatkan pada seni ekspresi wajah pemain
Mimetic/mimesis : Peniruan atau meniru sesuatu yang ada
Mimik : Ekspresi gerak wajah untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain
Mixed : Jenis refleksi cahaya yang hasilnya bercampur antara relfeksi diffuse dan specular
Monolog : Cakapan panjang seorang aktor yang diucapkan di hadapan aktor lain
Noise : Gangguan suara yang tidak diinginkan dalam memproses suara atau rekaman
Observasi : Kegiatan mengamati yang bertujuan menangkap atau merekam hal apa saja yang terjadi dalam kehidupan
Orchestra Pit : Tempat para musisi orkestra bermain
Origio : Tempat otot timbul atau tempat asal otot yang terkuat
Pageant : Panggung kereta abad Pertengahan yang digunakan untuk mementaskan teater secara berkeliling
Panoramic : Kesan suara yang terdengar pada telinga kiri atau telinga kanan
Pantomimik : Ekspresi gerak tubuh untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain
PAR : Parabolic Aluminized Reflector. Lampu yang menggunkan reflektor parabola terangkai dalam satu unit dengan lensanya
Parafrase : Latihan untuk menyatakan kembali arti dialog dengan menggunakan kata-kata kita sendiri, dengan tujuan untuk membuat jelas dialog tersebut
PC : (1) Planno Convex, jenis lensa yang permukaannya halus. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa tunggal baik lensa Planno Convex atau Pebble Convex
Pebble Convex : Jenis lensa yang mukanya halus tapi bagian belakangnya bergerigi
Pemanasan : Serial dari latihan gerakan tubuh dimaksudkan untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara progresif (bertahap).
Pemeran : Seorang seniman yang menciptakan peran yang digariskan oleh penulis naskah, sutradara, dan dirinya sendiri.
Penonton : Orang yang hadir untuk menyaksikan pertunjukan teater
Pernafasan : Peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida
Pita magnetic : Pita plastic yang dilapisi oleh serbuk magnet yang digunakan untuk menyimpan getaran listrik
Planno Convex : Jenis lensa (lih. PC)
Plot : Biasa disebut dengan alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu
Polarity : Kemampuan maksimum dalam menangkap sumber suara
Practical : Lampu sehari-hari atau lampu rumahan yang digunakan di atas panggung
Preset : Pengaturan intensitas cahaya pada control desk disaat lampu dalam keadaan mati (tidak dinyalakan)
Profile : Jenis lampu spot yang dapat ukuran dan bentuk sinarnya dapat disesuaikan
Properti : Benda atau pakaian yang digunakan untuk mendukung dan menguatkan akting pemeran.
Protagonis : Peran utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita
Proscenium : Bentuk panggung berbingkai
Proscenium Arc : Lengkung atau bingkai proscenium
Resonansi : Bergema atau bergaung
Rias Fantasi : Tata rias yang diterapkan untuk menggambarkan sifat atau karakter yang imajinatif
Rias Karakter : Tata rias yang diterapkan untuk menegaskan gambaran karakter tokoh peran
Rias Korektif : Tata rias yang diterapkan untuk memperbaiki kekurangan sehingga pemain nampak cantik
Ritme : Tempo atau cepat lambatnya dialog akibat variasi penekanan kata-kata yang penting.
Round Karakter : Karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya
Scoop : Jenis lampu flood yang menggunakan reflektor ellipsoidal
Sendi : Hubugan yang terbentuk antara dua tulang.
Sendratari : Pertunjukan drama yang di tarikan atau gabungan seni drama dan seni tari
Side Wing : Bagian kanan dan kiri panggung yang tersem bunyi dari penonton, biasanya digunakan para aktor menunggu giliran sesaat sebelum tampil
Skeneri : Dekorasi yang mendukung dan menguatkan suasana permainan
Skenario : Susunan lakon yang diperagakan oleh pemeran
Soliloki : Cakapan panjang aktor yang diucapkan seorang diri dan kepada diri sendiri
Specular :Jenis refleksi yang memantulkan cahaya seperti aslinya (efek cermin)
Snoot : Disebut juga Top Hat, piranti yang digunakan untuk mengurangi tumpahan cahaya
Spherical : Jenis reflektor yang memiliki bentuk setengah lingkaran
Spread : Jensi refleksi cahaya yang mengenai objek dengan intensitas lebih tinggi garis cahayanya akan memendar dan direfleksikan lebih panjang dari yang lain
Stand : Pipa untuk memasang lampu yang dapat berdiri sendiri
Struktur Dramatik : Rangkaian alur cerita yang saling bersinambung dari awal cerita sampai akhir.
Suara Nasal : Suara yang dihasilkan oleh rongga hidung karena udara beresonansi.
Suara Oral : Suara yang dihasilkan oleh mulut
Subtractive Mixing: Pencampuran warna cahaya yang dihasilkan dari dua filter berbeda
Surprise : Peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti.
Sutradara : Orang yang mengatur dan memimpin dalam sebuah permainan.
Teknik Muncul : Suatu teknik seorang pemeran dalam memainkan peran untuk pertama kali memasuki sebuah pentas lakon.
Teknik Timing : Teknik ketepatan waktu antara aksi tubuh dan aksi ucapan atau ketepatan antara gerak tubuh dengan dialog yang diucapkan.
Tema : Ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita.
Tempo : Cepat lambatnya suatu ucapan yang kita lakukan
Thrust : Bentuk panggung yang sepertiga bagiannya menjorok ke depan
Timbre : Warna suara yang memberi kesan pada kata-kata yang kita ucapkan
Tirai Besi : Satu tirai khsusus yang dibuat dari logam untuk memisahkan bagian panggung dan kursi penonton. Digunakan bila terjadi kebakaran di atas panggung, tirai ini diturunkan sehingga api tidak menjalar keluar dan penonton bisa segera dievakuasi.
Tragedi : Salah satu jenis lakon yang meniru sebuah aksi yang sempurna dari seorang tokoh besar dengan menggunakan bahasa yang menyenangkan supaya para penonton merasa belas kasihan dan ngeri sehingga penonton mengalami pencucian jiwa atau mencapai katarsis
Trapezium : Tulang yang ada pada antara pergelangan tangan dan ibu jari tangan
Trap Jungkit : Area permainan atau panggung yang biasanya bisa dibuka dan ditutup untuk keluar-masuk pemain dari bawah panggung.
Wicara : Cara kita berbicara dan cara mengucapkan sebuah dialog dalam naskah lakon
Under : (tata suara) Hasil rekaman suara yang sangat lemah
: kegiatan yang dilakukan atas dasar kesenangan dan bukan untuk
memperoleh nafkah, misalnya orang yang bermain musik, melukis, menari,
bermain tinju, sebagai kesenangan.
ambang
: tingkat
berita
: cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat;
kabar
biografi
: riwayat hidup seseorang yang
ditulis oleh orang lain
bordes
: tangga untuk naik ke pintu kereta api
cerita
: karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan
orang; kejadian dan sebagainya baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun
yang hanya rekaan belaka
degradasi
: kemunduran, kemerosotan, penurunan
devisa
: alat pembayaran luar negeri yang dapat ditukar dengan uang luar negeri
diagram
: gambaran (buram, sketsa) untuk memperlihatkan atau menerangkan sesuatu
dialog
: percakapan
domisili
: tempat tinggal resmi
dongeng
: cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian
zaman dulu yang aneh-aneh)
frustasi
: rasa kecewa akibat kegagalan di dalam mengerjakan sesuatu atau akibat
tidak berhasil dalam mencapai suatu cita-cita
gaplek
: ubi kayu yang telah dikupas dan dikeringkan
hipnotis
: membuat orang berada dalam keadaan seperti tidur karena sugesti
indikator
: sesuatu yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan
inovasi
: penemuan baru yang berbeda
dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan,
metode, atau alat)
kalimat
: satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola
intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa
kamus
: buku yang memuat kumpulan istilah atau nama yang disusun menurut
abjad beserta penjelasan tentang makna dan pemakaiannya
kawah
: bagian puncak gunung berapi yang dilewati bahan letusan berbentuk
lekukan
besar
kinesik
: ilmu tentang pemakaian gerak tubuh, tangan, muka, dan sebagainya
sebagai
bagian dari proses komunikasi
kolumnis
: orang yang secara tetap
menulis artikel di koran atau majalah
komentar
: ulasan atau tanggapan atas berita, pidato (untuk menerangkan atau
menjelaskan)
kompetisi
: persaingan
komunikasi
: pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau
lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; perhubungan
konfigurasi
: bentuk; wujud
konkret
: benar-benar ada
kontribusi
: sumbangan
misi
: tugas yang dirasakan orang sebagai suatu kewajiban untuk melakukannya
demi agama,
ideologi, patriotisme, dan sebagainya
motivasi
: dorongan yang timbul dari diri seseorang secara sadar atau tidak
sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu
natural
: alamiah
objek
: hal, perkara, atau orang yang menjadi pokok pembicaraan
panorama
: pemandangan alam yang bebas dan luas
pantun
: bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait biasanya terdiri atas 4
baris yang bersajak a-b-a-b, tiap larik biasanya terdiri atas 4 kata,
baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan sajak dan baris
ketiga dan keempat merupakan isi
paragraf
: bagian bab dalam suatu karangan (biasanya mengandung satu ide pokok
dan penulisannya dimulai dengan garis baru); alinea
pendapat
: kesimpulan sesudah mempertimbangkan, menyelidiki, dan lain sebagainya
peraga
: alat media pembelajaran untuk memperagakan sajian pembelajaran
pesan
: amanat
prioritas
: yang didahulukan dan diutamakan dari pada yang lain
profesi
: bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian
profil
: ikhtisar yang memberikan fakta tentang hal-hal khusus
register
: buku catatan atau daftar yang disusun secara bersistem dan menurut
abjad
ronde
: babak pada pertandingan tinju
spontan
: serta-merta
stalagtit
: batangan kapur yang terdapat pada langit-langit gua dengan ujung
meruncing ke bawah
sutradara
: orang yang memberi pengarahan
dan bertanggung jawab terhadap atas masalah artistik dan teknis dalam
pementasan drama, pembuatan film
target
: sasaran yang telah ditetapkan untuk dicapai
teoretis
: menurut teori
tiwul
: penganan yang dibuat dari tepung gaplek, diberi gula sedikit,
kemudian dikukus, dapat dimakan bersama kelapa parut yang telah diberi
garam sedikit
transisi
: peralihan dari keadaan
turnamen
: pertandingan yang diikuti oleh
beberapa regu
ultimatum
: peringatan atau tuntutan yang terakhir dengan diberi batas waktu
untuk menjawabnya
Adegan : Bagian dari babak yang menggambarkan satu suasana dari beberapa suasana dalam babak
Additive Mixing : Pencampuran warna pada objek yang disinari dari dua atau lebih lampu yang berbeda
Akting : Tingkah laku yang dilakukan pemain sebagai wujud penghayatan peran yang dimainkan
Aktor : orang yang melakukan akting
Amphiteater : Panggung pertunjukan jaman Yunani Kuno
Amplifikasi : Penguatan energi listrik setelah melalui rangkaian elektronik
Apron : Daerah yang terletak di depan layar atau persis di depan bingkai proscenium
Arena : Salah satu bentuk panggung yang tidak dibatasi oleh konvensi empat dinding imajiner
Artikulasi : Hubungan antara apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakanya, dan dipengaruhi oleh penguasaan organ produksi suara
Aside : Dialog menyamping, atau suara hati dan pikiran tokoh
Atmosfir : Isitlah teater untuk menyebutkan suasana atau kondisi lingkungan
Audibility : Segala sesuatu yang berkaitan dengan pendengaran
Auditorium : Ruang tempat duduk penonton dalam panggung proscenium
Backdrop : Layar paling belakang. Kain yang dapat digulung atau diturun-naikkan dan membentuk latar belakang panggung
Bahasa tubuh : Bahasa yang ditimbulkan oleh isyarat-isyarat dan ekspresi tubuh
Bar : Pipa bisa yang digunakan sebagai baris untuk pemasangan lampu
Barndoor : Sirip empat sisi yang diletakkan pada lampu dan digunakan untuk mebatasi lebar sinar cahaya
Batten : (1) Lampu flood yang dirangkai dalam satu kompartemen (wadah). (2) Perlengkapan panggung yang dapat digunakan untuk mengaitkan sesuatu dan dapat dipindahpindahkan
Beats : Satu kesatuan arti terkecil dari dialog
Belly to Belly : Dua lensa yang dipasang berhadapan dalam sebuah lampu dan jaraknya bisa diatur
Bifocal : Lampu Bifocal adalah lampu profile standar yang ditambahi dengan shutter tambahan
Blocking : Gerak dan perpindahan pemain dari satu area ke area lain di panggung
Boom : Baris lampu yang dipasang secara vertikal
Border : Pembatas yang terbuat dari kain. Dapat dinaikkan dan diturunkan. Fungsinya untuk memberikan batasan area permainan yang digunakan
Bracket : Pengait untuk memasang lampu pada boom. Disebut pula sebagai boom arm
Catwalk : Permukaan, papan atau jembatan yang dibuat di atas panggung yang dapat menghubungkan sisi satu ke sisi lain
Clamp : Klem atau pengait untuk memasang lampu pada bar, disebut juga sebagai C-clamp atau Hook Clamp
Control Balance : Pengaturan tingkat kekerasan suatu sumber suara terhadap sumber suara yang lain
Control Desk : Disebut juga Remote Control, alat untuk mengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya dari jarak jauh
Cyc Light : Lampu flood yang dikhususkan untuk menerangi layar belakang (siklorama)
Denotasi : Arti yang sebenarnya sesuai dengan arti yang terdapat dalam kamus
Dialog : Percakapan para pemain.
Diafragma : Sekat yang memisahkan antara rongga dada dan rongga perut
Diffuse : Jenis refleksi cahaya yang memiliki pantulan merata serta panjang sinarnya sama
Diftong : Kombinasi dua huruf vokal dan diucapkan bersamaan
Diksi : Latihan mengeja kata dengan suara keras dan jelas
Dimmer : Alat pengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya
Distorsi : Hasil rekaman suara melebihi standar batas maksimal yang ditentukan
Donut : Pelat metal yang digunakan untuk meningkatkan ketajaman lingkar sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu spot
Drama : Salah satu jenis lakon serius dan berisi kisah kehidupan manusia yang memiliki konflik yang rumit dan penuh daya emosi tetapi tidak mengagungkan sifat tragedi
Dramatic Irony : Aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu, dimana tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri
Ekstensi : Menambah besarnya sudut antara dua bagian badan
Eksposisi : Penggambaran awal dari sebuah lakon, berisi tentang perkenalan karakter, dan masalah yang akan digulirkan
Elastisitas : Tingkat kekenyalan suatu objek sehingga dengan mudah bisa diterapkan atau digunakan
Ellipsoidal : Jenis reflektor yang memiliki bentuk elips
Emosi : Proses fisik dan psikis yang kompleks yang bisa muncul secara tiba-tiba dan spontan atau diluar kesadaran
Ephemeral : Sifat pertunjukan yang bermula pada suatu malam dan berakhir pada malam yang sama
ERS : Elliposoidal Reflector Spotlight. Lampu spot yang menggunakan reflektor berbentuk elips disebut juga lampu profile atau leko
ERS Axial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang secara horisontal
ERS Radial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang miring 45 derajat
Farce : Seni pertunjukan yang menyerupai dagelan tetapi bukan dagelan yang seperti di Indonesia
Filter : Palstik atau mika berwarna untuk mengubah warna lampu
Flashback : Kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini
Flat Karakter : Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih
Fleksi (flexion) : Membengkokkan suatu sendi untuk mengurangi sudut antara dua bagian badan
Fleksibelitas : Daya lentur suatu objek / tingkat kelenturan suatu objek
Flies : Disebut juga penutup. Bagian atas rumah panggung yang dapat digunakan untuk menggantung set dekor serta menangani peralatan tata cahaya
Floodligth : Jenis lampu yang sinar cahayanya menyebar serta tidak bisa diatur fokusnya
Focal Point : Titik temu (pusat) pendar cahaya
FOH : Front Of House. Bagian depan baris kursi penonton dimana di atasnya terdapat pipa baris lampu
Fokus : (1) Istilah dalam penyutradaraan untuk menonjolkan adegan atau permainan aktor. (2) Istilah tata cahaya untuk area yang disinari cahaya dengan tepat dan jelas
Follow Spot : Jenis lampu spot yang dapat dikendalikan secara manual untuk mengikuti arah gerak pemain
Fore Shadowing : Bayang-bayang yang mendahului sebuah peristiwa yang sesungguhnya itu terjadi
Foyer : Ruang tunggu penonton sebelum pertunjukan dimulai atau saat istirahat
Frequency Respon : Kemampuan dalam menangkap frekuensi pada batas maksimum dan minimum
Fresnel : (1) Lensa yang mukanya bergerigi. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa bergerigi
Gesture : sikap tubuh yang memiliki makna, bisa juga diartikan dengan gerak tubuh sebagai isyarat
Gestus : Aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antar tokoh
Gimmick : Adegan awal dari sebuah lakon yang berfungsi sebagai pemikat minat penonton untuk menyaksikan kelanjutan dari lakon tersebut
Globe : Panggung yang tempat duduk penontonnya berkeliling, digunakan dalam pementasan teater jaman Elizabeth di Inggris
Gobo : Pelat metal yang dicetak membentuk pola atau motif tertentu dan digunakan untuk membuat lukisan sinar cahaya
Groundrow : Lampu flood yang diletakkan di bawah untuk menerangi aktor atau siklorama dari bawah
Imajinasi : Proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran, dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya atau mungkin hanya sedikit yang dialaminya
Improvisasi : Gerakkan dan ucapan yang tidak terencana untuk menghidupkan permainan.
Intonasi : Nada suara (dalam bahasa jawa disebut langgam), irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton.
Insersio : Kearah mana otot itu berjalan atau arah jalannya otot yang bergerak.
Irama : Gelombang naik turun, longgar kencangnya gerakkan atau suara yang berjalan dengan teratur
Iris : Piranti untuk memperbesar atau memperkecil diameter lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu
Jeda : Pemenggalan kalimat dengan maksud untuk memberi tekanan pada kata.
Karakter : Gambaran tokoh peran yang diciptakan oleh penulis lakon melalui keseluruhan ciri-ciri jiwa dan raga seorang peran
Karakter Teatrikal: Karakter tokoh yang tidak wajar, unik, dan lebih bersifat simbolis.
Kolokasi : Asosiasi kata dengan bahasa yang tidak formal, bahasa percakapan sehari-hari pada suatu tempat dan masa tertentu.
Komedi : salah satu jenis lakon yang mengungkapkan cacat dan kelemahan sifat manusia dengan cara yang lucu, sehingga para penonton bisa lebih menghayati kenyataan hidupnya
Komedi Stamboel : Pertunjukan teater yang mendapat pengaruh dari Turki dan sangat populer di Indonesia pada jaman sebelum kemerdekaan
Komunikan : Penerima komunikasi
Komunikator : Penyampai kamunikasi
Konflik : Ketegangan yang muncul dalam lakon akibat adanya karakter yang bertentangan, baik dengan dirinya sendiri maupun yang ada di luar dirinya.
Konotasi : Arti kata yang bukan sebenarnya dan lebih dipengaruhi oleh konteks kata tersebut dalam kalimat.
Konsentrasi : Kesanggupan atau kemampuan yang diperlukan untuk mengerah kan pikiran dan kekuatan batin yang ditujukan ke suatu sasaran tertentu sehingga dapat menguasai diri dengan baik.
Lakon : Penuangan ide cerita penulis menjadi alur cerita yang berisi peristiwa yang saling mengait dan tokoh atau peran yang terlibat, disebut juga naskah cerita
Lakon Satir : Salah satu jenis lakon yang mengemas kebodohan, perlakuan kejam, kelemahan seseorang untuk mengecam, mengejek bahkan menertawakan suatu keadaan dengan maksud membawa sebuah perbaikan
Latar Peristiwa : Peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi
Latar Tempat : Tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi.
Latar Waktu : Waktu yang menjadi latar belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi
Level : (1) Istilah pemeranan dan penyutradraan untuk mengatur tinggi rendah pemain. (2) Isitilah tata suara untuk tingkat ukuran besar kecilnya suara yang terdengar
Lever : Bilah yang dapat dinaikkan dan diturunkan yang terdapat pada control desk
Ligamen : Jaringan ikat yang menghubungkan otot dengan tulang atau pembungkus sendi.
Melodrama : Salah satu jenis lakon yang isinya mengupas suka duka kehidupan dengan cara yang menimbulkan rasa haru kepada penonton
Membran : Selaput atau lapisan tipis yang sangat peka terhadap getaran
Metacarpal : Disebut juga dengan metatarsus atau ossa metatarsalia yaitu tulang pertama dari jari
Mime : Pertunjukan teater yang menitikberatkan pada seni ekspresi wajah pemain
Mimetic/mimesis : Peniruan atau meniru sesuatu yang ada
Mimik : Ekspresi gerak wajah untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain
Mixed : Jenis refleksi cahaya yang hasilnya bercampur antara relfeksi diffuse dan specular
Monolog : Cakapan panjang seorang aktor yang diucapkan di hadapan aktor lain
Noise : Gangguan suara yang tidak diinginkan dalam memproses suara atau rekaman
Observasi : Kegiatan mengamati yang bertujuan menangkap atau merekam hal apa saja yang terjadi dalam kehidupan
Orchestra Pit : Tempat para musisi orkestra bermain
Origio : Tempat otot timbul atau tempat asal otot yang terkuat
Pageant : Panggung kereta abad Pertengahan yang digunakan untuk mementaskan teater secara berkeliling
Panoramic : Kesan suara yang terdengar pada telinga kiri atau telinga kanan
Pantomimik : Ekspresi gerak tubuh untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain
PAR : Parabolic Aluminized Reflector. Lampu yang menggunkan reflektor parabola terangkai dalam satu unit dengan lensanya
Parafrase : Latihan untuk menyatakan kembali arti dialog dengan menggunakan kata-kata kita sendiri, dengan tujuan untuk membuat jelas dialog tersebut
PC : (1) Planno Convex, jenis lensa yang permukaannya halus. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa tunggal baik lensa Planno Convex atau Pebble Convex
Pebble Convex : Jenis lensa yang mukanya halus tapi bagian belakangnya bergerigi
Pemanasan : Serial dari latihan gerakan tubuh dimaksudkan untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara progresif (bertahap).
Pemeran : Seorang seniman yang menciptakan peran yang digariskan oleh penulis naskah, sutradara, dan dirinya sendiri.
Penonton : Orang yang hadir untuk menyaksikan pertunjukan teater
Pernafasan : Peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida
Pita magnetic : Pita plastic yang dilapisi oleh serbuk magnet yang digunakan untuk menyimpan getaran listrik
Planno Convex : Jenis lensa (lih. PC)
Plot : Biasa disebut dengan alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu
Polarity : Kemampuan maksimum dalam menangkap sumber suara
Practical : Lampu sehari-hari atau lampu rumahan yang digunakan di atas panggung
Preset : Pengaturan intensitas cahaya pada control desk disaat lampu dalam keadaan mati (tidak dinyalakan)
Profile : Jenis lampu spot yang dapat ukuran dan bentuk sinarnya dapat disesuaikan
Properti : Benda atau pakaian yang digunakan untuk mendukung dan menguatkan akting pemeran.
Protagonis : Peran utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita
Proscenium : Bentuk panggung berbingkai
Proscenium Arc : Lengkung atau bingkai proscenium
Resonansi : Bergema atau bergaung
Rias Fantasi : Tata rias yang diterapkan untuk menggambarkan sifat atau karakter yang imajinatif
Rias Karakter : Tata rias yang diterapkan untuk menegaskan gambaran karakter tokoh peran
Rias Korektif : Tata rias yang diterapkan untuk memperbaiki kekurangan sehingga pemain nampak cantik
Ritme : Tempo atau cepat lambatnya dialog akibat variasi penekanan kata-kata yang penting.
Round Karakter : Karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya
Scoop : Jenis lampu flood yang menggunakan reflektor ellipsoidal
Sendi : Hubugan yang terbentuk antara dua tulang.
Sendratari : Pertunjukan drama yang di tarikan atau gabungan seni drama dan seni tari
Side Wing : Bagian kanan dan kiri panggung yang tersem bunyi dari penonton, biasanya digunakan para aktor menunggu giliran sesaat sebelum tampil
Skeneri : Dekorasi yang mendukung dan menguatkan suasana permainan
Skenario : Susunan lakon yang diperagakan oleh pemeran
Soliloki : Cakapan panjang aktor yang diucapkan seorang diri dan kepada diri sendiri
Specular :Jenis refleksi yang memantulkan cahaya seperti aslinya (efek cermin)
Snoot : Disebut juga Top Hat, piranti yang digunakan untuk mengurangi tumpahan cahaya
Spherical : Jenis reflektor yang memiliki bentuk setengah lingkaran
Spread : Jensi refleksi cahaya yang mengenai objek dengan intensitas lebih tinggi garis cahayanya akan memendar dan direfleksikan lebih panjang dari yang lain
Stand : Pipa untuk memasang lampu yang dapat berdiri sendiri
Struktur Dramatik : Rangkaian alur cerita yang saling bersinambung dari awal cerita sampai akhir.
Suara Nasal : Suara yang dihasilkan oleh rongga hidung karena udara beresonansi.
Suara Oral : Suara yang dihasilkan oleh mulut
Subtractive Mixing: Pencampuran warna cahaya yang dihasilkan dari dua filter berbeda
Surprise : Peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti.
Sutradara : Orang yang mengatur dan memimpin dalam sebuah permainan.
Teknik Muncul : Suatu teknik seorang pemeran dalam memainkan peran untuk pertama kali memasuki sebuah pentas lakon.
Teknik Timing : Teknik ketepatan waktu antara aksi tubuh dan aksi ucapan atau ketepatan antara gerak tubuh dengan dialog yang diucapkan.
Tema : Ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita.
Tempo : Cepat lambatnya suatu ucapan yang kita lakukan
Thrust : Bentuk panggung yang sepertiga bagiannya menjorok ke depan
Timbre : Warna suara yang memberi kesan pada kata-kata yang kita ucapkan
Tirai Besi : Satu tirai khsusus yang dibuat dari logam untuk memisahkan bagian panggung dan kursi penonton. Digunakan bila terjadi kebakaran di atas panggung, tirai ini diturunkan sehingga api tidak menjalar keluar dan penonton bisa segera dievakuasi.
Tragedi : Salah satu jenis lakon yang meniru sebuah aksi yang sempurna dari seorang tokoh besar dengan menggunakan bahasa yang menyenangkan supaya para penonton merasa belas kasihan dan ngeri sehingga penonton mengalami pencucian jiwa atau mencapai katarsis
Trapezium : Tulang yang ada pada antara pergelangan tangan dan ibu jari tangan
Trap Jungkit : Area permainan atau panggung yang biasanya bisa dibuka dan ditutup untuk keluar-masuk pemain dari bawah panggung.
Wicara : Cara kita berbicara dan cara mengucapkan sebuah dialog dalam naskah lakon
Under : (tata suara) Hasil rekaman suara yang sangat lemah
Syair Perahu
Syair Perahu "Hamzah Fansuri"
Inilah gerangan suatu madah
mengarangkan syair terlalu indah,
membetuli jalan tempat berpindah,
di sanalah i’tikat diperbetuli sudah
Wahai muda kenali dirimu,
ialah perahu tamsil tubuhmu,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat jua kekal diammu.
Hai muda arif-budiman,
hasilkan kemudi dengan pedoman,
alat perahumu jua kerjakan,
itulah jalan membetuli insan.
Perteguh jua alat perahumu,
hasilkan bekal air dan kayu,
dayung pengayuh taruh di situ,
supaya laju perahumu itu
Sudahlah hasil kayu dan ayar,
angkatlah pula sauh dan layar,
pada beras bekal jantanlah taksir,
niscaya sempurna jalan yang kabir.
Perteguh jua alat perahumu,
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.
Muaranya dalam, ikanpun banyak,
di sanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti tombak
ke atas pasir kamu tersesak.
Ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang
ikanpun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang.
Muaranya itu terlalu sempit,
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit,
sempurnalah jalan terlalu ba’id.
Baiklah perahu engkau perteguh,
hasilkan pendapat dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh,
pulaunya jauh tempat berlabuh.
Lengkapkan pendarat dan tali sauh,
derasmu banyak bertemu musuh,
selebu rencam ombaknya cabuh,
La ilaha illallahu akan tali yang teguh.
Barang siapa bergantung di situ,
teduhlah selebu yang rencam itu
pedoman betuli perahumu laju,
selamat engkau ke pulau itu.
La ilaha illallahu jua yang engkau ikut,
di laut keras dan topan ribut,
hiu dan paus di belakang menurut,
pertetaplah kemudi jangan terkejut.
Laut Silan terlalu dalam,
di sanalah perahu rusak dan karam,
sungguhpun banyak di sana menyelam,
larang mendapat permata nilam.
Laut Silan wahid al kahhar,
riaknya rencam ombaknya besar,
anginnya songsongan membelok sengkar
perbaik kemudi jangan berkisar.
Itulah laut yang maha indah,
ke sanalah kita semuanya berpindah,
hasilkan bekal kayu dan juadah
selamatlah engkau sempurna musyahadah.
Silan itu ombaknya kisah,
banyaklah akan ke sana berpindah,
topan dan ribut terlalu ‘azamah,
perbetuli pedoman jangan berubah.
Laut Kulzum terlalu dalam,
ombaknya muhit pada sekalian alam
banyaklah di sana rusak dan karam,
perbaiki na’am, siang dan malam.
Ingati sungguh siang dan malam,
lautnya deras bertambah dalam,
anginpun keras, ombaknya rencam,
ingati perahu jangan tenggelam.
Jikalau engkau ingati sungguh,
angin yang keras menjadi teduh
tambahan selalu tetap yang cabuh
selamat engkau ke pulau itu berlabuh.
Sampailah ahad dengan masanya,
datanglah angin dengan paksanya,
belajar perahu sidang budimannya,
berlayar itu dengan kelengkapannya.
Wujud Allah nama perahunya,
ilmu Allah akan [dayungnya]
iman Allah nama kemudinya,
“yakin akan Allah” nama pawangnya.
“Taharat dan istinja’” nama lantainya,
“kufur dan masiat” air ruangnya,
tawakkul akan Allah jurubatunya
tauhid itu akan sauhnya.
Salat akan nabi tali bubutannya,
istigfar Allah akan layarnya,
“Allahu Akbar” nama anginnya,
subhan Allah akan lajunya.
“Wallahu a’lam” nama rantaunya,
“iradat Allah” nama bandarnya,
“kudrat Allah” nama labuhannya,
“surga jannat an naim nama negerinya.
Karangan ini suatu madah,
mengarangkan syair tempat berpindah,
di dalam dunia janganlah tam’ah,
di dalam kubur berkhalwat sudah.
Kenali dirimu di dalam kubur,
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan bertutur?
di balik papan badan terhancur.
Di dalam dunia banyaklah mamang,
ke akhirat jua tempatmu pulang,
janganlah disusahi emas dan uang,
itulah membawa badan terbuang.
Tuntuti ilmu jangan kepalang,
di dalam kubur terbaring seorang,
Munkar wa Nakir ke sana datang,
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang.
Tongkatnya lekat tiada terhisab,
badanmu remuk siksa dan azab,
akalmu itu hilang dan lenyap,
(baris ini tidak terbaca)
Munkar wa Nakir bukan kepalang,
suaranya merdu bertambah garang,
tongkatnya besar terlalu panjang,
cabuknya banyak tiada terbilang.
Kenali dirimu, hai anak dagang!
di balik papan tidur telentang,
kelam dan dingin bukan kepalang,
dengan siapa lawan berbincang?
La ilaha illallahu itulah firman,
Tuhan itulah pergantungan alam sekalian,
iman tersurat pada hati insap,
siang dan malam jangan dilalaikan.
La ilaha illallahu itu terlalu nyata,
tauhid ma’rifat semata-mata,
memandang yang gaib semuanya rata,
lenyapkan ke sana sekalian kita.
La ilaha illallahu itu janganlah kaupermudah-mudah,
sekalian makhluk ke sana berpindah,
da’im dan ka’im jangan berubah,
khalak di sana dengan La ilaha illallahu.
La ilaha illallahu itu jangan kaulalaikan,
siang dan malam jangan kau sunyikan,
selama hidup juga engkau pakaikan,
Allah dan rasul juga yang menyampaikan.
La ilaha illallahu itu kata yang teguh,
memadamkan cahaya sekalian rusuh,
jin dan syaitan sekalian musuh,
hendak membawa dia bersungguh-sungguh.
La ilaha illallahu itu kesudahan kata,
tauhid ma’rifat semata-mata.
hapuskan hendak sekalian perkara,
hamba dan Tuhan tiada berbeda.
La ilaha illallahu itu tempat mengintai,
medan yang kadim tempat berdamai,
wujud Allah terlalu bitai,
siang dan malam jangan bercerai.
La ilaha illallahu itu tempat musyahadah,
menyatakan tauhid jangan berubah,
sempurnalah jalan iman yang mudah,
pertemuan Tuhan terlalu susah.
Catatan Tentang Hamzah Fansuri:
Prof Dr. Naguib Alatas dalam bukunya “The Mysticcism of Hamzah Fansuri” mengatakan bahwa Hamzah Fansuri adalah Pujangga Melayu terbesar dalam abad XVII, penyair Sufi yang tidak ada taranya pada zaman itu. Hamzah Fansuri adalah “Jalaluddin Rumi”-nya kepulauan Nusantara. Bahkan, menurut Naguib, Hamzah Fansuri adalah pencipta bentuk pantun pertama dalam bahasa Melayu.
Hamzah Fansuri, masih menurut Al-Attas, punya jasa besar dalam memajukan bahasa Melayu. Pengaruhnya luar biasa di kalangan cendikiawan Melayu. Bahasa Melayu sebagai linguafranka yang dijadikan bahasa nasional Indonesia, sebenarnya dipelopori pujangga Melayu seperti Hamzah Fansuri. Setidaknya unsure serapan yang kini digunakan. Hal ini karena pengetahuannya yang luas dalam bahasa Arab dan Persia. Dengan sendirinya, ia pun membawa pula pembaharuan di bidang logika atau ilmu mantiq.
Menurut sejarah, pada masa Sulthan Alaiddin Riayat Syah Saidil Mukammil (1589 - 1604 M), terdapat dua orang ulama keturunan Syekh Al Fansuri mendirikan dua Pusat Pendidikan Islam di pantai barat Tanah Kerajaan Aceh Darussalam, wilayah Singkil.
Ali Al Fansuri mendirikan Dayah Lipat Kajang di Simpang Kanan. Adapun adiknya, Hamzah, mendirikan Dayah Oboh di Simpang Kiri Rundeng pada tahun 1592 M. Syekh Ali H Fansuri dikurniai seorang putera dan diberi nama Abdurrauf. Ulama inilah yang kemudian menjadi seorang Ulama Besar yaitu Syekh Abdurrauf Alfansuri Asshingkili atau Teungku Syiahkuala yang kuburannya terdapat di Kecamatan Syiah Kuala saat ini.
Mengenai kelahiran Syeikh Hamzah Fansuri sampai sekarang masih merupakan teka-teki. Demikian juga tahun kapan ia meninggal tak diketahui secara pasti. Namun beliau menjadi ulama yang sangat berpengaruh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Tuduhan Nuruddin Arraniri bahwa Hamzah Fansuri telah menempuh jalan yang sesat (zindiq), ternyata keliru. Dalam sajak-sajaknya sendiri Hamzah Fansuri malah mengecam para sufi palsu atau pengikut-pengikutnya yang telah menyelewengkan ajaran tasawuf yang sebenarnya. Kata Hamzah :
//Segala muda dan sopan/ Segala tuan berhuban/ Uzlatnya berbulan-bulan/ Mencari Tuhan ke dalam hutan/ Segala menjadi “sufi”/ Segala menjadi “shawqi” (=pencinta kepayang)/ Segala menjadi Ruhi (roh)/ Gusar dan masam di atas bumi (menolak dunia)//
Sebagaimana lazimnya “Penyair Sufi”, maka sajak-sajak Hamzah Fansuri penuh dengan rindu-dendam; rindu kepada Mahbubnya, Kekasihnya, Khaliqnya, Allah Yang Maha Esa. Karena itulah, maka “Karya Tulis” Hamzah Fansuri sukar dimengerti dan dipahami oleh orang yang tidak banyak membaca dan mendalami buah pikiran dan filsafat Ulama Tasauwuf/Penyair Sufi. Mungkin termasuk Ar-raniry tak mampu menjangkau Hamzah. Inilah kunci kenapa pemikiran tasawwuf sulit dipahami jika seseorang tidak mengalami pengalaman spiritual.
Karya Hamzah yang terkenal, antara lain pertama, Asraarul Arifiin Fi Bayani Ilmis Suluk wat-Tauhid, yang membahas masalah-masalah ilmu tauhid dan ilmu thariqat. Kedua, Syaraabul Asyiqin, yang membicarakan masalah-masalah thariqat, syariat, haqiqat dan makrifat. Ketiga, Al Muntahi, yang membicarakan masalah-masalah tasauwuf. Keempat, Rubah Hamzah Fansuri, syair sufi yang penuh butir-butir filsafat. Kelima, Syair Burung Unggas, juga sajak sufi yang dalam maksudnya.
Menurut Hamzah Fansuri, bahwa manusia yang telah menjadi “Insan Kamil” tidak ada lagi pembatas antara dia dan Mahbubnya. Ini pemikiran yang juga pernah berkembang di dalam Islam yaitu Mansur al-Hallaj, Ibn ‘Arabi, dan di Indonesia juga pernah digulirkan oleh Syeikh Siti Jenar. Pada akhir pemerintahan Sulthan Iskandar Muda Meukuta meninggal 27 Desember 1636 M. Syekh Hamzah Fansuri tokoh agung nusantara, ulama sangat dikenal di Asia Tenggara ini, walaupun di negerinya sendiri dilupakan, wafat di Singkil, dekat kota kecil Rundeng. Beliau dimakamkan di Kampung Oboh Simpang Kiri Rundeng di Hulu Sungai Singkel Makamnya sangat dimuliakan.
Inilah sepenggal seorang maestro peradaban, ulama Aceh pengawal rantau asia yang telah menjadi milik dunia, namun tercecer dari catatan sejarah bangsa ini akibat hegemoni politik dan fitnah. Masih banyak misteri kehidupan Hamzah Fansuri yang belum terkuak, terutama kampong halamannya dan bagaimana akhir kehidupannya. Padahal pengaruh pemikirannya sedikit banyak telah mewarnai pemikiran keislaman di Nusantara. Akhirnya, saya berharap semangat intelektual Hamzah Fansuri ini perlu dibangkitkan dan dijadikan sebagai sebuah simbol kemegahan dunia Aceh. Karena Hamzah bagaimanapun adalah seorang pujangga yang tidak ada tandingannya.
Sumber: Catatan M Adli Abdullah, yang dipublikasikan melalui serambinews.com
(http://www.serambinews.com/news/view/25118/hamzah-fansuri-pemantik-peradaban-aceh)
Inilah gerangan suatu madah
mengarangkan syair terlalu indah,
membetuli jalan tempat berpindah,
di sanalah i’tikat diperbetuli sudah
Wahai muda kenali dirimu,
ialah perahu tamsil tubuhmu,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat jua kekal diammu.
Hai muda arif-budiman,
hasilkan kemudi dengan pedoman,
alat perahumu jua kerjakan,
itulah jalan membetuli insan.
Perteguh jua alat perahumu,
hasilkan bekal air dan kayu,
dayung pengayuh taruh di situ,
supaya laju perahumu itu
Sudahlah hasil kayu dan ayar,
angkatlah pula sauh dan layar,
pada beras bekal jantanlah taksir,
niscaya sempurna jalan yang kabir.
Perteguh jua alat perahumu,
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.
Muaranya dalam, ikanpun banyak,
di sanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti tombak
ke atas pasir kamu tersesak.
Ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang
ikanpun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang.
Muaranya itu terlalu sempit,
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit,
sempurnalah jalan terlalu ba’id.
Baiklah perahu engkau perteguh,
hasilkan pendapat dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh,
pulaunya jauh tempat berlabuh.
Lengkapkan pendarat dan tali sauh,
derasmu banyak bertemu musuh,
selebu rencam ombaknya cabuh,
La ilaha illallahu akan tali yang teguh.
Barang siapa bergantung di situ,
teduhlah selebu yang rencam itu
pedoman betuli perahumu laju,
selamat engkau ke pulau itu.
La ilaha illallahu jua yang engkau ikut,
di laut keras dan topan ribut,
hiu dan paus di belakang menurut,
pertetaplah kemudi jangan terkejut.
Laut Silan terlalu dalam,
di sanalah perahu rusak dan karam,
sungguhpun banyak di sana menyelam,
larang mendapat permata nilam.
Laut Silan wahid al kahhar,
riaknya rencam ombaknya besar,
anginnya songsongan membelok sengkar
perbaik kemudi jangan berkisar.
Itulah laut yang maha indah,
ke sanalah kita semuanya berpindah,
hasilkan bekal kayu dan juadah
selamatlah engkau sempurna musyahadah.
Silan itu ombaknya kisah,
banyaklah akan ke sana berpindah,
topan dan ribut terlalu ‘azamah,
perbetuli pedoman jangan berubah.
Laut Kulzum terlalu dalam,
ombaknya muhit pada sekalian alam
banyaklah di sana rusak dan karam,
perbaiki na’am, siang dan malam.
Ingati sungguh siang dan malam,
lautnya deras bertambah dalam,
anginpun keras, ombaknya rencam,
ingati perahu jangan tenggelam.
Jikalau engkau ingati sungguh,
angin yang keras menjadi teduh
tambahan selalu tetap yang cabuh
selamat engkau ke pulau itu berlabuh.
Sampailah ahad dengan masanya,
datanglah angin dengan paksanya,
belajar perahu sidang budimannya,
berlayar itu dengan kelengkapannya.
Wujud Allah nama perahunya,
ilmu Allah akan [dayungnya]
iman Allah nama kemudinya,
“yakin akan Allah” nama pawangnya.
“Taharat dan istinja’” nama lantainya,
“kufur dan masiat” air ruangnya,
tawakkul akan Allah jurubatunya
tauhid itu akan sauhnya.
Salat akan nabi tali bubutannya,
istigfar Allah akan layarnya,
“Allahu Akbar” nama anginnya,
subhan Allah akan lajunya.
“Wallahu a’lam” nama rantaunya,
“iradat Allah” nama bandarnya,
“kudrat Allah” nama labuhannya,
“surga jannat an naim nama negerinya.
Karangan ini suatu madah,
mengarangkan syair tempat berpindah,
di dalam dunia janganlah tam’ah,
di dalam kubur berkhalwat sudah.
Kenali dirimu di dalam kubur,
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan bertutur?
di balik papan badan terhancur.
Di dalam dunia banyaklah mamang,
ke akhirat jua tempatmu pulang,
janganlah disusahi emas dan uang,
itulah membawa badan terbuang.
Tuntuti ilmu jangan kepalang,
di dalam kubur terbaring seorang,
Munkar wa Nakir ke sana datang,
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang.
Tongkatnya lekat tiada terhisab,
badanmu remuk siksa dan azab,
akalmu itu hilang dan lenyap,
(baris ini tidak terbaca)
Munkar wa Nakir bukan kepalang,
suaranya merdu bertambah garang,
tongkatnya besar terlalu panjang,
cabuknya banyak tiada terbilang.
Kenali dirimu, hai anak dagang!
di balik papan tidur telentang,
kelam dan dingin bukan kepalang,
dengan siapa lawan berbincang?
La ilaha illallahu itulah firman,
Tuhan itulah pergantungan alam sekalian,
iman tersurat pada hati insap,
siang dan malam jangan dilalaikan.
La ilaha illallahu itu terlalu nyata,
tauhid ma’rifat semata-mata,
memandang yang gaib semuanya rata,
lenyapkan ke sana sekalian kita.
La ilaha illallahu itu janganlah kaupermudah-mudah,
sekalian makhluk ke sana berpindah,
da’im dan ka’im jangan berubah,
khalak di sana dengan La ilaha illallahu.
La ilaha illallahu itu jangan kaulalaikan,
siang dan malam jangan kau sunyikan,
selama hidup juga engkau pakaikan,
Allah dan rasul juga yang menyampaikan.
La ilaha illallahu itu kata yang teguh,
memadamkan cahaya sekalian rusuh,
jin dan syaitan sekalian musuh,
hendak membawa dia bersungguh-sungguh.
La ilaha illallahu itu kesudahan kata,
tauhid ma’rifat semata-mata.
hapuskan hendak sekalian perkara,
hamba dan Tuhan tiada berbeda.
La ilaha illallahu itu tempat mengintai,
medan yang kadim tempat berdamai,
wujud Allah terlalu bitai,
siang dan malam jangan bercerai.
La ilaha illallahu itu tempat musyahadah,
menyatakan tauhid jangan berubah,
sempurnalah jalan iman yang mudah,
pertemuan Tuhan terlalu susah.
Catatan Tentang Hamzah Fansuri:
Prof Dr. Naguib Alatas dalam bukunya “The Mysticcism of Hamzah Fansuri” mengatakan bahwa Hamzah Fansuri adalah Pujangga Melayu terbesar dalam abad XVII, penyair Sufi yang tidak ada taranya pada zaman itu. Hamzah Fansuri adalah “Jalaluddin Rumi”-nya kepulauan Nusantara. Bahkan, menurut Naguib, Hamzah Fansuri adalah pencipta bentuk pantun pertama dalam bahasa Melayu.
Hamzah Fansuri, masih menurut Al-Attas, punya jasa besar dalam memajukan bahasa Melayu. Pengaruhnya luar biasa di kalangan cendikiawan Melayu. Bahasa Melayu sebagai linguafranka yang dijadikan bahasa nasional Indonesia, sebenarnya dipelopori pujangga Melayu seperti Hamzah Fansuri. Setidaknya unsure serapan yang kini digunakan. Hal ini karena pengetahuannya yang luas dalam bahasa Arab dan Persia. Dengan sendirinya, ia pun membawa pula pembaharuan di bidang logika atau ilmu mantiq.
Menurut sejarah, pada masa Sulthan Alaiddin Riayat Syah Saidil Mukammil (1589 - 1604 M), terdapat dua orang ulama keturunan Syekh Al Fansuri mendirikan dua Pusat Pendidikan Islam di pantai barat Tanah Kerajaan Aceh Darussalam, wilayah Singkil.
Ali Al Fansuri mendirikan Dayah Lipat Kajang di Simpang Kanan. Adapun adiknya, Hamzah, mendirikan Dayah Oboh di Simpang Kiri Rundeng pada tahun 1592 M. Syekh Ali H Fansuri dikurniai seorang putera dan diberi nama Abdurrauf. Ulama inilah yang kemudian menjadi seorang Ulama Besar yaitu Syekh Abdurrauf Alfansuri Asshingkili atau Teungku Syiahkuala yang kuburannya terdapat di Kecamatan Syiah Kuala saat ini.
Mengenai kelahiran Syeikh Hamzah Fansuri sampai sekarang masih merupakan teka-teki. Demikian juga tahun kapan ia meninggal tak diketahui secara pasti. Namun beliau menjadi ulama yang sangat berpengaruh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Tuduhan Nuruddin Arraniri bahwa Hamzah Fansuri telah menempuh jalan yang sesat (zindiq), ternyata keliru. Dalam sajak-sajaknya sendiri Hamzah Fansuri malah mengecam para sufi palsu atau pengikut-pengikutnya yang telah menyelewengkan ajaran tasawuf yang sebenarnya. Kata Hamzah :
//Segala muda dan sopan/ Segala tuan berhuban/ Uzlatnya berbulan-bulan/ Mencari Tuhan ke dalam hutan/ Segala menjadi “sufi”/ Segala menjadi “shawqi” (=pencinta kepayang)/ Segala menjadi Ruhi (roh)/ Gusar dan masam di atas bumi (menolak dunia)//
Sebagaimana lazimnya “Penyair Sufi”, maka sajak-sajak Hamzah Fansuri penuh dengan rindu-dendam; rindu kepada Mahbubnya, Kekasihnya, Khaliqnya, Allah Yang Maha Esa. Karena itulah, maka “Karya Tulis” Hamzah Fansuri sukar dimengerti dan dipahami oleh orang yang tidak banyak membaca dan mendalami buah pikiran dan filsafat Ulama Tasauwuf/Penyair Sufi. Mungkin termasuk Ar-raniry tak mampu menjangkau Hamzah. Inilah kunci kenapa pemikiran tasawwuf sulit dipahami jika seseorang tidak mengalami pengalaman spiritual.
Karya Hamzah yang terkenal, antara lain pertama, Asraarul Arifiin Fi Bayani Ilmis Suluk wat-Tauhid, yang membahas masalah-masalah ilmu tauhid dan ilmu thariqat. Kedua, Syaraabul Asyiqin, yang membicarakan masalah-masalah thariqat, syariat, haqiqat dan makrifat. Ketiga, Al Muntahi, yang membicarakan masalah-masalah tasauwuf. Keempat, Rubah Hamzah Fansuri, syair sufi yang penuh butir-butir filsafat. Kelima, Syair Burung Unggas, juga sajak sufi yang dalam maksudnya.
Menurut Hamzah Fansuri, bahwa manusia yang telah menjadi “Insan Kamil” tidak ada lagi pembatas antara dia dan Mahbubnya. Ini pemikiran yang juga pernah berkembang di dalam Islam yaitu Mansur al-Hallaj, Ibn ‘Arabi, dan di Indonesia juga pernah digulirkan oleh Syeikh Siti Jenar. Pada akhir pemerintahan Sulthan Iskandar Muda Meukuta meninggal 27 Desember 1636 M. Syekh Hamzah Fansuri tokoh agung nusantara, ulama sangat dikenal di Asia Tenggara ini, walaupun di negerinya sendiri dilupakan, wafat di Singkil, dekat kota kecil Rundeng. Beliau dimakamkan di Kampung Oboh Simpang Kiri Rundeng di Hulu Sungai Singkel Makamnya sangat dimuliakan.
Inilah sepenggal seorang maestro peradaban, ulama Aceh pengawal rantau asia yang telah menjadi milik dunia, namun tercecer dari catatan sejarah bangsa ini akibat hegemoni politik dan fitnah. Masih banyak misteri kehidupan Hamzah Fansuri yang belum terkuak, terutama kampong halamannya dan bagaimana akhir kehidupannya. Padahal pengaruh pemikirannya sedikit banyak telah mewarnai pemikiran keislaman di Nusantara. Akhirnya, saya berharap semangat intelektual Hamzah Fansuri ini perlu dibangkitkan dan dijadikan sebagai sebuah simbol kemegahan dunia Aceh. Karena Hamzah bagaimanapun adalah seorang pujangga yang tidak ada tandingannya.
Sumber: Catatan M Adli Abdullah, yang dipublikasikan melalui serambinews.com
(http://www.serambinews.com/news/view/25118/hamzah-fansuri-pemantik-peradaban-aceh)
Puisi Do'a Chairil Anwar
Doa
Kepada pemeluk teguh
Tuhanku,
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
Menyebut Kau penuh seluruh
CahayaMu panas suci
Tinggal kerdip lilin
di kelam sunyi
Tuhanku,
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku,
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku,
Di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
(Chairil Anwar: Deru Campur Debu)
Tipe Cewek Yang Pantas Dijadikan Istri
Tipe Cewek Yang Pantas Dijadikan Istri
1. Taat beragama
Agama adalah salah satu pegangan hidup untuk kita manusia. Taat kepada agama juga menunjukan kalau si Cewek akan taat terhadap kamu. Bukan berarti kamu bisa semena-mena terhadap dia dan menyuruh si Cewek untuk menuruti apapun yang kamu mau, tapi taat beragama menunjukan bahwa si Cewek juga mempunyai prinsip hidup yang baik dan yang dia tekuni.
2. Lemah-lembut
Coba perhatikan cara Cewek berbicara kedana teman-temannya. Apakah dia selalu suka bernada keras, teriak-teriak, atau malah sopan dan selalu lembut dalam berkata-kata? Ciri-ciri inilah yang mencerminkan di mana cara si Cewek akan berbicara kepada kamu dan keluargamu nantinya.
3. Perhatian
"Kok dia bisa ingat dengan ulang tahun orang tuaku?" ujar kamu. Itu adalah pertanda bagus. Dia benar-benar perhatian akan hal-hal kecil seperti itu. Padahal, kalian belum menikah. Sehabis kamu pulang kerja, makananpun sudah tersedia. Saat kamu sedang sakit, dia memasakan bubur untuk kamu. Hal-hal kecil seperti itulah yang akan membantu dan memperkuat hubungan kamu. Bukankah Cowok juga memang suka diberi perhatian lebih dari si Cewek?
4. Penyabar
Kamu telat untuk kencan dengan si Cewek tapi si Cewek tidak marah sama sekali saat kamu datang dan dia sudah menunggu 25 menit kelaparan. Kenapa sabar itu ciri-ciri yang baik? Coba pikirkan kalau anda sedang dalam situasi apa saja yang berbau negatif; kesabaran itu akan membantu suasana itu tidak menjadi lebih buruk. Coba bayangkan kamu sedang kencan dengan Cewek yang tidak sabar. Sedikit-sedikit dia marah karena kamu tidak tepat waktu, berbuat sedikit kesalahan. Kencan yang seharusnya senang-senang malahan menjadi pengalaman buruk.
5. Sederhana
Perhatikan apakah si Cewek kamu suka berlebihan di depan teman-temannya. Apakah dia suka memamerkan tas baru yang baru dia beli hari itu juga? Orang yang suka pamer dan tidak sederhana menunjukan kalau si Cewek itu tidak percaya diri; ada kekurangan yang dia punya dan ingin menutupinya dengan memamerkan sesuatu yang lebih dari dia. Ini sifat yang tidak bagus untuk para Cowok.
6. Jaga kecantikan
Tidak berarti Cewek itu harus tampil cantik, tapi menjaga kecantikan itu juga berarti itu Cewek tahu bagaimana caranya menjaga dan merawat dirinya sendiri. Jikalah anda sedang berkencan dengan dia, perhatikanlah "make-up" yang dia pakai. Apakah terlalu berlebihan sehingga menarik perhatian orang-orang lain di sekitar anda? Apakah dia memakai rok mini yang berlebihan? Jaga kecantikan itu berarti menjaga penampilan secukupnya dan sewajarnya di saat dan tempat yang benar.
7. Dewasa dan bijaksana
Cowok suka dengan Cewek yang bijaksana dan bersikap dewasa. Di saat kesusahan, Cowok akan membutuh bantuan dari seorang Cewek yang dewasa dan bijaksana dalam mengambil keputusan.
8. Hemat
Cowok mana yang mau punya Cewek bermaterialistis? Nanti kalau kamu sudah berkeluarga dengan Cewek tersebut, dia akan menghabiskan uang untuk belanja baju-baju yang tidak perlu. Coba perhatikan dari cara dia menghabiskan uangnya sekarang. Apakah dia termasuk orang yang hemat, pelit, atau hura-hura?
9. Keibuan
Cewek kalau senang bermain dengan anak kecil, bisa menggendong bayi, menunggu mereka tidur, dan sebagainya. Inilah tanda-tanda dari Cewek yang bisa kamu bayangkan saat mereka menjadi istri kamu. Dia akan menjadi seorang ibu yang pandai di dalam rumah tangga.
10. Tabah menderita dan mau bekerja keras
Inilah salah satu ciri-ciri dari Cewek yang agak susah dicari. Mengapa? Cewek sudah terbiasa dengan tradisi di mana Cowok yang mencari uang. Di masa-masa sulit, Cewek biasanya tidak terbiasa untuk bekerja keras untuk keluarga. Jikalau kamu sudah menemukan Cewek yang tabah menderita dan mau bekerja keras, hargailah dia.
1. Taat beragama
Agama adalah salah satu pegangan hidup untuk kita manusia. Taat kepada agama juga menunjukan kalau si Cewek akan taat terhadap kamu. Bukan berarti kamu bisa semena-mena terhadap dia dan menyuruh si Cewek untuk menuruti apapun yang kamu mau, tapi taat beragama menunjukan bahwa si Cewek juga mempunyai prinsip hidup yang baik dan yang dia tekuni.
2. Lemah-lembut
Coba perhatikan cara Cewek berbicara kedana teman-temannya. Apakah dia selalu suka bernada keras, teriak-teriak, atau malah sopan dan selalu lembut dalam berkata-kata? Ciri-ciri inilah yang mencerminkan di mana cara si Cewek akan berbicara kepada kamu dan keluargamu nantinya.
3. Perhatian
"Kok dia bisa ingat dengan ulang tahun orang tuaku?" ujar kamu. Itu adalah pertanda bagus. Dia benar-benar perhatian akan hal-hal kecil seperti itu. Padahal, kalian belum menikah. Sehabis kamu pulang kerja, makananpun sudah tersedia. Saat kamu sedang sakit, dia memasakan bubur untuk kamu. Hal-hal kecil seperti itulah yang akan membantu dan memperkuat hubungan kamu. Bukankah Cowok juga memang suka diberi perhatian lebih dari si Cewek?
4. Penyabar
Kamu telat untuk kencan dengan si Cewek tapi si Cewek tidak marah sama sekali saat kamu datang dan dia sudah menunggu 25 menit kelaparan. Kenapa sabar itu ciri-ciri yang baik? Coba pikirkan kalau anda sedang dalam situasi apa saja yang berbau negatif; kesabaran itu akan membantu suasana itu tidak menjadi lebih buruk. Coba bayangkan kamu sedang kencan dengan Cewek yang tidak sabar. Sedikit-sedikit dia marah karena kamu tidak tepat waktu, berbuat sedikit kesalahan. Kencan yang seharusnya senang-senang malahan menjadi pengalaman buruk.
5. Sederhana
Perhatikan apakah si Cewek kamu suka berlebihan di depan teman-temannya. Apakah dia suka memamerkan tas baru yang baru dia beli hari itu juga? Orang yang suka pamer dan tidak sederhana menunjukan kalau si Cewek itu tidak percaya diri; ada kekurangan yang dia punya dan ingin menutupinya dengan memamerkan sesuatu yang lebih dari dia. Ini sifat yang tidak bagus untuk para Cowok.
6. Jaga kecantikan
Tidak berarti Cewek itu harus tampil cantik, tapi menjaga kecantikan itu juga berarti itu Cewek tahu bagaimana caranya menjaga dan merawat dirinya sendiri. Jikalah anda sedang berkencan dengan dia, perhatikanlah "make-up" yang dia pakai. Apakah terlalu berlebihan sehingga menarik perhatian orang-orang lain di sekitar anda? Apakah dia memakai rok mini yang berlebihan? Jaga kecantikan itu berarti menjaga penampilan secukupnya dan sewajarnya di saat dan tempat yang benar.
7. Dewasa dan bijaksana
Cowok suka dengan Cewek yang bijaksana dan bersikap dewasa. Di saat kesusahan, Cowok akan membutuh bantuan dari seorang Cewek yang dewasa dan bijaksana dalam mengambil keputusan.
8. Hemat
Cowok mana yang mau punya Cewek bermaterialistis? Nanti kalau kamu sudah berkeluarga dengan Cewek tersebut, dia akan menghabiskan uang untuk belanja baju-baju yang tidak perlu. Coba perhatikan dari cara dia menghabiskan uangnya sekarang. Apakah dia termasuk orang yang hemat, pelit, atau hura-hura?
9. Keibuan
Cewek kalau senang bermain dengan anak kecil, bisa menggendong bayi, menunggu mereka tidur, dan sebagainya. Inilah tanda-tanda dari Cewek yang bisa kamu bayangkan saat mereka menjadi istri kamu. Dia akan menjadi seorang ibu yang pandai di dalam rumah tangga.
10. Tabah menderita dan mau bekerja keras
Inilah salah satu ciri-ciri dari Cewek yang agak susah dicari. Mengapa? Cewek sudah terbiasa dengan tradisi di mana Cowok yang mencari uang. Di masa-masa sulit, Cewek biasanya tidak terbiasa untuk bekerja keras untuk keluarga. Jikalau kamu sudah menemukan Cewek yang tabah menderita dan mau bekerja keras, hargailah dia.
Naskah Drama Semar Gugat
Semar Gugat
Karya N. Riantiarno
...
Adegan: Kalika dan Durga tengah mengintai Srikandi yang sedang berias di kamarnya.
Durga
Tidak percaya. Coba kulihat dulu potretnya.
Kalika
(Memberikan potret) Silahkan, paduka.
Durga
(Mencocokkan potret dengan orangnya) Kok tidak cocok? Ini potret bikinan kapan?
Kalika
Mana? Oo, foto ini dijepret waktu Srikandi lulus SMA. Maaf, habis, cuma itu yang ada di arsip hamba.
Durga
(Meledak)
Bodoh. Sudah kadaluwarsa, tahu? Tidak akurat, tidak bisa dijadikan pegangan. Informasimu itu harus direvisi, harus didata ulang! Aduh, dengan mutu seperti begini, bagaimana aku dulu sampai bisa mengangkat kepala intel macam kamu? Kok bisa? Dulu, aku kamu sogok apa sih?
Kalika
Raden Sadewa. Saya jadi makcomblang? Ingat? Sudah lupa, ya? Waduh, memang selalu begitu, jasa rakyat kecil selalu gampang dilupa.
Durga
(Menyabarkan diri)
Ya, sudah, sudah. Aku sudah tahu kok. Srikandi yang duduk di tengah. Sumbadra dan Larasati duduk di kiri kanannya.
Kalika
Wah, itu lebih celaka lagi. Kalau sudah tahu mengapa paduka tanya-tanya?
Durga
Bodoh. Cuma ingin mengujimu saja. Itu sudah sifat dasar setiap penguasa, di mana saja. Sekarang minggir! Aku akan manjing ke dalam diri Srikandi. (Merapal mantra)
Impianku adalah khayalmu. Biarkan cahaya biru asmaraku. Menembus lubang pori-pori. Masuk ke dalam aliran darah. Darahku adalah darahmu. Berkuasa atas hati dan jantung. Berkuasa atas segala kehendak Dan jadi ratu atas ragamu. Sihir sejuta jin dan setan. Menutup mati kesadaran diri Bojleng, bojleng, manjing!!
(Ledakan musik gamelan berbunyi gemuruh)
(Durga masuk ke dalam tubuh Srikandi. Seketika Srikandi menggelinjang. Kalika, masih belum tahu harus berbuat apa)
Srikandi
Aduh! Ya, dewa, apa ini? (Pingsan)
(Sumbadra dan Larasati kaget. Mereka keluar dari cermin masing-masing, dan mengerumuni Srikandi)
Sumbadra
Ada apa, Dinda? Ada apa?
Larasati
Aduh. Dia pingsan.
Sumbadra
Ya, aku tahu. Tapi kenapa?
Larasati
Tolong! Tolong! Calon pengantin, pingsan! Tolong! (Pergi berlari menuju istana utama)
Sumbadra
Aku mencium sesuatu. Rasanya ada yang tidak beres. (Segera mengheningkan cipta)
Kalika
Paduka. Lalu saya musti ngapain?
Durga
Pergi, bodoh. Sebentar lagi sukma Sumbadra pasti akan melihat kamu. Kita bisa celaka. Dia punya kesanggupan melihat barang-barang halus. Pergi, cepat!
Kalika
Dan paduka?
Durga
Ee, aku ini Batari Durga, ratunya para setan dan jin. Aku jauh lebih sakti dari Sumbadra. Lagian, akalku banyak. Ayo, Kalika, jangan buang-buang waktu. Pergi!
Kalika
Terus, tugas hamba apa?
Durga
Bodoh, ya tetap jadi mata-mata, tapi jaga jaraknya jangan terlalu dekat jangan terlaIu jauh. Pergi!
Kalika
Baik,paduka, hamba pamit (Pergi cepat)
Lampu berubah
Kaputren Madukara. Beberapa saat kemudian. (Srikandi yang sudah kerasukan spirit Durga, tersadar)
Srikandi
Aku kenapa? Yunda Sumbadra...
(Membuyarkan meditasi Sumbadra)
Yunda..Yunda bangun, jangan bikin aku takut...
Sumbadra
(Tersadar) Dinda tidak apa-apa?
Srikandi
Memangnya aku kenapa?
Sumbadra
Mendadak tadi Dinda pingsan, kami kuatir.
Srikandi
Pingsan? Aku cuma merasa pusing...
Larasati
(Datang tergopoh-gopoh bersama Gatotkaca)
Lho, sudah siuman?
Sumbadra
Tidak apa-apa kok, mungkin Dinda Srikandi terlalu tegang menghadapi besok.
Gatotkaca
Betul, Tante tidak apa-apa?
Srikandi
Gatot, mana pamanmu?
Gatotkaca
Paman Nakula dan Sadewa sedang mengontrol para seniman memasang dekor di aula,
tempat upacara pernikahan besok dilangsungkan. Ayahanda Bima sibuk mengatur barisan keamanan di luar benteng, supaya pesta bisa berjalan lancar dan tidak ada gangguan.
Srikandi
Pamanmu yang lain?
Gatotkaca
Yooy, bukankah Tante juga tahu Pakde Samiaji masih bertapa? Tapi beliau janji akan datang bersama Pakde Kresna untuk ikut menyaksikan upacara nikah.
Srikandi
Pamanmu yang lain?
Gatotkaca
Oo, maksudnya, Paman Arjuna? Lho, beliau kan sedang bersamadi di ruang kencana. Dan beliau berpesan tidak ingin diganggu oleh siapa saja. Tidak ada yang berani melanggar pesan itu.
Srikandi
Jadi dia tidak akan datang. Barangkali karena memang tidak kuatir apa-apa. Atau tidak mencinta. Karena ini bukan sesuatu yang istimewa baginya. Karena ini hanya peristiwa rutin belaka.
Gatotkaca
Tapi, kalau tidak salah protokol istana memang melarang paman ketemu Tante sampai tiba saatnya upacara nikah. Lagipula, Tante, ini bukan cuma aturan protokoler, tapi juga merupakan adat kepantasan. Ritual turun-temurun.
Srikandi
Omong kosong segala aturan protokoler. Dan jangan menggurui aku dengan segala macem adat ritual tetek bengek itu. Bilang saja padanya, aku ingin ketemu dia sekarang juga. Kalau tidak, besok aku tidak akan sudi datang ke tempat upacara pernikahan. Titik.
Gatotkaca
Lho? Waduh...
Srikandi
Aku sungguh-sungguh. Bilang saja begitu, selebihnya terserah dia. Tapi bilang juga, kalau dia tidak datang, berarti pernikahan batal.
(Sumbadra dan Larasati saling pandang, heran)
Gatotkaca
Waah, jadi... bagaimana ini, Bibi Sumbadra?
Sumbadra
(Menghela napas)
Lakukan saja apa yang diminta tante-mu. Nanti kami atur pertemuan itu supaya tidak melanggar adat dan aturan protokoler. Pergilah cepat!
Gatotkaca
Baik. Hamba segera pamit mundur.
Sumbadra
(Pergi bergegas menuju istana utama)
(Menegur halus)
Apakah ketegangan sanggup memengaruhi, sehingga dinda berani punya niatan melanggar adat tata cara kita?
Srikandi
Apakah salah jika aku ingin ketemu calon suamiku? Sekarang aku masih bebas. Tapi besok, aku sudah diikat oleh tali suci itu: pernikahan. Jadi, sebelum telanjur ada yang hendak kutanyakan padanya. Dan aku butuh jawaban jujur darinya, sekarang juga. Sehingga aku jadi sungguh-sungguh yakin pilihanku cocok dan benar. Maafkan Yunda, aku sedang berjudi dengan nasib. Dengan taruhan yang sangat besar: jiwa ragaku, hidupku.
Karya N. Riantiarno
...
Adegan: Kalika dan Durga tengah mengintai Srikandi yang sedang berias di kamarnya.
Durga
Tidak percaya. Coba kulihat dulu potretnya.
Kalika
(Memberikan potret) Silahkan, paduka.
Durga
(Mencocokkan potret dengan orangnya) Kok tidak cocok? Ini potret bikinan kapan?
Kalika
Mana? Oo, foto ini dijepret waktu Srikandi lulus SMA. Maaf, habis, cuma itu yang ada di arsip hamba.
Durga
(Meledak)
Bodoh. Sudah kadaluwarsa, tahu? Tidak akurat, tidak bisa dijadikan pegangan. Informasimu itu harus direvisi, harus didata ulang! Aduh, dengan mutu seperti begini, bagaimana aku dulu sampai bisa mengangkat kepala intel macam kamu? Kok bisa? Dulu, aku kamu sogok apa sih?
Kalika
Raden Sadewa. Saya jadi makcomblang? Ingat? Sudah lupa, ya? Waduh, memang selalu begitu, jasa rakyat kecil selalu gampang dilupa.
Durga
(Menyabarkan diri)
Ya, sudah, sudah. Aku sudah tahu kok. Srikandi yang duduk di tengah. Sumbadra dan Larasati duduk di kiri kanannya.
Kalika
Wah, itu lebih celaka lagi. Kalau sudah tahu mengapa paduka tanya-tanya?
Durga
Bodoh. Cuma ingin mengujimu saja. Itu sudah sifat dasar setiap penguasa, di mana saja. Sekarang minggir! Aku akan manjing ke dalam diri Srikandi. (Merapal mantra)
Impianku adalah khayalmu. Biarkan cahaya biru asmaraku. Menembus lubang pori-pori. Masuk ke dalam aliran darah. Darahku adalah darahmu. Berkuasa atas hati dan jantung. Berkuasa atas segala kehendak Dan jadi ratu atas ragamu. Sihir sejuta jin dan setan. Menutup mati kesadaran diri Bojleng, bojleng, manjing!!
(Ledakan musik gamelan berbunyi gemuruh)
(Durga masuk ke dalam tubuh Srikandi. Seketika Srikandi menggelinjang. Kalika, masih belum tahu harus berbuat apa)
Srikandi
Aduh! Ya, dewa, apa ini? (Pingsan)
(Sumbadra dan Larasati kaget. Mereka keluar dari cermin masing-masing, dan mengerumuni Srikandi)
Sumbadra
Ada apa, Dinda? Ada apa?
Larasati
Aduh. Dia pingsan.
Sumbadra
Ya, aku tahu. Tapi kenapa?
Larasati
Tolong! Tolong! Calon pengantin, pingsan! Tolong! (Pergi berlari menuju istana utama)
Sumbadra
Aku mencium sesuatu. Rasanya ada yang tidak beres. (Segera mengheningkan cipta)
Kalika
Paduka. Lalu saya musti ngapain?
Durga
Pergi, bodoh. Sebentar lagi sukma Sumbadra pasti akan melihat kamu. Kita bisa celaka. Dia punya kesanggupan melihat barang-barang halus. Pergi, cepat!
Kalika
Dan paduka?
Durga
Ee, aku ini Batari Durga, ratunya para setan dan jin. Aku jauh lebih sakti dari Sumbadra. Lagian, akalku banyak. Ayo, Kalika, jangan buang-buang waktu. Pergi!
Kalika
Terus, tugas hamba apa?
Durga
Bodoh, ya tetap jadi mata-mata, tapi jaga jaraknya jangan terlalu dekat jangan terlaIu jauh. Pergi!
Kalika
Baik,paduka, hamba pamit (Pergi cepat)
Lampu berubah
Kaputren Madukara. Beberapa saat kemudian. (Srikandi yang sudah kerasukan spirit Durga, tersadar)
Srikandi
Aku kenapa? Yunda Sumbadra...
(Membuyarkan meditasi Sumbadra)
Yunda..Yunda bangun, jangan bikin aku takut...
Sumbadra
(Tersadar) Dinda tidak apa-apa?
Srikandi
Memangnya aku kenapa?
Sumbadra
Mendadak tadi Dinda pingsan, kami kuatir.
Srikandi
Pingsan? Aku cuma merasa pusing...
Larasati
(Datang tergopoh-gopoh bersama Gatotkaca)
Lho, sudah siuman?
Sumbadra
Tidak apa-apa kok, mungkin Dinda Srikandi terlalu tegang menghadapi besok.
Gatotkaca
Betul, Tante tidak apa-apa?
Srikandi
Gatot, mana pamanmu?
Gatotkaca
Paman Nakula dan Sadewa sedang mengontrol para seniman memasang dekor di aula,
tempat upacara pernikahan besok dilangsungkan. Ayahanda Bima sibuk mengatur barisan keamanan di luar benteng, supaya pesta bisa berjalan lancar dan tidak ada gangguan.
Srikandi
Pamanmu yang lain?
Gatotkaca
Yooy, bukankah Tante juga tahu Pakde Samiaji masih bertapa? Tapi beliau janji akan datang bersama Pakde Kresna untuk ikut menyaksikan upacara nikah.
Srikandi
Pamanmu yang lain?
Gatotkaca
Oo, maksudnya, Paman Arjuna? Lho, beliau kan sedang bersamadi di ruang kencana. Dan beliau berpesan tidak ingin diganggu oleh siapa saja. Tidak ada yang berani melanggar pesan itu.
Srikandi
Jadi dia tidak akan datang. Barangkali karena memang tidak kuatir apa-apa. Atau tidak mencinta. Karena ini bukan sesuatu yang istimewa baginya. Karena ini hanya peristiwa rutin belaka.
Gatotkaca
Tapi, kalau tidak salah protokol istana memang melarang paman ketemu Tante sampai tiba saatnya upacara nikah. Lagipula, Tante, ini bukan cuma aturan protokoler, tapi juga merupakan adat kepantasan. Ritual turun-temurun.
Srikandi
Omong kosong segala aturan protokoler. Dan jangan menggurui aku dengan segala macem adat ritual tetek bengek itu. Bilang saja padanya, aku ingin ketemu dia sekarang juga. Kalau tidak, besok aku tidak akan sudi datang ke tempat upacara pernikahan. Titik.
Gatotkaca
Lho? Waduh...
Srikandi
Aku sungguh-sungguh. Bilang saja begitu, selebihnya terserah dia. Tapi bilang juga, kalau dia tidak datang, berarti pernikahan batal.
(Sumbadra dan Larasati saling pandang, heran)
Gatotkaca
Waah, jadi... bagaimana ini, Bibi Sumbadra?
Sumbadra
(Menghela napas)
Lakukan saja apa yang diminta tante-mu. Nanti kami atur pertemuan itu supaya tidak melanggar adat dan aturan protokoler. Pergilah cepat!
Gatotkaca
Baik. Hamba segera pamit mundur.
Sumbadra
(Pergi bergegas menuju istana utama)
(Menegur halus)
Apakah ketegangan sanggup memengaruhi, sehingga dinda berani punya niatan melanggar adat tata cara kita?
Srikandi
Apakah salah jika aku ingin ketemu calon suamiku? Sekarang aku masih bebas. Tapi besok, aku sudah diikat oleh tali suci itu: pernikahan. Jadi, sebelum telanjur ada yang hendak kutanyakan padanya. Dan aku butuh jawaban jujur darinya, sekarang juga. Sehingga aku jadi sungguh-sungguh yakin pilihanku cocok dan benar. Maafkan Yunda, aku sedang berjudi dengan nasib. Dengan taruhan yang sangat besar: jiwa ragaku, hidupku.
Thursday, November 24, 2011
7 Cara Berhenti Merokok
7 Cara Berhenti Merokok
Selalu gagal untuk menghentikan kebiasaan merokok Anda? Mungkin ada beberapa langkah yang salah. Seperti yang dikutip dari webmd, berikut 7 cara menghentikan kebiasaan merokok.
1.Tahu alasan berhenti merokok
Jika Anda ingin berhenti dari kebiasaan merokok, Anda harus tahu alasannya. Apakah itu karena dampak buruk yang dibawa oleh rokok, ingin terlihat lebih muda atau karena ingin melindungi keluarga dari asap rokok. Pilih alasan yang sangat kuat untuk bisa mengalahkan godaan merokok.
2. Jangan anggap remeh
Mungkin berhenti merokok terdengar mudah. Anda hanya perlu membuag semua rokok yang telah dibeli dan menahan diri untuk tak membelinya kembali. Sayangnya menghentikan kebiasaan ini tak semudah yang dikira. Sebanyak 95 persen orang yang mencoba untuk berhenti tanpa terapi atau pengobatan, akhirnya malah kembali merokok. Alasannya adalah ketergantungan yang ditimbulkan oleh nikotin. Otak menjadi terbiasa dengan nikotin dan membutuhkannya tiap saat.
3. Lakukan terapi nikotin
Ketika Anda berhenti merokok, nikotin bisa membuat Anda merasa frustrasi, depresi, gelisah atau marah. Terapi pengganti nikotin bisa bantu atasi masalah ini. Studi menunjukkan permen karet nikotin dan lozenges bisa bantu melipatgandakan peluang Anda untuk berhenti dari rokok, bila dilakukan secara intensif. Namun hati-hati, penggunaan produk seperti ini sambil merokok tidak dianjurkan.
4. Tanya obat resep
Untuk mempermudah mengatasi kecanduan nikotin tanpa menggunakan produk yang mengandung nikotin, tanyakan pada dokter apakah ada pil yang boleh Anda konsumsi. Ada beberapa obat yang bantu mengurangi rasa lapar dengan memengaruhi zat kimia dalam otak. Obat itu juga akan membuat Anda terpuaskan walau hanya menghisap sedikit rokok saja. Ada juga beberapa obat lainnya yang mengurangi gejala nikotin seperti depresi dan ketidakmampuan berkonsentrasi.
5. Minta bantuan orang terdekat
Beritahu keluarga, teman dan rekan kerja bahwa Anda sedang berusaha untuk berhenti merokok. Bergabung dengan kelompok anti rokok atau berbicara dengan konselor juga bisa dijadikan salah satu alternatif. Dorongan mereka tentu memberikan peluang besar bagi Anda untuk segera menghentikan kebiasaan buruk ini.
6. Kontrol stres dengan benar
Salah satu alasan orang merokok adalah, nikotin bisa membantu seseorang untuk lebih rileks. Setelah berhenti merokok, Anda harus menemukan cara lain untuk mengatasi stres, misalnya dengan dipijat, mendengarkan musik santai, atau mengikuti kelas yoga. Jika mungkin, sebaiknya hindari situasi stres pada minggu pertama ketika Anda mulai berhenti merokok.
7. Hindari alkohol dan pemicu merokok lainnya
Kegiatan tertentu dapat meningkatkan keinginan Anda untuk merokok. Alkohol merupakan salah satu pemicu paling umum, jadi cobalah untuk menguranginya. Jika kopi membuat Anda ingin merokok, beralihlah pada teh selama beberapa minggu. Dan jika Anda terbiasa merokok setelah makan, temukan cara lain untuk menghindarinya misalnya seperti mengunyah permen karet atau menyikat gigi.
Selalu gagal untuk menghentikan kebiasaan merokok Anda? Mungkin ada beberapa langkah yang salah. Seperti yang dikutip dari webmd, berikut 7 cara menghentikan kebiasaan merokok.
1.Tahu alasan berhenti merokok
Jika Anda ingin berhenti dari kebiasaan merokok, Anda harus tahu alasannya. Apakah itu karena dampak buruk yang dibawa oleh rokok, ingin terlihat lebih muda atau karena ingin melindungi keluarga dari asap rokok. Pilih alasan yang sangat kuat untuk bisa mengalahkan godaan merokok.
2. Jangan anggap remeh
Mungkin berhenti merokok terdengar mudah. Anda hanya perlu membuag semua rokok yang telah dibeli dan menahan diri untuk tak membelinya kembali. Sayangnya menghentikan kebiasaan ini tak semudah yang dikira. Sebanyak 95 persen orang yang mencoba untuk berhenti tanpa terapi atau pengobatan, akhirnya malah kembali merokok. Alasannya adalah ketergantungan yang ditimbulkan oleh nikotin. Otak menjadi terbiasa dengan nikotin dan membutuhkannya tiap saat.
3. Lakukan terapi nikotin
Ketika Anda berhenti merokok, nikotin bisa membuat Anda merasa frustrasi, depresi, gelisah atau marah. Terapi pengganti nikotin bisa bantu atasi masalah ini. Studi menunjukkan permen karet nikotin dan lozenges bisa bantu melipatgandakan peluang Anda untuk berhenti dari rokok, bila dilakukan secara intensif. Namun hati-hati, penggunaan produk seperti ini sambil merokok tidak dianjurkan.
4. Tanya obat resep
Untuk mempermudah mengatasi kecanduan nikotin tanpa menggunakan produk yang mengandung nikotin, tanyakan pada dokter apakah ada pil yang boleh Anda konsumsi. Ada beberapa obat yang bantu mengurangi rasa lapar dengan memengaruhi zat kimia dalam otak. Obat itu juga akan membuat Anda terpuaskan walau hanya menghisap sedikit rokok saja. Ada juga beberapa obat lainnya yang mengurangi gejala nikotin seperti depresi dan ketidakmampuan berkonsentrasi.
5. Minta bantuan orang terdekat
Beritahu keluarga, teman dan rekan kerja bahwa Anda sedang berusaha untuk berhenti merokok. Bergabung dengan kelompok anti rokok atau berbicara dengan konselor juga bisa dijadikan salah satu alternatif. Dorongan mereka tentu memberikan peluang besar bagi Anda untuk segera menghentikan kebiasaan buruk ini.
6. Kontrol stres dengan benar
Salah satu alasan orang merokok adalah, nikotin bisa membantu seseorang untuk lebih rileks. Setelah berhenti merokok, Anda harus menemukan cara lain untuk mengatasi stres, misalnya dengan dipijat, mendengarkan musik santai, atau mengikuti kelas yoga. Jika mungkin, sebaiknya hindari situasi stres pada minggu pertama ketika Anda mulai berhenti merokok.
7. Hindari alkohol dan pemicu merokok lainnya
Kegiatan tertentu dapat meningkatkan keinginan Anda untuk merokok. Alkohol merupakan salah satu pemicu paling umum, jadi cobalah untuk menguranginya. Jika kopi membuat Anda ingin merokok, beralihlah pada teh selama beberapa minggu. Dan jika Anda terbiasa merokok setelah makan, temukan cara lain untuk menghindarinya misalnya seperti mengunyah permen karet atau menyikat gigi.
Saturday, March 12, 2011
Ilmu Sosial Dasar
ILMU SOSIAL DASAR (ISD)
(KEMISKINAN)
DI TULIS OLEH :
NAMA : Rachmad Rivai
NPM : 2009221
MK : Ilmu Sosial Dasar (ISD)
PRODI : Bahasa Indonesia
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) LUBUKLINGGAU
2011/2012
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi robbil’alamin puji syukur penulis persembahkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan, baik jasmani maupun rohani, sehingga dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga selalu dilimapAhkan oleh_NYA kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW para keluarga, sahabat, kerabat serta pengikut-pengikutnya yang selalu setia hingga akhir zaman amiiin.
Tak lupa juga penulis menyampaikan terima kasih kepada para dosen pembimbing mata kuliah khususnya bapak Drs. Jamiluddin sebagai dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Sosial Dasar (ISD) yang telah membimbing kami dalam semester ini.
Penulis juga menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih atas kritik dan saran semoga makalah ini berguna untuk kita.
Lubuklinggau, Januari 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………. iii
BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………........ 1
A. LATAR BELAKANG ……………………………………..... 1
B. RUMUSAN MASALAH ………………………………….... 1
C. TUJUAN …………………………………………………….. 1
BAB II. PEMBAHASAN ………………………………………………. 2
A. MASALAH SOSIA ………………………………………… 2
B. KEMISKINAN ……………………………………………… 2
C. STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN ……... 5
BAB III. PENUTUP …………………………………………………….. 7
A. KESIMPULAN ……………………………………………… 7
B. SARAN ………………………………………………..…….. 7
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………..……….. 8
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kemiskinan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk problema yang muncul dalam kehidupan masyarakat, khususnya pada Negara-negara yang sedang berkembang sperti Indonesia yang masih begitu besar tingkat kemiskinan masyarakatnya. Kemiskinan yang dimaksud adalah kemiskinan dalam bidang ekonomi. Dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian dan tempat berteduh.
Banyak faktor yang melatar belakangi masalah kemiskinan ini seperti ekonomi, sosial atau budaya yang ada di dalam masyarakat.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian di atas dapat kita lihat berbagai permasalahan yang ada dalam masalah kemiskinan ini seperti :
1. Mengapa kemiskinan terjadi?
2. Apa faktor penyebab kemiskinan?
3. Orang atau masyarakat yang bagaimana dikatakan miskin?
4. Bagaimarna strategi penanggulangan masalah kemiskinan ini?
C. TUJUAN
Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dasar (ISD) sebagai tugas akhir semester gazal, pembuatan makalah ini juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca betapa harusnya kita memberantas kemiskinan ataupun minimal dapat mengurangi tingkat kemiskinan ini, agar kita tidak selalu mengandalkan pemerintah untuk mengurangi kemiskinan ini, tetapi masyarakat juga harus ikut berperan dalam mengurangi masalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. MASALAH SOSIAL
Menurut Soerjono Soekamto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.
Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.
B. KEMISKINAN
Kemiskinan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk problema atau masalah sosial yang muncul dalam kehidupan masyarakat, khususnya pada negara-negara yang sedang berkembang atau bahkan terkadang dapat pula terjadi pada Negara maju, biasanya perrmasalahan kemiskinan pada Negara maju sering terjadi pada para imigran.
Sebagai masalah yang menjadi isu global disetiap Negara berkembang, wacana kemiskinan dan pemberantasannya haruslah menjadi agenda wajib bagi para pemerintah dan pemimpin Negara. Peran serta pekerja sosial dalam menangani permasalahan kemiskinan sangat diperlukan, terlebih dalam memberikan masukkan (input) dan melakukan perencanaan strategis (strategic planning) tentang apa yang akan menjadi suatu kebijakan dari pemerintah.
Sebelum mengetahuinya lebih dalam, perlu diketahui penyebab kemiskinan yang secara tidak langsung menjadi standar global :
1. kemiskinan kebudayaan, hal ini biasanya terjadi disebabkan karena adanya kesalahan pada subyeknya. Misalnya : malas, tidak percaya diri, gengsi, tak memiliki jiwa wirausaha yang kompatibel, tidak mempunyai kemampuan dan keahlian, dan sebagainya.
2. kemiskinan structural, hal ini biasanya terjadi karena disebabkan oleh faktor eksternal yang melatarbelakangi kemiskinan. Faktor eksternal itu biasanya disebabkan kinerja dari pemerintah diantaranya : pemerintah yang tidak adil, korupsi, paternalistik, birokrasi yang berbelit, dan sebagainya.
Isbandi Rukminto Adi, Phd menegaskan pula tentang akar kemiskinan berdasarkan level permasalahan dan membaginya menjadi beberapa dimensi, diantaranya:
1. Dimensi Mikro : mentalitas materialistic dan ingin serba cepat ( instan )
2. Dimensi Mezzo : melemahnya social trust ( kepercayaan social ) dalam suatu komunitas dan organisasi, dan otomatis hal ini sangat berpengaruh terhadap si subyek itu sendiri
3. Dimensi Makro : kesenjangan (ketidakadilan) pembangunan daerah yang minus (desa) dengan daerah yang surplus (kota), strategi pembangunan yang kurang tepat (tidak sesuai dengan kondisi sosio-demografis) masyarakat Indonesia
4. Dimensi Global : adanya ketidakseimbangan relasi antara Negara yang sudah berkembang dengan Negara yang sedang berkembang.
Departemen Sosial sebagai instansi yang membawahi sacara langsung masalah kemiskinan tidak pernah absent dalam mengkajinya termasuk melaksanakan program-program kesejahteraan sosial yang dikenal dengan PROKESOS yang dilaksanakan baik secara intra-departemen maupun antar-departemen bekerjasama dengan departemen-departemen lain secara lintas sektoral. Dalam garis besar, pendekatan Depsos dalam menelaah dan menangani kemiskinan sangat dipengaruhi oleh persepektif pekerjaan sosial (social work). Pekerjaan sosial dimaksud, bukanlah kegiatan-kegiatan sukarela atau pekerjaan-pekerjaan amal begitu saja, melainkan merupakan profesi pertolongan kemanusiaan yang memiliki dasar-dasar keilmuan (body of knowledge), nilai-nilai (body of value) dan keterampilan (body of skills) professional yang umumnya diperoleh melalui pendidikan tinggi pekerjaan sosial ( S1, S2,dan S3 ).
Sementara itu klasifikasi atau penggolongan seseorang atau masyarakat dikatakan miskin ditetapakan dengan menggunakan tolak ukur utama, yaitu :
Tingkat pendapatan. Misalnya saja di Indonesia, tingkat pendapatan digunakan ukuran kerja waktu sebulan. Dengan adanya tolak ukur ini, maka jumlah dan siapa yang tergolong dalam orang miskin dapat diketahui dengan pendapatannya perbulan. Atau dengan menggunakan batas minimal jumlah kalori yang di konsumsi, yang diambil persamaanya dalam kg beras.
Kebutuhan relatif per keluarga. Dibuat berdasarkan atas kebutuhan minimal yang harus dipenuhi dalam sebuah keluarga agar dapat melangsungkan kehidupannya secara sederhana tetapi memadai sebagai warga masyarakat yang layak.
Jika dikaitkan dengan kemakmuran, maka ada dua persepsi masyarakat yang cukup berlawanan tentang hal ini. Persepsi pertama adalah yang berpikir rasional dan eksak. Bahwa kemakmuran seseorang diukur dengan jumlah serta nilai bahan-bahan dan barang-barang yang dimiliki dan dikuasai untuk memelihara dan menikmati hidupnya. Semakin banyak jumlah dan makin tinggi nilainya, maka akan makin tinggi taraf kemakmuran hidupnya. Sedangkan persepsi kedua adalah pandangan masyarakat umum, terutama pedesaan. Mereka beranggapan bahwa kemakmuran tidaklah berbeda dengan kebahagiaan. Seseorang akan merasa makmur bila sudah ada keserasian antara keinginan-keinginan dan keadaan materil atau sosial yang dimiliki atau dikuasainya. Karenanya mereka selalu berusaha untuk menyeimbangkan antara keinginan dan keadaan materinya. Jika keinginan mereka berlebih, sementara keadaan materil mereka tidak mencukupi maka mereka harus mengurangi keinginan yang ada, begitu juga sebaliknya.
Kemiskinan secara umum dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok, yaitu :
1. Kemiskinan yang disebabkan aspek badaniyah atau mental seseorang. Pada aspek badaniyah, biasanya orang tersebut tidak bisa berbuat maksimal sebagaimana manusia lainnya yang sehat jasmani seperti sakit parah atau cacat badan. Sedangkan aspek mental, biasanya mereka disifati oleh sifat malas bekerja dan berusaha ssecara wajar, sebagaimana manusia lainnya.
2. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam. Biasanya pihak pemerintah menempuh dua cara, yaitu memberi pertolongan sementara dengan bantuan secukupnya dan mentransmigrasikan ke tempat hidup yang lebih baik.
3. Kemiskinan buatan atau bkemiskinan structural. Selain disebabkan oleh keadaan pasrah pada kemiskinan dan memandangnya sebagai nasib dan takdir Tuhan, juga karena struktur ekonomi, sosial dan pollitik.
C. STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN
Usaha dalam memerangi kemiskinan dapat dilakukan dengan cara memberikan pekerjaan yang mempunyai pendapatan yang layak kepada orang miskin. Kerena dengan cara ini bukan hanya tingkat pendapatan yang dinaikkan, tetapi harga diri sebagai manusia dan sebagai warga masyarakat dapat dinaikkan seperti warga masyarakat lainnya. Dengan lapangan kerja dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja dan merangsang berbagai kegiatan-kegiatan di sektor ekonomi lainnya.
Sesuai dengan konsepsi mengenai keberfungsian sosial, strategi penanganan kemiskinan pekerjaan sosial terfokus pada peningkatan kemampuan orang miskin dalam menjalankan tugas-tugas kehidupan sesuai dengan statusnya. Karena tugas-tugas kehidupan dan status merupakan konsepsi yang dinamis dan multi-wajah, maka intervensi pekerjaan sosial senantiasa melihat sasaran perubahan (orang miskin) tidak terpisah dari lingkungan dan situasi yang dihadapinya. Prinsip in dikenal dengan pendekatan “person in environment dan person in situation”
Seperti yang telah dijelaskan diatas Depsos sebagai suatu instansi memiliki pula beberapa agenda yang memang merupakan disiapkan untuk menekan angka kemiskinan, diantara program kerja Depsos yang telah terealisasi yang menurut Edi Suharto, Phd adalah strategi pendekatan pertama yaitu pekerja sosial melihat penyebab kemiskinan dan sumber-sumber penyelesaian kemiskinan dalam kaitannya dengan lingkungan dimana si miskin tinggal, baik dalam konteks keluarga, kelompok pertemanan (peer group), maupun masyarakat. Penanganan kemiskinan yang bersifat kelembagaan (institutional) biasanya didasari oleh pertimbangan ini. Beberapa bentuk PROKESOS yang telah dan sedang dikembangkan oleh Depsos dapat disederhanakan menjadi :
1. pemberian pelayanan dan rehabilitasi sosial yang diselenggarakan oleh panti-panti sosial
2. program jaminan, perlindungan dan asuransi kesejahteraan sosial
3. bekerjasama dengan instansi lain dalam melakukan swadaya dan pemberdayaan usaha miro, dan pendistribusian bantuan kemanusiaan, dan lain-lain
Pendekatan kedua, yang melihat si miskin dalam konteks situasinya, strategi pekerjaan sosial berpijak pada prinsip-prinsip individualisation dan self-determinism yang melihat si miskin secara individual yang memiliki masalah dan kemampuan unik. Program anti kemiskinan dalam kacamata ini disesuaikan dengan kejadian-kejadian dan atau masalah-masalah yang dihadapinya. PROKESOS penanganan kemiskinan dapat dikategorikan ke dalam beberapa strategi, diantaranya :
1. Strategi kedaruratan. Misalnya, bantuan uang, barang dan tenaga bagi korban bencana alam.
2. Strategi kesementaraan atau residual. Misalnya, bantuan stimulant untuk usaha-usaha ekonomis produktif.
3. Strategi pemberdayaan. Misalnya, program pelatihan dan pembinaan keluarga muda mandiri, pembinaan partisipasi sosial masyarakat, pembinaan anak dan remaja.
4. Strategi “penanganan bagian yang hilang”. Strategi yang oleh Caroline Moser disebut sebagai “the missing piece strategy” ini meliputi program-program yang dianggap dapat memutuskan rantai kemiskinan melalui penanganan salah satu aspek kunci kemiskinan yang kalau “disentuh” akan membawa dampak pada aspek-aspek lainnya. Misalnya, pemberian kredit, program KUBE (kelompok usaha bersama)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kemiskinan yaitu suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
Klasifikasi orang dikatakan miskin :
Tingkat pendapatan di bawah standar yang layak dalam masyarakat yang bersangkkutan.
Kebutuhan relatif per keluarga, keseimbangan antara pendapatan dan kebutuhan keluarga.
B. SARAN
Untuk memerangi kemiskinan yang terjadi dalam masyarakat, pemerintah hendaknya membuka lapangan pekerjaan yang sangat di butuhkan oleh masyarakat dalm memperbaiki taraf hidupnya. Selain pemerintah, masyarakat juga hendaknya ikut berperan serta dalam mengurangi tingkat kemiskinan ini seperti membuka lapangan kerja untuk masyarakat yang lainnya.
Di dalam pembuatan makalah ini mungkin masih banyak kekurangan, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Edi Suharto. Phd. Konsep Kemiskinan dan Strategi Penanggulangannya
Edi Suharto, Phd . Pendekatan Pekerja Sosial dalam Menangani masalah kemiskinan
http://www.policy.hu/suharto/makIndo13.html
(KEMISKINAN)
DI TULIS OLEH :
NAMA : Rachmad Rivai
NPM : 2009221
MK : Ilmu Sosial Dasar (ISD)
PRODI : Bahasa Indonesia
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) LUBUKLINGGAU
2011/2012
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi robbil’alamin puji syukur penulis persembahkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan, baik jasmani maupun rohani, sehingga dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga selalu dilimapAhkan oleh_NYA kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW para keluarga, sahabat, kerabat serta pengikut-pengikutnya yang selalu setia hingga akhir zaman amiiin.
Tak lupa juga penulis menyampaikan terima kasih kepada para dosen pembimbing mata kuliah khususnya bapak Drs. Jamiluddin sebagai dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Sosial Dasar (ISD) yang telah membimbing kami dalam semester ini.
Penulis juga menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih atas kritik dan saran semoga makalah ini berguna untuk kita.
Lubuklinggau, Januari 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………. iii
BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………........ 1
A. LATAR BELAKANG ……………………………………..... 1
B. RUMUSAN MASALAH ………………………………….... 1
C. TUJUAN …………………………………………………….. 1
BAB II. PEMBAHASAN ………………………………………………. 2
A. MASALAH SOSIA ………………………………………… 2
B. KEMISKINAN ……………………………………………… 2
C. STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN ……... 5
BAB III. PENUTUP …………………………………………………….. 7
A. KESIMPULAN ……………………………………………… 7
B. SARAN ………………………………………………..…….. 7
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………..……….. 8
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kemiskinan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk problema yang muncul dalam kehidupan masyarakat, khususnya pada Negara-negara yang sedang berkembang sperti Indonesia yang masih begitu besar tingkat kemiskinan masyarakatnya. Kemiskinan yang dimaksud adalah kemiskinan dalam bidang ekonomi. Dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian dan tempat berteduh.
Banyak faktor yang melatar belakangi masalah kemiskinan ini seperti ekonomi, sosial atau budaya yang ada di dalam masyarakat.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian di atas dapat kita lihat berbagai permasalahan yang ada dalam masalah kemiskinan ini seperti :
1. Mengapa kemiskinan terjadi?
2. Apa faktor penyebab kemiskinan?
3. Orang atau masyarakat yang bagaimana dikatakan miskin?
4. Bagaimarna strategi penanggulangan masalah kemiskinan ini?
C. TUJUAN
Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dasar (ISD) sebagai tugas akhir semester gazal, pembuatan makalah ini juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca betapa harusnya kita memberantas kemiskinan ataupun minimal dapat mengurangi tingkat kemiskinan ini, agar kita tidak selalu mengandalkan pemerintah untuk mengurangi kemiskinan ini, tetapi masyarakat juga harus ikut berperan dalam mengurangi masalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. MASALAH SOSIAL
Menurut Soerjono Soekamto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.
Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.
B. KEMISKINAN
Kemiskinan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk problema atau masalah sosial yang muncul dalam kehidupan masyarakat, khususnya pada negara-negara yang sedang berkembang atau bahkan terkadang dapat pula terjadi pada Negara maju, biasanya perrmasalahan kemiskinan pada Negara maju sering terjadi pada para imigran.
Sebagai masalah yang menjadi isu global disetiap Negara berkembang, wacana kemiskinan dan pemberantasannya haruslah menjadi agenda wajib bagi para pemerintah dan pemimpin Negara. Peran serta pekerja sosial dalam menangani permasalahan kemiskinan sangat diperlukan, terlebih dalam memberikan masukkan (input) dan melakukan perencanaan strategis (strategic planning) tentang apa yang akan menjadi suatu kebijakan dari pemerintah.
Sebelum mengetahuinya lebih dalam, perlu diketahui penyebab kemiskinan yang secara tidak langsung menjadi standar global :
1. kemiskinan kebudayaan, hal ini biasanya terjadi disebabkan karena adanya kesalahan pada subyeknya. Misalnya : malas, tidak percaya diri, gengsi, tak memiliki jiwa wirausaha yang kompatibel, tidak mempunyai kemampuan dan keahlian, dan sebagainya.
2. kemiskinan structural, hal ini biasanya terjadi karena disebabkan oleh faktor eksternal yang melatarbelakangi kemiskinan. Faktor eksternal itu biasanya disebabkan kinerja dari pemerintah diantaranya : pemerintah yang tidak adil, korupsi, paternalistik, birokrasi yang berbelit, dan sebagainya.
Isbandi Rukminto Adi, Phd menegaskan pula tentang akar kemiskinan berdasarkan level permasalahan dan membaginya menjadi beberapa dimensi, diantaranya:
1. Dimensi Mikro : mentalitas materialistic dan ingin serba cepat ( instan )
2. Dimensi Mezzo : melemahnya social trust ( kepercayaan social ) dalam suatu komunitas dan organisasi, dan otomatis hal ini sangat berpengaruh terhadap si subyek itu sendiri
3. Dimensi Makro : kesenjangan (ketidakadilan) pembangunan daerah yang minus (desa) dengan daerah yang surplus (kota), strategi pembangunan yang kurang tepat (tidak sesuai dengan kondisi sosio-demografis) masyarakat Indonesia
4. Dimensi Global : adanya ketidakseimbangan relasi antara Negara yang sudah berkembang dengan Negara yang sedang berkembang.
Departemen Sosial sebagai instansi yang membawahi sacara langsung masalah kemiskinan tidak pernah absent dalam mengkajinya termasuk melaksanakan program-program kesejahteraan sosial yang dikenal dengan PROKESOS yang dilaksanakan baik secara intra-departemen maupun antar-departemen bekerjasama dengan departemen-departemen lain secara lintas sektoral. Dalam garis besar, pendekatan Depsos dalam menelaah dan menangani kemiskinan sangat dipengaruhi oleh persepektif pekerjaan sosial (social work). Pekerjaan sosial dimaksud, bukanlah kegiatan-kegiatan sukarela atau pekerjaan-pekerjaan amal begitu saja, melainkan merupakan profesi pertolongan kemanusiaan yang memiliki dasar-dasar keilmuan (body of knowledge), nilai-nilai (body of value) dan keterampilan (body of skills) professional yang umumnya diperoleh melalui pendidikan tinggi pekerjaan sosial ( S1, S2,dan S3 ).
Sementara itu klasifikasi atau penggolongan seseorang atau masyarakat dikatakan miskin ditetapakan dengan menggunakan tolak ukur utama, yaitu :
Tingkat pendapatan. Misalnya saja di Indonesia, tingkat pendapatan digunakan ukuran kerja waktu sebulan. Dengan adanya tolak ukur ini, maka jumlah dan siapa yang tergolong dalam orang miskin dapat diketahui dengan pendapatannya perbulan. Atau dengan menggunakan batas minimal jumlah kalori yang di konsumsi, yang diambil persamaanya dalam kg beras.
Kebutuhan relatif per keluarga. Dibuat berdasarkan atas kebutuhan minimal yang harus dipenuhi dalam sebuah keluarga agar dapat melangsungkan kehidupannya secara sederhana tetapi memadai sebagai warga masyarakat yang layak.
Jika dikaitkan dengan kemakmuran, maka ada dua persepsi masyarakat yang cukup berlawanan tentang hal ini. Persepsi pertama adalah yang berpikir rasional dan eksak. Bahwa kemakmuran seseorang diukur dengan jumlah serta nilai bahan-bahan dan barang-barang yang dimiliki dan dikuasai untuk memelihara dan menikmati hidupnya. Semakin banyak jumlah dan makin tinggi nilainya, maka akan makin tinggi taraf kemakmuran hidupnya. Sedangkan persepsi kedua adalah pandangan masyarakat umum, terutama pedesaan. Mereka beranggapan bahwa kemakmuran tidaklah berbeda dengan kebahagiaan. Seseorang akan merasa makmur bila sudah ada keserasian antara keinginan-keinginan dan keadaan materil atau sosial yang dimiliki atau dikuasainya. Karenanya mereka selalu berusaha untuk menyeimbangkan antara keinginan dan keadaan materinya. Jika keinginan mereka berlebih, sementara keadaan materil mereka tidak mencukupi maka mereka harus mengurangi keinginan yang ada, begitu juga sebaliknya.
Kemiskinan secara umum dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok, yaitu :
1. Kemiskinan yang disebabkan aspek badaniyah atau mental seseorang. Pada aspek badaniyah, biasanya orang tersebut tidak bisa berbuat maksimal sebagaimana manusia lainnya yang sehat jasmani seperti sakit parah atau cacat badan. Sedangkan aspek mental, biasanya mereka disifati oleh sifat malas bekerja dan berusaha ssecara wajar, sebagaimana manusia lainnya.
2. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam. Biasanya pihak pemerintah menempuh dua cara, yaitu memberi pertolongan sementara dengan bantuan secukupnya dan mentransmigrasikan ke tempat hidup yang lebih baik.
3. Kemiskinan buatan atau bkemiskinan structural. Selain disebabkan oleh keadaan pasrah pada kemiskinan dan memandangnya sebagai nasib dan takdir Tuhan, juga karena struktur ekonomi, sosial dan pollitik.
C. STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN
Usaha dalam memerangi kemiskinan dapat dilakukan dengan cara memberikan pekerjaan yang mempunyai pendapatan yang layak kepada orang miskin. Kerena dengan cara ini bukan hanya tingkat pendapatan yang dinaikkan, tetapi harga diri sebagai manusia dan sebagai warga masyarakat dapat dinaikkan seperti warga masyarakat lainnya. Dengan lapangan kerja dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja dan merangsang berbagai kegiatan-kegiatan di sektor ekonomi lainnya.
Sesuai dengan konsepsi mengenai keberfungsian sosial, strategi penanganan kemiskinan pekerjaan sosial terfokus pada peningkatan kemampuan orang miskin dalam menjalankan tugas-tugas kehidupan sesuai dengan statusnya. Karena tugas-tugas kehidupan dan status merupakan konsepsi yang dinamis dan multi-wajah, maka intervensi pekerjaan sosial senantiasa melihat sasaran perubahan (orang miskin) tidak terpisah dari lingkungan dan situasi yang dihadapinya. Prinsip in dikenal dengan pendekatan “person in environment dan person in situation”
Seperti yang telah dijelaskan diatas Depsos sebagai suatu instansi memiliki pula beberapa agenda yang memang merupakan disiapkan untuk menekan angka kemiskinan, diantara program kerja Depsos yang telah terealisasi yang menurut Edi Suharto, Phd adalah strategi pendekatan pertama yaitu pekerja sosial melihat penyebab kemiskinan dan sumber-sumber penyelesaian kemiskinan dalam kaitannya dengan lingkungan dimana si miskin tinggal, baik dalam konteks keluarga, kelompok pertemanan (peer group), maupun masyarakat. Penanganan kemiskinan yang bersifat kelembagaan (institutional) biasanya didasari oleh pertimbangan ini. Beberapa bentuk PROKESOS yang telah dan sedang dikembangkan oleh Depsos dapat disederhanakan menjadi :
1. pemberian pelayanan dan rehabilitasi sosial yang diselenggarakan oleh panti-panti sosial
2. program jaminan, perlindungan dan asuransi kesejahteraan sosial
3. bekerjasama dengan instansi lain dalam melakukan swadaya dan pemberdayaan usaha miro, dan pendistribusian bantuan kemanusiaan, dan lain-lain
Pendekatan kedua, yang melihat si miskin dalam konteks situasinya, strategi pekerjaan sosial berpijak pada prinsip-prinsip individualisation dan self-determinism yang melihat si miskin secara individual yang memiliki masalah dan kemampuan unik. Program anti kemiskinan dalam kacamata ini disesuaikan dengan kejadian-kejadian dan atau masalah-masalah yang dihadapinya. PROKESOS penanganan kemiskinan dapat dikategorikan ke dalam beberapa strategi, diantaranya :
1. Strategi kedaruratan. Misalnya, bantuan uang, barang dan tenaga bagi korban bencana alam.
2. Strategi kesementaraan atau residual. Misalnya, bantuan stimulant untuk usaha-usaha ekonomis produktif.
3. Strategi pemberdayaan. Misalnya, program pelatihan dan pembinaan keluarga muda mandiri, pembinaan partisipasi sosial masyarakat, pembinaan anak dan remaja.
4. Strategi “penanganan bagian yang hilang”. Strategi yang oleh Caroline Moser disebut sebagai “the missing piece strategy” ini meliputi program-program yang dianggap dapat memutuskan rantai kemiskinan melalui penanganan salah satu aspek kunci kemiskinan yang kalau “disentuh” akan membawa dampak pada aspek-aspek lainnya. Misalnya, pemberian kredit, program KUBE (kelompok usaha bersama)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kemiskinan yaitu suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
Klasifikasi orang dikatakan miskin :
Tingkat pendapatan di bawah standar yang layak dalam masyarakat yang bersangkkutan.
Kebutuhan relatif per keluarga, keseimbangan antara pendapatan dan kebutuhan keluarga.
B. SARAN
Untuk memerangi kemiskinan yang terjadi dalam masyarakat, pemerintah hendaknya membuka lapangan pekerjaan yang sangat di butuhkan oleh masyarakat dalm memperbaiki taraf hidupnya. Selain pemerintah, masyarakat juga hendaknya ikut berperan serta dalam mengurangi tingkat kemiskinan ini seperti membuka lapangan kerja untuk masyarakat yang lainnya.
Di dalam pembuatan makalah ini mungkin masih banyak kekurangan, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Edi Suharto. Phd. Konsep Kemiskinan dan Strategi Penanggulangannya
Edi Suharto, Phd . Pendekatan Pekerja Sosial dalam Menangani masalah kemiskinan
http://www.policy.hu/suharto/makIndo13.html
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia
OLEH
NAMA/ NPM : RACHMAD RIVAI (2009221)
PRODI : Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia
MK : Pembinaan dan Pengembangan BI
Beberapa definisi dari pembinaan adalah sebagai berikut :
A. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Poerwadarmita, 1987), pembinaan adalah suatu usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
B. Menurut Thoha (1987:7), pembinaan adalah suatu proses, hasil atau pertanyaan menjadi lebih baik, dalam hal ini mewujudkan adanya perubahan, kemajuan, peningkatan, pertumbuhan, evaluasi atau berbagai kemungkinan atas sesuatu.
C. Menurut Widjaja (1989), pembinaan adalah suatu proses atau pengembangan yang mencakup urutan-urutan pengertian, diawali dengan mendirikan, membutuhkan, memelihara pertumbuhan tersebut yang disertai usaha-usaha perbaikan, menyempurnakan dan mengembangkannya.
Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembinaan adalah suatu proses atau tindakan yang secara efisien, efektif dan bertahap dengan tujuan untuk mewujudkan perubahan dan menyempurnakan agar lebih baik.
Sedangkan pengembangan adalah suatu proses, cara atau perbuatan mengembangkan sesuatu menjadi lebih baik.
Kesimpulan :
Jadi pengertian atau definisi dari Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia menurut saya adalah suatu proses, cara atau perbuatan yang efisien dan efektif mengembangkan dan menyempurnakan bahasa, yaitu bahasa Indonesia agar lebih baik.
NAMA/ NPM : RACHMAD RIVAI (2009221)
PRODI : Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia
MK : Pembinaan dan Pengembangan BI
Beberapa definisi dari pembinaan adalah sebagai berikut :
A. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Poerwadarmita, 1987), pembinaan adalah suatu usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
B. Menurut Thoha (1987:7), pembinaan adalah suatu proses, hasil atau pertanyaan menjadi lebih baik, dalam hal ini mewujudkan adanya perubahan, kemajuan, peningkatan, pertumbuhan, evaluasi atau berbagai kemungkinan atas sesuatu.
C. Menurut Widjaja (1989), pembinaan adalah suatu proses atau pengembangan yang mencakup urutan-urutan pengertian, diawali dengan mendirikan, membutuhkan, memelihara pertumbuhan tersebut yang disertai usaha-usaha perbaikan, menyempurnakan dan mengembangkannya.
Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembinaan adalah suatu proses atau tindakan yang secara efisien, efektif dan bertahap dengan tujuan untuk mewujudkan perubahan dan menyempurnakan agar lebih baik.
Sedangkan pengembangan adalah suatu proses, cara atau perbuatan mengembangkan sesuatu menjadi lebih baik.
Kesimpulan :
Jadi pengertian atau definisi dari Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia menurut saya adalah suatu proses, cara atau perbuatan yang efisien dan efektif mengembangkan dan menyempurnakan bahasa, yaitu bahasa Indonesia agar lebih baik.
Sosiolinguistik Variasi Bahasa
VARIASI BAHASA
DI TULIS OLEH :
NAMA : RACHMAD RIVAI
NPM : 2009221
PRODI : Pend. Bhs. dan Sastra Indo
MK : SOSIOLINGUISTIK
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) LUBUKLINGGAU
2010/2011
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahii robbil’alamin puji syukur penulis ucapkan kepada ALLAH SWT, yang telah memberikan nikmat kesehatan, baik kesehatan jasmani maupun rohani, sehingga dapat menyusun makalah ini sebagaimana mestinya. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan oleh_NYA kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW para keluarga, sahabat, kerabat serta para pengikut-pengikutnya yang selalu setia hingga akhir zaman amiiin.
Tak lupa juga penulis ucapkan terima kasih kepada para dosen yang memberikan bimbingan mata kuliah,terutama bapak Supriyanto, M.Pd yang memberikan bimbingan mata kuliah Sosiolinguistik umum ini.
Penulis juga menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan makalah-makalah selanjutnya sangat di harapkan. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Lubuklinggau, Desember 2010
PENULIS
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I, PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Linguistik
B. Pengertian Variasi Bahasa
C. Macam-macam Variasi Bahasa
D. Sebab-sebab Adanya Variasi Bahasa
E. Penggunaan Variasi Bahasa
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bahasa adalah lambang bunyi yang di hasilkan oleh alat ucap yang mempunyai makna atau arti. Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh makhluk hidup untuk berinteraksi sesamanya, terutama manusia. Macam-macam bahasa di dunia ini sungguh beragam, terutama di Indonesia yang mempunyai banyak suku bangsa, budaya dan bahasa. Proses menguasai bahasa melibatkan soal-soal luaran seperti latar belakang sosial penutur, kedudukan dan kebudayaan penutur dalam masyarakat.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian dari variasi bahasa itu?
2. Bagaimana macam-macam variasi bahasa itu?
3. Apa saja yang menyebabkan adanya variasi bahasa itu?
4. Bagaimana penggunaan variasi bahasa tersebut?
C. TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memperlihatkan bahwa begitu banyaknya bahasa-bahasa yang digunakan dalam masyarakat untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Variasi-variasi bahasa ini disebabkan karena banyak hal seperti latar belakang sosial, budaya, pendidikan, bahkan kedudukan ekonomi yang berbeda-beda.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN SOSIOLINGUISTIK
Sosiolinguistik merupakan ilmu antar disiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan yang sangat erat. Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kegiatan sosial ataupun gejala sosial dalam suatu masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil objek bahasa sebagai objek kajiannya. Sosiolinguistik menurut Kridalaksana merupakan ilmu yang mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa, serta hubungan diantara para bahasawan dengan ciri fungsi variasi bahasa itu didalam suatu masyarakat bahasa. Sedangkan menurut Nababan,Sosiolinguistik merupakan pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan.
B. PENGERTIAN VARIASI BAHASA
Variasi bahasa menurut Aslindgaf (2007:17) adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola yang menyerupai pola umum bahasa induksinya. Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register).
C. MCAM-MACAM VARIASI BAHASA
Chaer (2004:62) mengatakan bahwa variasi bahasa itu pertama-tama kita bedakan berdasarkan penutur dan penggunanya, Adapun penjelasan variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1). Variasi Bahasa dari Segi Penutur
a. Variasi Bahasa Idiolek
Variasi bahasa idiolek adalah variasi bahasa yang bersifat perorangan. Menurut konsep idiolek. setiap orang mempunyai variasi bahasa atau idioleknya masing-masing.
b. Variasi Bahasa Dialek
Variasi bahasa dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Umpamanya, bahasa Jawa dialek Banyumas, Pekalongan, Surabaya, dan lain sebagainya.
c. Variasi Bahasa Kronolek atau Dialek Temporal
Variasi bahasa kronolek atau dialek temporal adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok sosial pada masa tertentu. Misalnya,variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, variasi bahasa pada tahun lima puluhan, dan variasi bahasa pada masa kini.
d. Variasi Bahasa Sosiolek
Adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Variasi bahasa ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan lain sebagainya.
e. Variasi Bahasa Berdasarkan Usia
Variasi bahasa berdasarkan usia yaitu varisi bahasa yang digunakan berdasarkan tingkat usia. Misalnya variasi bahasa anak-anak akan berbeda dengan variasi remaja atau orang dewasa.
f. Variasi Bahasa Berdasarkan Pendidikan
Variasi bahasa yang terkait dengan tingkat pendidikan si pengguna bahasa. Misalnya, orang yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar akan berbeda variasi bahasanya dengan orang yang lulus sekolah tingkat atas. Demikian pula, orang lulus pada tingkat sekolah menengah atas akan berbeda penggunaan variasi bahasanya dengan mahasiswa atau para sarjana.
g. Variasi Bahasa Berdasarkan Seks
Variasi bahasa berdasarkan seks adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis kelamin dalam hal ini pria atau wanita. Misalnya, variasi bahasa yang digunakan oleh ibu-ibu akan berbeda dengan varisi bahasa yang digunakan oleh bapak-bapak.
h. Variasi Bahasa Berdasarkan Profesi, Pekerjaan atau Tugas Para Penutur
Variasi bahasa berdasarkan profesi adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis profesi, pekerjaan dan tugas para penguna bahasa tersebut. Misalnya, variasi yang digunakan oleh para buruh, guru, mubalik, dokter, dan lain sebagainya tentu mempunyai perbedaan variasi bahasa.
i. Variasi Bahasa Berdasarkan Tingkat Kebangsawanan
Variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan adalah variasi yang terkait dengan tingkat dan kedudukan penutur (kebangsawanan atau raja-raja) dalam masyarakatnya. Misalnya, adanya perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh raja (keturunan raja) dengan masyarakat biasa dalam bidang kosa kata, seperti kata mati digunakan untuk masyarakat biasa, sedangkan para raja menggunakan kata mangkat.
j. Variasi Bahasa Berdasarkan Tingkat Ekonomi Para Penutur
Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur adalah variasi bahasa yang mempunyai kemiripan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan hanya saja tingkat ekonomi bukan mutlak sebagai warisan sebagaimana halnya dengan tingkat kebangsawanan. Misalnya, seseorang yang mempunyai tingkat ekonomi yang tinggi akan mempunyai variasi bahasa yang berbeda dengan orang yang mempunyai tingkat ekonomi lemah.
Berkaitan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat golongan, status dan kelas sosial para penuturnya dikenal adanya variasi bahasa akrolek, basilek, vulgal, slang, kulokial, jargon, argoi, dan ken.
Adapun penjelasan tentang variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1. Akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi dari variasi sosial lainya.
2. Basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan di pandang rendah.
3. Vulgal adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakai bahasa yang kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak berpendidikan.
4. Slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia.
5. Kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari yang cenderung menyingkat kata karena bukan merupakan bahasa tulis. Misalnya dok (dokter), prof (profesor), let (letnan), nda (tidak), dll.
6. Jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok sosial tertentu. Misalnya, para montir dengan istilah roda gila, didongkrak, dll.
7. Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh profesi tertentu dan bersifat rahasia. Misalnya, bahasa para pencuri dan tukang copet,kaca mata artinya polisi.
8. Ken adalah variasi sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek penuh dengan kepura-puraan. Misalnya, variasi bahasa para pengemis.
2). Variasi Bahasa dari Segi Pemakaian
Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau fungsinya disebut fungsiolek atau register adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya bidang jurnalistik, militer, pertanian, perdagangan, pendidikan, dan sebagainya. Variasi bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tampak cirinya adalah dalam hal kosakata. Setiap bidang kegiatan biasanya mempunyai kosakata khusus yang tidak digunakan dalam bidang lain. Misalnya, bahasa dalam karya sastra biasanya menekan penggunaan kata dari segi estetis sehingga dipilih dan digunakanlah kosakata yang tepat. Ragam bahasa jurnalistik juga mempunyai ciri tertentu, yakni bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Sederhana karena harus dipahami dengan mudah; komunikatif karena jurnalis harus menyampaikan berita secara tepat; dan ringkas karena keterbatasasan ruang (dalam media cetak), dan keterbatasan waktu (dalam media elektronik). Intinya ragam bahasa yang dimaksud di atas, adalah ragam bahasa yang menunjukan perbedaan ditinjau dari segi siapa yang menggunakan bahasa tersebut.
3. Variasi Bahasa dari Segi Keformalan
Variasi bahasa berdasarkan tingkat keformalannya, Chaer (2004:700) membagi variasi bahasa atas lima macam gaya, yaitu:
a. Gaya atau Ragam Beku (frozen)
Gaya atau ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal,yang digunakan pada situasi-situasi hikmat, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah, dan sebagainya.
b. Gaya atau Ragam Resmi (formal)
Gaya atau ragam resmi adalah variasi bahasa yang biasa digunakan pada pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat, dan lain sebagainya.
c. Gaya atau Ragam Usaha (konsultatif)
Gaya atau ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa yang lazim dalam pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi.
d. Gaya atau Ragam Santai (casual)
Gaya bahasa ragam santai adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi yang tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu istirahat dan sebagainya.
e. Gaya atau Ragam Akrab (intimate)
Gaya atau ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab. Variasi bahasa ini biasanya pendek-pendek dan tidak jelas.
f. Variasi Bahasa dari Segi Sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Misalnya, telepon, telegraf, radio yang menunjukan adanya perbedaan dari variasi bahasa yang digunakan. salah satunya adalah ragam atau variasi bahasa lisan dan bahasa tulis yang pada kenyataannya menunjukan struktur yang tidak sama.
D. SEBAB-SEBAB ADANYA VARIASI BAHASA
Bebrapa penyebab adanya variasi bahasa adalah sebagai berikut :
1. Interferensi
Chaer (1994:66) memberikan batasan bahwa interferensi adalah terbawa masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan,sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah dari bahasa yang digunakan itu. Bahasa daerah menjadi proporsi utama dalam komunikasi resmi, sehingga rasa cinta terhadap bahasa nasional terkalahkan oleh bahasa daerah.
Alwi, dkk.(eds.) (2003:9), menyatakan bahwa banyaknya unsur pungutan dari bahasa Jawa, misalnya pemerkayaan bahasa Indonesia, tetapi masuknya unsur pungutan bahsa Inggris oleh sebagian orang dianggap pencemaran keaslian dan kemurnian bahasa kita. Hal tersebut yang menjadi sebab adanya interferensi. Selain bahasa daerah, bahasa asing (Inggris) bagi sebagian kecil orang Indonesia ditempatkan di atas bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa inggris di ruang umum telah menjadi kebiasaan yang tidak terelakkan lagi. Hal tersebut mengakibatkan lunturnya bahasa dan budaya Indonesia yang secara perlahan tetapi pasti telah menjadi bahasa primadona. Misalnya masyarakat lebih cenderung menggunakan kata “pull” untuk “dorong” dan “push” untuk “tarik”, serta “welcome” untuk “selamat datang”.
2. Integrasi
Selain Interferensi, integrasi juga dianggap sebagai pencemar terhadap bahasa Indonesia. Chaer (1994:67), menyatakan bahwa integrasi adalah unsur-unsur dari bahasa lain yang terbawa masuk dan sudah dianggap, diperlukan dan di pakai sebagai bagian dari bahasa yang menerima atau yang memasukinya. Proses integrasi ini tentunya memerlukan waktu yang cukup lama, sebab unsur yang berintegrasi itu telah di sesuaikan, baik lafalnya, ejaannya, maupun tata bentuknya. Contoh kata yang berintegrasi seperti montir, sopir, dongkrak.
3. Alih kode dan Campur Kode
Alih kode adalah beralihnya suatu kode (entah bahasa atau ragam bahasa tertentu) ke dalam kode yang lain (bahasa lain) (Chaer, 1994:67). Campur kode adalah dua kode atau lebih di gunakan bersama tanpa alasan, dan biasanya terjadi dalam situasi santai (Chaer, 1994:69). Diantara dua gejala bahasa itu, baik alih kode maupun campur kode gejala yang sering merusak bahasa Indonesia adalah campur kode. Biasanya dalam berbicara dalam bahasa Indonesia di campurkan dengan unsur-unsur bahasa daerah, begitu juga sebaliknya. Dalam kalangan orang terpelajar sering kali bahasa Indonesia di campur dengan unsur-unsur bahasa Inggris.
4. Bahasa Gaul
Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para anak jalanan. Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian mengumpulkan kosa kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus yang bernama kamus bahasa gaul pada tahun 1999. Contoh penggunaan bahasa gaul adalah sebagai berikut :
Bahasa Indonesia Bahasa Gaul
Ayah Bokap
Ibu Nyokap
Saya Gue
E. PENGGUNAAN VARIASI BAHASA
Penggunaan variasi bahasa harus di sesuaikan dengan tempatnya (diglosia), yaitu antara bahasa resmi dan tidak resmi.
1. Bahasa Resmi (Tinggi)
Bahasa resmi digunakan dalam situasi resmi seperti, pidato kenegaraan, pengantar pendidikan, khotbah, surat menyurat resmi, dan buku pelajaran.
2. Bahasa Tidak Resmi (Rendah)
Bahasa ini digunakan dalam situasi yang non formal atau tidak resmi, seperti di rumah, di warung, di jalan, surat-surat pribadi dan catatan untuk dirinya sendiri.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Variasi bahasa merupakan suatu fenomena bahasa yang ada dalam masyarakat yang dapat menghambat pertumbuhan, perkembangan serta penggunaan bahasa nasional (bahasa Indonesia) dan di anggap menyimpang terhadap bahasa. Dalam kehidupan sehari-hari hendaknya kita mampu menggunakan variasi-variasi bahasa ini sesuai dengan konteks dan tempatnya. Kita harus mampu membedakan di mana bahasa-bahasa itu harus di gunakan.
B. SARAN
Kita sebagai pengguna bahasa atau penutur hendaknya kita harus dapat menggunakan variasi-variasi bahasa tersebut sesuai dengan tempatnya.
Di sini penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehigga kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penulisan makalah-makalah selanjutnya sangat di harapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi,dkk (eds). 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
Chaer, Abdul dkk. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta
Chaer, Abdul. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta
www.um-pwr.ac.id/web/artikel.html
DI TULIS OLEH :
NAMA : RACHMAD RIVAI
NPM : 2009221
PRODI : Pend. Bhs. dan Sastra Indo
MK : SOSIOLINGUISTIK
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) LUBUKLINGGAU
2010/2011
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahii robbil’alamin puji syukur penulis ucapkan kepada ALLAH SWT, yang telah memberikan nikmat kesehatan, baik kesehatan jasmani maupun rohani, sehingga dapat menyusun makalah ini sebagaimana mestinya. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan oleh_NYA kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW para keluarga, sahabat, kerabat serta para pengikut-pengikutnya yang selalu setia hingga akhir zaman amiiin.
Tak lupa juga penulis ucapkan terima kasih kepada para dosen yang memberikan bimbingan mata kuliah,terutama bapak Supriyanto, M.Pd yang memberikan bimbingan mata kuliah Sosiolinguistik umum ini.
Penulis juga menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan makalah-makalah selanjutnya sangat di harapkan. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Lubuklinggau, Desember 2010
PENULIS
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I, PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Linguistik
B. Pengertian Variasi Bahasa
C. Macam-macam Variasi Bahasa
D. Sebab-sebab Adanya Variasi Bahasa
E. Penggunaan Variasi Bahasa
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bahasa adalah lambang bunyi yang di hasilkan oleh alat ucap yang mempunyai makna atau arti. Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh makhluk hidup untuk berinteraksi sesamanya, terutama manusia. Macam-macam bahasa di dunia ini sungguh beragam, terutama di Indonesia yang mempunyai banyak suku bangsa, budaya dan bahasa. Proses menguasai bahasa melibatkan soal-soal luaran seperti latar belakang sosial penutur, kedudukan dan kebudayaan penutur dalam masyarakat.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian dari variasi bahasa itu?
2. Bagaimana macam-macam variasi bahasa itu?
3. Apa saja yang menyebabkan adanya variasi bahasa itu?
4. Bagaimana penggunaan variasi bahasa tersebut?
C. TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memperlihatkan bahwa begitu banyaknya bahasa-bahasa yang digunakan dalam masyarakat untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Variasi-variasi bahasa ini disebabkan karena banyak hal seperti latar belakang sosial, budaya, pendidikan, bahkan kedudukan ekonomi yang berbeda-beda.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN SOSIOLINGUISTIK
Sosiolinguistik merupakan ilmu antar disiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan yang sangat erat. Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kegiatan sosial ataupun gejala sosial dalam suatu masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil objek bahasa sebagai objek kajiannya. Sosiolinguistik menurut Kridalaksana merupakan ilmu yang mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa, serta hubungan diantara para bahasawan dengan ciri fungsi variasi bahasa itu didalam suatu masyarakat bahasa. Sedangkan menurut Nababan,Sosiolinguistik merupakan pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan.
B. PENGERTIAN VARIASI BAHASA
Variasi bahasa menurut Aslindgaf (2007:17) adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola yang menyerupai pola umum bahasa induksinya. Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register).
C. MCAM-MACAM VARIASI BAHASA
Chaer (2004:62) mengatakan bahwa variasi bahasa itu pertama-tama kita bedakan berdasarkan penutur dan penggunanya, Adapun penjelasan variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1). Variasi Bahasa dari Segi Penutur
a. Variasi Bahasa Idiolek
Variasi bahasa idiolek adalah variasi bahasa yang bersifat perorangan. Menurut konsep idiolek. setiap orang mempunyai variasi bahasa atau idioleknya masing-masing.
b. Variasi Bahasa Dialek
Variasi bahasa dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Umpamanya, bahasa Jawa dialek Banyumas, Pekalongan, Surabaya, dan lain sebagainya.
c. Variasi Bahasa Kronolek atau Dialek Temporal
Variasi bahasa kronolek atau dialek temporal adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok sosial pada masa tertentu. Misalnya,variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, variasi bahasa pada tahun lima puluhan, dan variasi bahasa pada masa kini.
d. Variasi Bahasa Sosiolek
Adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Variasi bahasa ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan lain sebagainya.
e. Variasi Bahasa Berdasarkan Usia
Variasi bahasa berdasarkan usia yaitu varisi bahasa yang digunakan berdasarkan tingkat usia. Misalnya variasi bahasa anak-anak akan berbeda dengan variasi remaja atau orang dewasa.
f. Variasi Bahasa Berdasarkan Pendidikan
Variasi bahasa yang terkait dengan tingkat pendidikan si pengguna bahasa. Misalnya, orang yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar akan berbeda variasi bahasanya dengan orang yang lulus sekolah tingkat atas. Demikian pula, orang lulus pada tingkat sekolah menengah atas akan berbeda penggunaan variasi bahasanya dengan mahasiswa atau para sarjana.
g. Variasi Bahasa Berdasarkan Seks
Variasi bahasa berdasarkan seks adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis kelamin dalam hal ini pria atau wanita. Misalnya, variasi bahasa yang digunakan oleh ibu-ibu akan berbeda dengan varisi bahasa yang digunakan oleh bapak-bapak.
h. Variasi Bahasa Berdasarkan Profesi, Pekerjaan atau Tugas Para Penutur
Variasi bahasa berdasarkan profesi adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis profesi, pekerjaan dan tugas para penguna bahasa tersebut. Misalnya, variasi yang digunakan oleh para buruh, guru, mubalik, dokter, dan lain sebagainya tentu mempunyai perbedaan variasi bahasa.
i. Variasi Bahasa Berdasarkan Tingkat Kebangsawanan
Variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan adalah variasi yang terkait dengan tingkat dan kedudukan penutur (kebangsawanan atau raja-raja) dalam masyarakatnya. Misalnya, adanya perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh raja (keturunan raja) dengan masyarakat biasa dalam bidang kosa kata, seperti kata mati digunakan untuk masyarakat biasa, sedangkan para raja menggunakan kata mangkat.
j. Variasi Bahasa Berdasarkan Tingkat Ekonomi Para Penutur
Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur adalah variasi bahasa yang mempunyai kemiripan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan hanya saja tingkat ekonomi bukan mutlak sebagai warisan sebagaimana halnya dengan tingkat kebangsawanan. Misalnya, seseorang yang mempunyai tingkat ekonomi yang tinggi akan mempunyai variasi bahasa yang berbeda dengan orang yang mempunyai tingkat ekonomi lemah.
Berkaitan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat golongan, status dan kelas sosial para penuturnya dikenal adanya variasi bahasa akrolek, basilek, vulgal, slang, kulokial, jargon, argoi, dan ken.
Adapun penjelasan tentang variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1. Akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi dari variasi sosial lainya.
2. Basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan di pandang rendah.
3. Vulgal adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakai bahasa yang kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak berpendidikan.
4. Slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia.
5. Kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari yang cenderung menyingkat kata karena bukan merupakan bahasa tulis. Misalnya dok (dokter), prof (profesor), let (letnan), nda (tidak), dll.
6. Jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok sosial tertentu. Misalnya, para montir dengan istilah roda gila, didongkrak, dll.
7. Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh profesi tertentu dan bersifat rahasia. Misalnya, bahasa para pencuri dan tukang copet,kaca mata artinya polisi.
8. Ken adalah variasi sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek penuh dengan kepura-puraan. Misalnya, variasi bahasa para pengemis.
2). Variasi Bahasa dari Segi Pemakaian
Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau fungsinya disebut fungsiolek atau register adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya bidang jurnalistik, militer, pertanian, perdagangan, pendidikan, dan sebagainya. Variasi bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tampak cirinya adalah dalam hal kosakata. Setiap bidang kegiatan biasanya mempunyai kosakata khusus yang tidak digunakan dalam bidang lain. Misalnya, bahasa dalam karya sastra biasanya menekan penggunaan kata dari segi estetis sehingga dipilih dan digunakanlah kosakata yang tepat. Ragam bahasa jurnalistik juga mempunyai ciri tertentu, yakni bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Sederhana karena harus dipahami dengan mudah; komunikatif karena jurnalis harus menyampaikan berita secara tepat; dan ringkas karena keterbatasasan ruang (dalam media cetak), dan keterbatasan waktu (dalam media elektronik). Intinya ragam bahasa yang dimaksud di atas, adalah ragam bahasa yang menunjukan perbedaan ditinjau dari segi siapa yang menggunakan bahasa tersebut.
3. Variasi Bahasa dari Segi Keformalan
Variasi bahasa berdasarkan tingkat keformalannya, Chaer (2004:700) membagi variasi bahasa atas lima macam gaya, yaitu:
a. Gaya atau Ragam Beku (frozen)
Gaya atau ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal,yang digunakan pada situasi-situasi hikmat, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah, dan sebagainya.
b. Gaya atau Ragam Resmi (formal)
Gaya atau ragam resmi adalah variasi bahasa yang biasa digunakan pada pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat, dan lain sebagainya.
c. Gaya atau Ragam Usaha (konsultatif)
Gaya atau ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa yang lazim dalam pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi.
d. Gaya atau Ragam Santai (casual)
Gaya bahasa ragam santai adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi yang tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu istirahat dan sebagainya.
e. Gaya atau Ragam Akrab (intimate)
Gaya atau ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab. Variasi bahasa ini biasanya pendek-pendek dan tidak jelas.
f. Variasi Bahasa dari Segi Sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Misalnya, telepon, telegraf, radio yang menunjukan adanya perbedaan dari variasi bahasa yang digunakan. salah satunya adalah ragam atau variasi bahasa lisan dan bahasa tulis yang pada kenyataannya menunjukan struktur yang tidak sama.
D. SEBAB-SEBAB ADANYA VARIASI BAHASA
Bebrapa penyebab adanya variasi bahasa adalah sebagai berikut :
1. Interferensi
Chaer (1994:66) memberikan batasan bahwa interferensi adalah terbawa masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan,sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah dari bahasa yang digunakan itu. Bahasa daerah menjadi proporsi utama dalam komunikasi resmi, sehingga rasa cinta terhadap bahasa nasional terkalahkan oleh bahasa daerah.
Alwi, dkk.(eds.) (2003:9), menyatakan bahwa banyaknya unsur pungutan dari bahasa Jawa, misalnya pemerkayaan bahasa Indonesia, tetapi masuknya unsur pungutan bahsa Inggris oleh sebagian orang dianggap pencemaran keaslian dan kemurnian bahasa kita. Hal tersebut yang menjadi sebab adanya interferensi. Selain bahasa daerah, bahasa asing (Inggris) bagi sebagian kecil orang Indonesia ditempatkan di atas bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa inggris di ruang umum telah menjadi kebiasaan yang tidak terelakkan lagi. Hal tersebut mengakibatkan lunturnya bahasa dan budaya Indonesia yang secara perlahan tetapi pasti telah menjadi bahasa primadona. Misalnya masyarakat lebih cenderung menggunakan kata “pull” untuk “dorong” dan “push” untuk “tarik”, serta “welcome” untuk “selamat datang”.
2. Integrasi
Selain Interferensi, integrasi juga dianggap sebagai pencemar terhadap bahasa Indonesia. Chaer (1994:67), menyatakan bahwa integrasi adalah unsur-unsur dari bahasa lain yang terbawa masuk dan sudah dianggap, diperlukan dan di pakai sebagai bagian dari bahasa yang menerima atau yang memasukinya. Proses integrasi ini tentunya memerlukan waktu yang cukup lama, sebab unsur yang berintegrasi itu telah di sesuaikan, baik lafalnya, ejaannya, maupun tata bentuknya. Contoh kata yang berintegrasi seperti montir, sopir, dongkrak.
3. Alih kode dan Campur Kode
Alih kode adalah beralihnya suatu kode (entah bahasa atau ragam bahasa tertentu) ke dalam kode yang lain (bahasa lain) (Chaer, 1994:67). Campur kode adalah dua kode atau lebih di gunakan bersama tanpa alasan, dan biasanya terjadi dalam situasi santai (Chaer, 1994:69). Diantara dua gejala bahasa itu, baik alih kode maupun campur kode gejala yang sering merusak bahasa Indonesia adalah campur kode. Biasanya dalam berbicara dalam bahasa Indonesia di campurkan dengan unsur-unsur bahasa daerah, begitu juga sebaliknya. Dalam kalangan orang terpelajar sering kali bahasa Indonesia di campur dengan unsur-unsur bahasa Inggris.
4. Bahasa Gaul
Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para anak jalanan. Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian mengumpulkan kosa kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus yang bernama kamus bahasa gaul pada tahun 1999. Contoh penggunaan bahasa gaul adalah sebagai berikut :
Bahasa Indonesia Bahasa Gaul
Ayah Bokap
Ibu Nyokap
Saya Gue
E. PENGGUNAAN VARIASI BAHASA
Penggunaan variasi bahasa harus di sesuaikan dengan tempatnya (diglosia), yaitu antara bahasa resmi dan tidak resmi.
1. Bahasa Resmi (Tinggi)
Bahasa resmi digunakan dalam situasi resmi seperti, pidato kenegaraan, pengantar pendidikan, khotbah, surat menyurat resmi, dan buku pelajaran.
2. Bahasa Tidak Resmi (Rendah)
Bahasa ini digunakan dalam situasi yang non formal atau tidak resmi, seperti di rumah, di warung, di jalan, surat-surat pribadi dan catatan untuk dirinya sendiri.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Variasi bahasa merupakan suatu fenomena bahasa yang ada dalam masyarakat yang dapat menghambat pertumbuhan, perkembangan serta penggunaan bahasa nasional (bahasa Indonesia) dan di anggap menyimpang terhadap bahasa. Dalam kehidupan sehari-hari hendaknya kita mampu menggunakan variasi-variasi bahasa ini sesuai dengan konteks dan tempatnya. Kita harus mampu membedakan di mana bahasa-bahasa itu harus di gunakan.
B. SARAN
Kita sebagai pengguna bahasa atau penutur hendaknya kita harus dapat menggunakan variasi-variasi bahasa tersebut sesuai dengan tempatnya.
Di sini penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehigga kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penulisan makalah-makalah selanjutnya sangat di harapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi,dkk (eds). 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
Chaer, Abdul dkk. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta
Chaer, Abdul. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta
www.um-pwr.ac.id/web/artikel.html
Sintaksis Bahasa Indonesia
SINTAKSIS BAHASA INDONESIA
(FRASE)
Di Tulis Oleh :
NAMA : RACHMAD RIVAI
NPM : 2009221
PRODI : Pend.Bahasa dan Sastra Indonesia
MK : Sintaksis Bahasa Indonesia
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) LUBUKLINGGAU
2011/2012
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi robbil’alamin puji syukur penulis persembahkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan jasmani dan rohani, sehingga dapat menyele-saikan makalah mata kuliah Sintaksis Bahasa Indonesia sebagai tugas akhir semester.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah khususnya ibu Dra. Tri Astuti, M.Pd sebagai dosen pembimbing mata kuliah Sintaksis Ba-hasa Indonesia.
Mungkin di dalam makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan agar pembuatan makalah-makalah selanjutnya menjadi lebih baik lagi.
Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih atas kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah-makalah selanjutnya. Dan semoga makalah ini juga berguna untuk kita.
Lubuklinggau, Januari 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………….. ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………. iii
BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………….……... 1
A. LATAR BELAKANG ………………………………………….…. 1
B. RUMUSAN MASALAH …………………………………….……. 1
C. TUJUAN …………………………………………………………… 1
BAB II. PEMBAHASAN ………………………………………………….…. 2
1. Pengertian Sintaksis ……………………………………………..... 2
1.1 Aspek-aspek Sintaksis ……………………………………...…. 2
1.1.1 Kata : Ciri dan Klasifikasi …………………………...…. 2
1.1.2 Frase : Ciri dan Klasifikasi …………………………...… 4
1.1.3 Klausa : Ciri dan Klasifikasi …………………………..... 4
1.1.4 Kalimat : Ciri dan Klasifikasi …………………………... 4
2. Pengertian Frase …………………………………………………... 5
2.1 Penggolongan Frase ………………………………………….... 5
2.1.1 Frase Eksosentris dan Endosentris ……………………… 6
a. Frase Eksosentris ……………………………………. 7
b. Frase Endosentris …………………………………… 10
2.1.2 Frase Nominal,Verbal,Bilangan,Keterangan dan Frase Depan 13
1. Frase Nominal ……………………………………….. 14
1.1. Kategori Kata atau Frase Yang Menjadi Unsurnya 14
1.2. Hubungan Makna Antar Unsur-unsurnya ……….. 16
2. Frase Verbal …………………………………………. 19
3. Frase Bilangan ………………………………………. 20
4. Frase Keterangan ……………………………………. 22
5. Frase Depan …………………………………………. 22
BAB III. PENUTUP …………………………………………………………... 24
A. KESIMPULAN …………………………………………………..... 24
B. SARAN …………………………………………………………….. 25
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………… 26
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antar kata dalam tu-turan (speech). Unsur bahasa yang termasuk di dalam lingkup sintaksis adalah frase,klausa dan kalimat. Dan salah satunya yang akan di bahas dalam makalah ini adalah frase.
Didalam makalah ini penulis menyajikan berbagai pengertian frase dan macam-macamnya dari beberapa sumber buku dan juga sumber elektronik sebagai sumber tambahan.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan beberapa masalah yang perlu dibahas, yaitu :
1. Apakah pengertian dari sintaksis?
2. Apakah pengertian dari frase?
3. Bagaimana penggolongan frase?
C. TUJUAN
Tujuan dari makalah ini adalah untuk memperdalam mata kuliah Sintaksis Bahasa Indo-nesia yang telah di pelajari dan dibimbing oleh dosen pembimbing mata kuliah Sintaksis Ba-hasa Indonesia, yaitu ibu Dra. Tri Astuti, M.Pd. terutama bagian frase yang akan dibahas dalam makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN SINTAKSIS
Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang bearti ”dengan” dan kata tattein yang bearti ”menempatkan” jadi secara etimologi bearti : menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Banyak ahli telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan sintaksis. Ada yang mengatakan bahwa ”sintaksis adalah telaah mengenai pola-pola yang dipergunakan sebagai sarana untuk menggabung-gabungkan kata menjadi kalimat” (Stryker 1969:21 dalam Tarigan 1984:5). Ada pula yang mengatakan bahwa ”analisis mengenai konstruksi-konstruksi yang hanya mengikutsertakan bentuk-bentuk bebas disebut sintaksis” (Bloch and Trager 1942:71 dalam Tarigan 1984:5). Dan ada lagi yang mengatakan bahwa ”sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan struktur frase dan kalimat” (Ramlan 1976:57). Sedangkan menurut Zaenal Arifin dan Junaiyah dalam bukunya SINTAKSIS memberikan pengertian bahwa sitaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang dibahas dalam sintaksis adalah frase, klausa dan kalimat.
1.1 Aspek-Aspek Sintaksis
Aspek-aspek Sintaksis meliputi :
1.1.1 Kata: Ciri dan Klasifikasi
Kata dapat dilihat dari berbagai segi. Pertama, kata dilihat dari segi pemakai bahasa. Menurut pemakai bahasa, kata adalah satuan gramatikal yang diujarkan, bersifat berulang-ulang dan secara potensial ujaran itudapat berdiri sendiri. Kedua, kata dilihat secara bahasa, secara linguistik kata dapat dibedakan atas satuan pembentuknya. Oleh karena itu, kata dapat dibedakan sebagai satuan fonologis, satuan gramatikal, dan satuan ortografis.
1). Kata sebagai satuan fonologis
Kata mempunyai ciri-ciri fonologis yang sesuai dengan ciri fonologis bahasa yang bersangkutan. Misalnya ciri fonologis kata bahasa indonesia, seperti berikut:
a. Mempunyai pola fonotatik suatu kata
b. Bukan bahasa vokalik
c. Tidak ada gugus konsonan pada posisi akhir
d. Batas kata tidak di tentukan oleh fonem suprasegmental
2). Kata sebagai satuan gramatikal
Menurut Lyons (1971) dan Dik (1976), secara gramatikal, kata bebas bergerak, dapat dipindah-pindahkan letaknya, tetapi identitasnya tetap.
3). Kata sebagai satuan ortografis
Secara ortografis, kata ditentukan oleh sistem aksara yang berlaku dalam bahasa itu. Bahasa Indonesia, misalnya menggunakan aksara latin. Jadi sebuah kata dituliskan terpisah dari kata lainnya, misalnya terima kasih dan kerja sama ditulis berpisah, bukan terimakasih dan kerjasama.
1.1.2 Frase: Ciri dan Klasifikasi
Frase adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif (Rusyana dan Syamsuri, 1976) atau satu konstruksi ketatabahasaan yang berdiri atas dua kata atau lebih. Frase terdiri atas Endosentris dan Eksosentris, frase Nominal, Verbal, Bilangan, Keterangan, dan Frase Depan.
1.1.3 Klausa: Ciri dan Klasifikasi
Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Klausa berpotensi menjadi kalimat.
Klausa dapat dibedakan berdasarkan distribusi satuannya dan berdasarkan fungsinya.
Pada umumnya klausa, baik tunggal maupun jamak, berpotensi menjadi kalimat. Kalimat inti terdiri atas klausa tunggal, sedangkan kalimat majemuk terdiri atas lebih dari satu klausa. Oleh karena itu, kalimat majemuk terdiri atas klausa-klausa yang saling berhubungan.
1.1.4 Kalimat: Ciri dan Klasifikasi
Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final, dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.
Jika dilihat dari fungsinya, unsur-unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Menurut bentuknya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal serta kalimat majemuk.
2. PENGERTIAN FRASE
Frase lazim dikatakan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (hubungan antara kedua unsur yang membentuk, frase tidak berstruktur subjek – predikat atau predikat – objek), atau lazim juga di sebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam suatu kalimat. Frase adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa (Cook 1971:91;Elson and Pickett 1969:73). Menurut Ramlan frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa ( Ramlan 1985:138). Yang dimaksud dengan tidak melampaui unsur klausa adalah unsur S, P, O, PEL, KET. Contoh, Eka sedang membaca majalah di ruang tamu yang terdiri dari beberapa fungsi yaitu, Eka menduduki fungsi S, sedang membaca menduduki fungsi P, majalah menduduki fungsi O dan di ruang tamu menduduki fungsi KET.
2.1 Penggolongan Frase
Frase dapat di golongkan menjadi :
1. Berdasarkan tipe strukturnya, maka frase dapat dibedakan atas :
Frase Eksosentris dan Endosentris
2. Berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase dapat digolongkan menjadi :
Frase Nominal, Verbal, Bilangan, Keterangan dan Frase Depan.
2.1.1 Frase Eksosentris dan Endosentris
Frase dua orang mahasiswa dalam klausa dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan mempunyai distribusi yang sama dengan unsur dua orang, maupun dengan unsur mahasiswa. Persamaan distribusi itu dapat dilihat dari jajaran di bawah ini:
Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.
Dua orang – sedang membaca buku baru di perpustakaan.
- Mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.
Demikian juga frase sedang membaca yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, yaitu dengan unsur membaca. Dan frase buku baru yang mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya, yaitu unsur buku. Frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya disebut frase endosentrik, dan frase yang tidak demikian, maksudnya tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya, disebut frase eksosentris. Contoh frase yang eksosentris adalah frase di perpustakaan dalam klausa di atas, frase tersebut tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya. Ketidaksamaan tersebut dapat dilihat dari jajaran di bawah ini:
Dua orang mahasiswa sedang membaca bukuu baru di perpustakaan
*dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di -
*dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru – sperpustakaan.
a. Frase Eksosentris
Frase eksosentris adalah frase yang sebagian atau seluruhnya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan semua komponennya, baik dengan sumbu maupun dengan preposisi (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:19), frase eksosentris adalah frase yang tidak berhulu, tidak berpusat atau non-headed (White-hall 1956:9 dalam Tarigan 1984:94) ataupun noncentered (Cook 1971:90). Sedangkan menurut ramlan frase eksosentris adalah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya (Ramlan 1985:142).
Berdasarkan struktur internalnya, frase eksosentris ini disebut juga relater-axis atau frase relasional. Dan berdasarkan posisi penghubung yang mungkin terdapat di dalamnya, maka frase eksosentris atau frase relasional dapat dibagi attas :
a) Frase preposisi
b) Frase posposisi
c) Frase preposposisi
Perlu diketahui bahwa dalam bahasa Indonesia hanya mengenal frase preposisi. Namun untuk menambah pengetahuan kita maka tidak ada salahnya kalau frase posposisi dan frase preposposisi kita bahas juga.
Eksosentris Direktif (Frase Preposisi)
Frase preposisi adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian depan (Tarigan 1984:94). Contoh frase preposisi adalah dengan baik, sejak kemarin, di samping. Pada umumnya frase proposisional berfungsi sebagai keterangan.
Pada dasarnya, frase preposisi menunjukkkan makna berikut :
’tempat’, seperti di pasar dan pada dinding
’asal arah’, seperti dari kampung, dari sekolah
’asal bahan’, seperti (cincin) dari emas, (kue) dari tepung beras
’tujuan arah’, seperti ke pasar, ke kampus
’menunjukkan peralihan’, seperti kepada saya,(percaya) terhadap Tuhan
’perihal’, seperti tentang ekonomi, (terkenang) akan kebaikannya
’tujuan’, seperti untukmu, buatku
’sebab’, seperti karena, lantaran, sebab, gara-gara (kamu)
’penjadian’, seperti oleh karena, untuk itu
’kesertaan’, seperti denganmu, dengan ayah
’cara’, seperti dengan baik, dengan senang
’alat’, seperti cangkul, dengan traktor
’keberlangsungan’, seperti sejak kemarin, dari tadi, sampai besok, sampai nanti
’penyamaan’, seperti selaras dengan, sesuai dengan
’perbandingan’, seperti seperti dia, sebagai bandingan
Frase Posposisi
Frase posposisi atau post-position adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian belakang. Frase ini tidak terdapat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu bahasa yang mempunyaai frase ini adalah bahasa Jepang. Contoh :
ga ”penanda subyek”
heitai ga, kureta. ”The soldier gave it to me”.
O ”penanda obyek”
Heitai O, mita. ”I saw a soldier”
de ”by means of; in; on; at”
Kisya de, kita. ”I come by train”.
Frase Preposposisi
Frase preposposisi adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian depan dan di bagian belakang. Frase ini tidak terdapat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu bahasa yang menggunakan frase ini adalah bahasa Karo. Contoh :
i juma nari ”dari ladang”
i tiga nari ”dari pasar”
i Bandung nari ”dari bandung”
i jenda nari ”dari sini”
i jah nari ”dari sana”
b. Frase Endosentris
Frase endosentris adalah frase yang seluruhnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan perilaku salah satu komponennya (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:20-21). Artinya adalah salah satu komponennya dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya. Frase endosentris adalah frase yang berhulu, yang berpusat, atau headed phrase (White hall 1956:9 dalam Tarigan 1984:97), yaitu frase yang mempunyai fungsi yang sama dengan hulunya. Sedangkan menurut ramlan, frase endosentris adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya (Ramlan 1985:142).
Frase endosentris dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Endosentri koordinatif
2. Endosentris atributif
3. Endosentris apositif
1. Endosentris Koordinatif
Frase ini terdiri dari unsur-unsur yang setara. Kesetaraannya itu dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau. Misalnya:
- Rumah pekarangan
- Suami istri
- Dua tiga
- Ayah ibu
- Pembinaan dan pengembangan
- Pembangunan dan pembaharuan
Zaenal Arifin dan Junaiyah (2008), frase koordinatif adalah frase endosentris berinduk banyak, yang secara potensial komponennya dapat dihubungkan dengan partikel dan, ke, atau, tetapi, ataupun konjungsi korelatif, seperti baik ...maupun dan makin ... makin (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:25). Kategori frase koordinatif sesuai dengan kategori komponennya. Contoh :
a. Kaya atau miskin, kaya ataupun miskin, kaya dan miskin; dari, untuk, dan oleh rakyat, untuk dan atas nama klien; pintar, tetapi congkak
b. Baik merah maupun biru, entah suka entah tidak (suka), makin pagi makin baik, makin tua makin bermutu.
Perhatikan bahwa kata yang dapat digabungkan hanya kata yang berkategori
sama, seperti merah-biru, tua-bermutu, suka-(tidak) suka, dan pagi-baik.
Jika tidak menggunakan partikel, gabungan itu disebut frase parataktis, seperti tua muda, besar kecil, hilir mudik, keluar masuk, pulang pergi, naik turun, makan minum, ibu bapak, dan kaya miskin.
2. Endosentris Atributif
Berbeda dengan endosentrik koordinatif, frase golongan ini terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau. Misalnya :
- Pembangunan lima tahun
- Sekolah Inpres
- Buku baru
- Pekarangan luas
- Orang itu
- Malam ini
Kata-kata yang dicetak miring dalam frase-frase diatas, yaitu kata pembangunan, sekolah, buku, pekarangan, orang, malam, merupakan unsur pusat (UP), yaitu unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur yang terpenting, sedangkan unsur lainnya merupakan atribut (Atr).
3. Endosentris Apositif
Dalam klausa surti anak pak Tejo sedang belajar, satuan Surti, anak pak Tejo juga merupakan frase. Frase ini memiliki sifat yang berbeda dengan frase endosentrik yang koordinatif dan yang atributif. Dalam frasse endosentrik yang koordinatif unsur-unsurnya dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau, dan dalam endosentrik yang atributif unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau dan secara semantik ada unsur yang terpenting, yang lebih penting dari unsur lainnya. Dalam frase Surti anak pak Tejo unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung
dan atau atau dan secara semantik unsur yang satu dalam hal ini unsur anak pak Tejo, sama dengan unsur lainnya, yaitu sama dengan unsur Surti. Karena sama unsur anak pak Tejo dapat menggantikan unsur Surti :
Surti, anak pak Tejo, sedang belajar
Surti, - ,sedang belajar
- , anak pak Tejo sedang belajar
Unsur Surti merupakan UP, sedangkan unsur anak pak Tejo merupakan aposisi (Ap).
Zaenal Arifin dan Junaiyah (2008), frase apositif adalah frase endosentris berinduk banyak yang secara luar bahasa komponennya menunjuk pada wujud yang sama (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:25). Contohnya :
Ria, anak kakakku yang tinggal di palembang,
Megawati Soekarnoputri, salah seorang mantan Presiden Republik Indonesia,
Para buruh menolak – membangkang – masuk kerja.
Dia tidak miskin – walaupun tidak kaya –
2.1.2 Frase Nominal, Veerbal, Bilangan, Keterangan dan Frase Depan
Berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu :
- Frase Nominal
- Frase Verbal
- Frase Bilangan
- Frase keterangan
Di samping itu, ada frase yang tidak memiliki persamaan distribusi dengan golongan kata, yaitu yang disebut frase depan, sehingga seluruhnya terdapat lima frase yang akan dibahas satu persatu.
1. Frase Nominal
Frase nominal adalah frase yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal (Ramlan 1985:145). Persamaan distributif itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran :
Contoh : - ia membeli baju baru
ia membeli baju baru
Frase baju baru dalam klausa diatas mempunyai distribusi yang sama dengan kata baju. Kata baju termasuk golongan kata nominal, karena itu frase baju baru termasuk golongan frase nominal. Contoh-contoh lain :
- Mahasiswa lama
- Gedung sekolah
- Kapal terbang itu
- Jalan raya ini
1.1. Kategori Kata atau Frase yang Menjadi Unsurnya
Secara kategori frase nominal mungkin terdiri dari :
1) N diikuti N, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti oleh kata atau frase nominal sebagai UP atau Atr. Jadi semua unsurnya berupa kata atau frase nominal. Misalnya :
Rumah pekarangan
Ayah ibu
Suami istri
Kakak saya
Frase rumah pekarangan, ayah ibu, suami istri, dan kakak saya terdiri dari kata nominal semua, yaitu kata rumah, ayah, suami, dan kakak sebagai UP, diikuti kata pekarangan, ibu, istri dan saya sebagai UP pula.
2) N diikuti V, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata frase verbal sebagai Atr. Misalnya :
Orang bertopi
Ayah bekerja
Adik bermain
3) N diikuti Bil, artinya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti oleh kata atau frase bilangan sebagai Atr. Misalnya :
Orang dua
Telur tiga butir
Sawah lima petak
Harimau lima ekor
4) N diikuti Ket, artinya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase keterangan sebagai Atr. Misalnya :
Koran kemarin pagi
Buku tahun kemarin
Nasi tadi pagi
Orang tadi
5) N diikuti FD, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase depan sebagai Atr. Misalnya :
Beras dari tetangga
Kereta api ke Surabaya
Pisang dari Ambon
6) N didahului Bil, artinya terdiri dari kata atau frase nominal UP, didahului oleh kata atau frase bilangan sebagai Atr. Misalnya :
Sepuluh ekor ayam
Lima batang kayu
Dua buah sepeda baru
7) N didahului Sd, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP didahului oleh kata atau frase sandang sebagai Atr. Misalnya ;
si Ahmad
sang Pujangga
1.2. Hubungan Makna antar Unsur-unsurnya
Pertemuan unsur-unsur dalam suatu frase menimbulkan hubungan makna. Misalnya peertemuan kata rumah dengan kata pekarangan dalam frase pekarangan rumah menimbulkan hubungan makna ’penjumlahan’. Di samping itu, mungkin juga menimbulkan hubungan makna ’pemilihan’. Hubungan makna itu secara jelas ditandai oleh kemungkinan diletakkannnya kata dan atau atau di antara kedua unsurnya, yang menjadi pekarangan dan rumah atau pekarangan atau rumah.
Kemungkinan hubungan-hubungan makna dalam frase nominal tersebut adalah sebagai berikut :
Penjumlahan
Makna ini ditandai oleh kemungkinan diletakkannya penghubung dan diantara kedua unsurnya. Misalnya :
Suami (dan) istri
Pekarangan (dan) rumah
Nusa (dan) bangsa
Pemilihan
Kemungkinan diletakkannya kata atau diantara unsurnya. Misal :
Ayah atau ibu
Dua atau tiga tahun lagi
Empat atau lima kilo beras
Kesamaan
Kesamaan ini ditandai dengan kemungkinan diletakkannya kata adalah diantara unsurnya, misal Lubuklinggau kota madani yang secara semantik unsur Lubuklinggau sama dengan kota madani. Contoh lain :
Bapak SBY presiden RI
Bapak SBY adalah presiden RI
Kakak saya Ahmad
Kakak saya adalah ahmad
Rahmad mahasiswa STKIP
Rahmad adalah mahasiswa STKIP
Penerangan
Maksudnya adalah fungsi Atr sebagai penerang UP, contoh buku baru, kata buku berfungsi sebagai UP dan kata baru sebagai penerang dari kata buku. Hubungan makna ini ada kemungkinan diletakkannya kata yang diantara unsurnya sehingga kata buku baru menjadi buku yang baru. Contoh lain :
Pohon rindang
Binatang buas
Acara terakhir
Pembatas
Dalam hal ini unsur Atr berfungsi sebagai pembatas UP, contoh rumah fauzi yang menyatakan makna rumah (milik) fauzi. Hubungan makna ini ditandai tidak mungkinnya diletakkan kata yang, dan, atau, dan adalah diantara unsur frase N yang terdiri dari N diikuti N. Contoh lain :
Anggota DPR
Buku sejarah
Pembangunan daerah
Penentu atau Penunjuk
Hubungan makna ini berkemungkinan diletakkannya kata penunjuk ini atau itu yang berfungsi sebagai penunjuk UP, kata penunjuk bukan menyatakan makna ’penerang’ sekalipun dapat di tambahkan kata yang diantara unsurnya, dan bukan pula menyatakan makna ’pembatas’ tetapi menyatakan makna penentu atau penunjuk. Contoh :
Rumah itu
Mahasiswa yang rajin itu
Pekarangan ini
Mobil ini
2. Frase Verbal
Frase verbal atau frase golongan V adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran :
Contoh : Rachmad sedang makan roti di ruang tamu
Rachmad – makan roti di ruang tamu
Frase sedang makan dalam klausa di atas mempunyai distribusi yang sama dengan kata makan. Kata makan termasuk golongan V. Karena itu frasse sedang makan juga termasuk golongan V. Contoh lain :
- Akan pergi
- Dapat menyanyi
- Sudah pulang
- Sedang makan
Kata pergi, menyanyi, pulang, dan makan termasuk golongan kata verbal, sedangkan kata akan, dapat, sudah dan sedang termasuk golongan kata tambah (T). Kata-kata tambah tersebut seperti akan, sudah, sering, dapat, sedang, baru dan tidak.
Zaenal Arifin dan junaiyah (2008), frase verbal adalah frase yang terdiri dari atas gabungan verba dan adverba atau gabungan verba adverbia atau gabungan verba dan preposisi gabungan (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:22).
Contohnya :
1. Pergi kerja, bangkit berlari, tegak berdiri
2. Pulang pergi, makan minum
3. Berlari cepat, berjalan mundur, bernyanyi merdu, cepat berlari.
3. Frase Bilangan
Frase bilangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan (Ramlan 1985:162). Misalnya frase dua ekor dalam dua ekor ayam, frase ini mempunyai distribusi yang sama dengan dua, persamaan tersebut dapat dilihat dari jajarannya :
Dua ekor ayam
Dua – ayam
Kata dua termasuk golongan kata bilangan, karena itu frase dua ekor ayam termasuk ke dalam golongan frase bilangan. Contoh lain :
Lima botol (minyak goreng)
Tujuh drigen (bensin)
Sepuluh mangkok (bakso)
Kata lima, tujuh, sepuluh diatas termasuk golongan kata bilangan, sedangkan botol, drigen dan mangkok termasuk golongan kata penyukat. Jadi frase bilangan tersebut terdiri dari unsur kata bilangan diikuti kata penyukat.
Zaenal Arifin dan Junaiyah menyebut frase ini dengan frase numeral yaitu, frase yang terdiri atas numeralia sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan nomina penggolongan bilangan dan nomina ukuran (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:24). Contohnya :
tujuh belas, tiga puluh, lima puluh
dua lusin, empat gros, lima botol
4. Frase Keterangan
Frase keterangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan. Misalnya frase tadi pagi yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata tadi. Peersamaan tersebut dapat diketahui dari jajarannya :
Tadi pagi dewi pergi kuliah
Tadi – dewi pergi kuliah.
Kata-kata keterangan seperti tadi, kemarin, nanti, besok, lusa, sekarang contoh lain misalnya :
Kemarin pagi paman datang.
Nanti malam ayah mulai ronda.
Besok saya pergi ke bandung.
5. Frase Depan
Frase depan ialah frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai aksinya. Misalnya :
di sebuah kota
di toko ayah
sejak kemarin sore
Frase di sebuah kota terdiri dari kata depan di sebagai penanda, diikuti oleh frase sebuah kota sebagai aksinya, dan begitu juga dengan frase sejak kemarin sore yang terdiri dari sejak sebagai kata depan dan frase kemarin sore sebagai aksinya.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Frase adalah satuan gramatikal yang secara potensial berupa gabungan kata yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas dan mempunyai sifat nonpredikatif.
Frase dapat dibedakan menjadi :
1. Frase Eksosntris dan Endosentris
Frase Eksosentris :
Eksosentris Direktif (frase preposisi)
Frase posposisi
Frase preposposisi
Frase Endosentris ;
Endosentris Koordinatif
Endosentris Atributif
Endosentris Apositif
2. Frase Berdasarkan Persamaan Distribusi
Frase Nominal
Frase Verbal
Frase Bilangan
Frase Keterangan
Frase Depan
B. SARAN
Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak bahkan lebih lengkap tentang pembahasan Sintaksis, pembaca dapat membaca dan mempelajari buku-buku Sintaksis dari berbagai pengarang, karena di dalam makalah ini penulis hanya membahas garis besarnya saja tentang pembahassan Sintaksis dan hanya membahas lebih dalam tentang frase.
Di sini penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penulisan makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal dan Junaiyah. 2008. Sintaksis. Jakarta: Grasindo
Ramlan, M. 1985. Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono
Tarigan, Henry Guntur. 1984. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa
http://www.rider-system.net/2009/09/konsep-frasa.html
Meskipun ini belum sempurna namun aku cukup puas den-gan hasil kerja sendiri
meskipun dihujani kritik dan saran
Pepatah mengatakan
Pengalaman adalah guru yang paling baik
“Memulai membuat karya sendiri dari sekarang adalah lebih baik daripada tidak pernah membuat sama sekali”
Ini adalah awal dari karya-karya tulis selanjutnya
Rachmad Rivai
(FRASE)
Di Tulis Oleh :
NAMA : RACHMAD RIVAI
NPM : 2009221
PRODI : Pend.Bahasa dan Sastra Indonesia
MK : Sintaksis Bahasa Indonesia
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) LUBUKLINGGAU
2011/2012
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi robbil’alamin puji syukur penulis persembahkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan jasmani dan rohani, sehingga dapat menyele-saikan makalah mata kuliah Sintaksis Bahasa Indonesia sebagai tugas akhir semester.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah khususnya ibu Dra. Tri Astuti, M.Pd sebagai dosen pembimbing mata kuliah Sintaksis Ba-hasa Indonesia.
Mungkin di dalam makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan agar pembuatan makalah-makalah selanjutnya menjadi lebih baik lagi.
Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih atas kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah-makalah selanjutnya. Dan semoga makalah ini juga berguna untuk kita.
Lubuklinggau, Januari 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………….. ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………. iii
BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………….……... 1
A. LATAR BELAKANG ………………………………………….…. 1
B. RUMUSAN MASALAH …………………………………….……. 1
C. TUJUAN …………………………………………………………… 1
BAB II. PEMBAHASAN ………………………………………………….…. 2
1. Pengertian Sintaksis ……………………………………………..... 2
1.1 Aspek-aspek Sintaksis ……………………………………...…. 2
1.1.1 Kata : Ciri dan Klasifikasi …………………………...…. 2
1.1.2 Frase : Ciri dan Klasifikasi …………………………...… 4
1.1.3 Klausa : Ciri dan Klasifikasi …………………………..... 4
1.1.4 Kalimat : Ciri dan Klasifikasi …………………………... 4
2. Pengertian Frase …………………………………………………... 5
2.1 Penggolongan Frase ………………………………………….... 5
2.1.1 Frase Eksosentris dan Endosentris ……………………… 6
a. Frase Eksosentris ……………………………………. 7
b. Frase Endosentris …………………………………… 10
2.1.2 Frase Nominal,Verbal,Bilangan,Keterangan dan Frase Depan 13
1. Frase Nominal ……………………………………….. 14
1.1. Kategori Kata atau Frase Yang Menjadi Unsurnya 14
1.2. Hubungan Makna Antar Unsur-unsurnya ……….. 16
2. Frase Verbal …………………………………………. 19
3. Frase Bilangan ………………………………………. 20
4. Frase Keterangan ……………………………………. 22
5. Frase Depan …………………………………………. 22
BAB III. PENUTUP …………………………………………………………... 24
A. KESIMPULAN …………………………………………………..... 24
B. SARAN …………………………………………………………….. 25
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………… 26
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antar kata dalam tu-turan (speech). Unsur bahasa yang termasuk di dalam lingkup sintaksis adalah frase,klausa dan kalimat. Dan salah satunya yang akan di bahas dalam makalah ini adalah frase.
Didalam makalah ini penulis menyajikan berbagai pengertian frase dan macam-macamnya dari beberapa sumber buku dan juga sumber elektronik sebagai sumber tambahan.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan beberapa masalah yang perlu dibahas, yaitu :
1. Apakah pengertian dari sintaksis?
2. Apakah pengertian dari frase?
3. Bagaimana penggolongan frase?
C. TUJUAN
Tujuan dari makalah ini adalah untuk memperdalam mata kuliah Sintaksis Bahasa Indo-nesia yang telah di pelajari dan dibimbing oleh dosen pembimbing mata kuliah Sintaksis Ba-hasa Indonesia, yaitu ibu Dra. Tri Astuti, M.Pd. terutama bagian frase yang akan dibahas dalam makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN SINTAKSIS
Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang bearti ”dengan” dan kata tattein yang bearti ”menempatkan” jadi secara etimologi bearti : menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Banyak ahli telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan sintaksis. Ada yang mengatakan bahwa ”sintaksis adalah telaah mengenai pola-pola yang dipergunakan sebagai sarana untuk menggabung-gabungkan kata menjadi kalimat” (Stryker 1969:21 dalam Tarigan 1984:5). Ada pula yang mengatakan bahwa ”analisis mengenai konstruksi-konstruksi yang hanya mengikutsertakan bentuk-bentuk bebas disebut sintaksis” (Bloch and Trager 1942:71 dalam Tarigan 1984:5). Dan ada lagi yang mengatakan bahwa ”sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan struktur frase dan kalimat” (Ramlan 1976:57). Sedangkan menurut Zaenal Arifin dan Junaiyah dalam bukunya SINTAKSIS memberikan pengertian bahwa sitaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang dibahas dalam sintaksis adalah frase, klausa dan kalimat.
1.1 Aspek-Aspek Sintaksis
Aspek-aspek Sintaksis meliputi :
1.1.1 Kata: Ciri dan Klasifikasi
Kata dapat dilihat dari berbagai segi. Pertama, kata dilihat dari segi pemakai bahasa. Menurut pemakai bahasa, kata adalah satuan gramatikal yang diujarkan, bersifat berulang-ulang dan secara potensial ujaran itudapat berdiri sendiri. Kedua, kata dilihat secara bahasa, secara linguistik kata dapat dibedakan atas satuan pembentuknya. Oleh karena itu, kata dapat dibedakan sebagai satuan fonologis, satuan gramatikal, dan satuan ortografis.
1). Kata sebagai satuan fonologis
Kata mempunyai ciri-ciri fonologis yang sesuai dengan ciri fonologis bahasa yang bersangkutan. Misalnya ciri fonologis kata bahasa indonesia, seperti berikut:
a. Mempunyai pola fonotatik suatu kata
b. Bukan bahasa vokalik
c. Tidak ada gugus konsonan pada posisi akhir
d. Batas kata tidak di tentukan oleh fonem suprasegmental
2). Kata sebagai satuan gramatikal
Menurut Lyons (1971) dan Dik (1976), secara gramatikal, kata bebas bergerak, dapat dipindah-pindahkan letaknya, tetapi identitasnya tetap.
3). Kata sebagai satuan ortografis
Secara ortografis, kata ditentukan oleh sistem aksara yang berlaku dalam bahasa itu. Bahasa Indonesia, misalnya menggunakan aksara latin. Jadi sebuah kata dituliskan terpisah dari kata lainnya, misalnya terima kasih dan kerja sama ditulis berpisah, bukan terimakasih dan kerjasama.
1.1.2 Frase: Ciri dan Klasifikasi
Frase adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif (Rusyana dan Syamsuri, 1976) atau satu konstruksi ketatabahasaan yang berdiri atas dua kata atau lebih. Frase terdiri atas Endosentris dan Eksosentris, frase Nominal, Verbal, Bilangan, Keterangan, dan Frase Depan.
1.1.3 Klausa: Ciri dan Klasifikasi
Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Klausa berpotensi menjadi kalimat.
Klausa dapat dibedakan berdasarkan distribusi satuannya dan berdasarkan fungsinya.
Pada umumnya klausa, baik tunggal maupun jamak, berpotensi menjadi kalimat. Kalimat inti terdiri atas klausa tunggal, sedangkan kalimat majemuk terdiri atas lebih dari satu klausa. Oleh karena itu, kalimat majemuk terdiri atas klausa-klausa yang saling berhubungan.
1.1.4 Kalimat: Ciri dan Klasifikasi
Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final, dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.
Jika dilihat dari fungsinya, unsur-unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Menurut bentuknya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal serta kalimat majemuk.
2. PENGERTIAN FRASE
Frase lazim dikatakan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (hubungan antara kedua unsur yang membentuk, frase tidak berstruktur subjek – predikat atau predikat – objek), atau lazim juga di sebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam suatu kalimat. Frase adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa (Cook 1971:91;Elson and Pickett 1969:73). Menurut Ramlan frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa ( Ramlan 1985:138). Yang dimaksud dengan tidak melampaui unsur klausa adalah unsur S, P, O, PEL, KET. Contoh, Eka sedang membaca majalah di ruang tamu yang terdiri dari beberapa fungsi yaitu, Eka menduduki fungsi S, sedang membaca menduduki fungsi P, majalah menduduki fungsi O dan di ruang tamu menduduki fungsi KET.
2.1 Penggolongan Frase
Frase dapat di golongkan menjadi :
1. Berdasarkan tipe strukturnya, maka frase dapat dibedakan atas :
Frase Eksosentris dan Endosentris
2. Berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase dapat digolongkan menjadi :
Frase Nominal, Verbal, Bilangan, Keterangan dan Frase Depan.
2.1.1 Frase Eksosentris dan Endosentris
Frase dua orang mahasiswa dalam klausa dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan mempunyai distribusi yang sama dengan unsur dua orang, maupun dengan unsur mahasiswa. Persamaan distribusi itu dapat dilihat dari jajaran di bawah ini:
Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.
Dua orang – sedang membaca buku baru di perpustakaan.
- Mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.
Demikian juga frase sedang membaca yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, yaitu dengan unsur membaca. Dan frase buku baru yang mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya, yaitu unsur buku. Frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya disebut frase endosentrik, dan frase yang tidak demikian, maksudnya tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya, disebut frase eksosentris. Contoh frase yang eksosentris adalah frase di perpustakaan dalam klausa di atas, frase tersebut tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya. Ketidaksamaan tersebut dapat dilihat dari jajaran di bawah ini:
Dua orang mahasiswa sedang membaca bukuu baru di perpustakaan
*dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di -
*dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru – sperpustakaan.
a. Frase Eksosentris
Frase eksosentris adalah frase yang sebagian atau seluruhnya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan semua komponennya, baik dengan sumbu maupun dengan preposisi (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:19), frase eksosentris adalah frase yang tidak berhulu, tidak berpusat atau non-headed (White-hall 1956:9 dalam Tarigan 1984:94) ataupun noncentered (Cook 1971:90). Sedangkan menurut ramlan frase eksosentris adalah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya (Ramlan 1985:142).
Berdasarkan struktur internalnya, frase eksosentris ini disebut juga relater-axis atau frase relasional. Dan berdasarkan posisi penghubung yang mungkin terdapat di dalamnya, maka frase eksosentris atau frase relasional dapat dibagi attas :
a) Frase preposisi
b) Frase posposisi
c) Frase preposposisi
Perlu diketahui bahwa dalam bahasa Indonesia hanya mengenal frase preposisi. Namun untuk menambah pengetahuan kita maka tidak ada salahnya kalau frase posposisi dan frase preposposisi kita bahas juga.
Eksosentris Direktif (Frase Preposisi)
Frase preposisi adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian depan (Tarigan 1984:94). Contoh frase preposisi adalah dengan baik, sejak kemarin, di samping. Pada umumnya frase proposisional berfungsi sebagai keterangan.
Pada dasarnya, frase preposisi menunjukkkan makna berikut :
’tempat’, seperti di pasar dan pada dinding
’asal arah’, seperti dari kampung, dari sekolah
’asal bahan’, seperti (cincin) dari emas, (kue) dari tepung beras
’tujuan arah’, seperti ke pasar, ke kampus
’menunjukkan peralihan’, seperti kepada saya,(percaya) terhadap Tuhan
’perihal’, seperti tentang ekonomi, (terkenang) akan kebaikannya
’tujuan’, seperti untukmu, buatku
’sebab’, seperti karena, lantaran, sebab, gara-gara (kamu)
’penjadian’, seperti oleh karena, untuk itu
’kesertaan’, seperti denganmu, dengan ayah
’cara’, seperti dengan baik, dengan senang
’alat’, seperti cangkul, dengan traktor
’keberlangsungan’, seperti sejak kemarin, dari tadi, sampai besok, sampai nanti
’penyamaan’, seperti selaras dengan, sesuai dengan
’perbandingan’, seperti seperti dia, sebagai bandingan
Frase Posposisi
Frase posposisi atau post-position adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian belakang. Frase ini tidak terdapat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu bahasa yang mempunyaai frase ini adalah bahasa Jepang. Contoh :
ga ”penanda subyek”
heitai ga, kureta. ”The soldier gave it to me”.
O ”penanda obyek”
Heitai O, mita. ”I saw a soldier”
de ”by means of; in; on; at”
Kisya de, kita. ”I come by train”.
Frase Preposposisi
Frase preposposisi adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian depan dan di bagian belakang. Frase ini tidak terdapat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu bahasa yang menggunakan frase ini adalah bahasa Karo. Contoh :
i juma nari ”dari ladang”
i tiga nari ”dari pasar”
i Bandung nari ”dari bandung”
i jenda nari ”dari sini”
i jah nari ”dari sana”
b. Frase Endosentris
Frase endosentris adalah frase yang seluruhnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan perilaku salah satu komponennya (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:20-21). Artinya adalah salah satu komponennya dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya. Frase endosentris adalah frase yang berhulu, yang berpusat, atau headed phrase (White hall 1956:9 dalam Tarigan 1984:97), yaitu frase yang mempunyai fungsi yang sama dengan hulunya. Sedangkan menurut ramlan, frase endosentris adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya (Ramlan 1985:142).
Frase endosentris dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Endosentri koordinatif
2. Endosentris atributif
3. Endosentris apositif
1. Endosentris Koordinatif
Frase ini terdiri dari unsur-unsur yang setara. Kesetaraannya itu dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau. Misalnya:
- Rumah pekarangan
- Suami istri
- Dua tiga
- Ayah ibu
- Pembinaan dan pengembangan
- Pembangunan dan pembaharuan
Zaenal Arifin dan Junaiyah (2008), frase koordinatif adalah frase endosentris berinduk banyak, yang secara potensial komponennya dapat dihubungkan dengan partikel dan, ke, atau, tetapi, ataupun konjungsi korelatif, seperti baik ...maupun dan makin ... makin (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:25). Kategori frase koordinatif sesuai dengan kategori komponennya. Contoh :
a. Kaya atau miskin, kaya ataupun miskin, kaya dan miskin; dari, untuk, dan oleh rakyat, untuk dan atas nama klien; pintar, tetapi congkak
b. Baik merah maupun biru, entah suka entah tidak (suka), makin pagi makin baik, makin tua makin bermutu.
Perhatikan bahwa kata yang dapat digabungkan hanya kata yang berkategori
sama, seperti merah-biru, tua-bermutu, suka-(tidak) suka, dan pagi-baik.
Jika tidak menggunakan partikel, gabungan itu disebut frase parataktis, seperti tua muda, besar kecil, hilir mudik, keluar masuk, pulang pergi, naik turun, makan minum, ibu bapak, dan kaya miskin.
2. Endosentris Atributif
Berbeda dengan endosentrik koordinatif, frase golongan ini terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau. Misalnya :
- Pembangunan lima tahun
- Sekolah Inpres
- Buku baru
- Pekarangan luas
- Orang itu
- Malam ini
Kata-kata yang dicetak miring dalam frase-frase diatas, yaitu kata pembangunan, sekolah, buku, pekarangan, orang, malam, merupakan unsur pusat (UP), yaitu unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur yang terpenting, sedangkan unsur lainnya merupakan atribut (Atr).
3. Endosentris Apositif
Dalam klausa surti anak pak Tejo sedang belajar, satuan Surti, anak pak Tejo juga merupakan frase. Frase ini memiliki sifat yang berbeda dengan frase endosentrik yang koordinatif dan yang atributif. Dalam frasse endosentrik yang koordinatif unsur-unsurnya dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau, dan dalam endosentrik yang atributif unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau dan secara semantik ada unsur yang terpenting, yang lebih penting dari unsur lainnya. Dalam frase Surti anak pak Tejo unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung
dan atau atau dan secara semantik unsur yang satu dalam hal ini unsur anak pak Tejo, sama dengan unsur lainnya, yaitu sama dengan unsur Surti. Karena sama unsur anak pak Tejo dapat menggantikan unsur Surti :
Surti, anak pak Tejo, sedang belajar
Surti, - ,sedang belajar
- , anak pak Tejo sedang belajar
Unsur Surti merupakan UP, sedangkan unsur anak pak Tejo merupakan aposisi (Ap).
Zaenal Arifin dan Junaiyah (2008), frase apositif adalah frase endosentris berinduk banyak yang secara luar bahasa komponennya menunjuk pada wujud yang sama (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:25). Contohnya :
Ria, anak kakakku yang tinggal di palembang,
Megawati Soekarnoputri, salah seorang mantan Presiden Republik Indonesia,
Para buruh menolak – membangkang – masuk kerja.
Dia tidak miskin – walaupun tidak kaya –
2.1.2 Frase Nominal, Veerbal, Bilangan, Keterangan dan Frase Depan
Berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu :
- Frase Nominal
- Frase Verbal
- Frase Bilangan
- Frase keterangan
Di samping itu, ada frase yang tidak memiliki persamaan distribusi dengan golongan kata, yaitu yang disebut frase depan, sehingga seluruhnya terdapat lima frase yang akan dibahas satu persatu.
1. Frase Nominal
Frase nominal adalah frase yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal (Ramlan 1985:145). Persamaan distributif itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran :
Contoh : - ia membeli baju baru
ia membeli baju baru
Frase baju baru dalam klausa diatas mempunyai distribusi yang sama dengan kata baju. Kata baju termasuk golongan kata nominal, karena itu frase baju baru termasuk golongan frase nominal. Contoh-contoh lain :
- Mahasiswa lama
- Gedung sekolah
- Kapal terbang itu
- Jalan raya ini
1.1. Kategori Kata atau Frase yang Menjadi Unsurnya
Secara kategori frase nominal mungkin terdiri dari :
1) N diikuti N, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti oleh kata atau frase nominal sebagai UP atau Atr. Jadi semua unsurnya berupa kata atau frase nominal. Misalnya :
Rumah pekarangan
Ayah ibu
Suami istri
Kakak saya
Frase rumah pekarangan, ayah ibu, suami istri, dan kakak saya terdiri dari kata nominal semua, yaitu kata rumah, ayah, suami, dan kakak sebagai UP, diikuti kata pekarangan, ibu, istri dan saya sebagai UP pula.
2) N diikuti V, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata frase verbal sebagai Atr. Misalnya :
Orang bertopi
Ayah bekerja
Adik bermain
3) N diikuti Bil, artinya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti oleh kata atau frase bilangan sebagai Atr. Misalnya :
Orang dua
Telur tiga butir
Sawah lima petak
Harimau lima ekor
4) N diikuti Ket, artinya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase keterangan sebagai Atr. Misalnya :
Koran kemarin pagi
Buku tahun kemarin
Nasi tadi pagi
Orang tadi
5) N diikuti FD, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase depan sebagai Atr. Misalnya :
Beras dari tetangga
Kereta api ke Surabaya
Pisang dari Ambon
6) N didahului Bil, artinya terdiri dari kata atau frase nominal UP, didahului oleh kata atau frase bilangan sebagai Atr. Misalnya :
Sepuluh ekor ayam
Lima batang kayu
Dua buah sepeda baru
7) N didahului Sd, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP didahului oleh kata atau frase sandang sebagai Atr. Misalnya ;
si Ahmad
sang Pujangga
1.2. Hubungan Makna antar Unsur-unsurnya
Pertemuan unsur-unsur dalam suatu frase menimbulkan hubungan makna. Misalnya peertemuan kata rumah dengan kata pekarangan dalam frase pekarangan rumah menimbulkan hubungan makna ’penjumlahan’. Di samping itu, mungkin juga menimbulkan hubungan makna ’pemilihan’. Hubungan makna itu secara jelas ditandai oleh kemungkinan diletakkannnya kata dan atau atau di antara kedua unsurnya, yang menjadi pekarangan dan rumah atau pekarangan atau rumah.
Kemungkinan hubungan-hubungan makna dalam frase nominal tersebut adalah sebagai berikut :
Penjumlahan
Makna ini ditandai oleh kemungkinan diletakkannya penghubung dan diantara kedua unsurnya. Misalnya :
Suami (dan) istri
Pekarangan (dan) rumah
Nusa (dan) bangsa
Pemilihan
Kemungkinan diletakkannya kata atau diantara unsurnya. Misal :
Ayah atau ibu
Dua atau tiga tahun lagi
Empat atau lima kilo beras
Kesamaan
Kesamaan ini ditandai dengan kemungkinan diletakkannya kata adalah diantara unsurnya, misal Lubuklinggau kota madani yang secara semantik unsur Lubuklinggau sama dengan kota madani. Contoh lain :
Bapak SBY presiden RI
Bapak SBY adalah presiden RI
Kakak saya Ahmad
Kakak saya adalah ahmad
Rahmad mahasiswa STKIP
Rahmad adalah mahasiswa STKIP
Penerangan
Maksudnya adalah fungsi Atr sebagai penerang UP, contoh buku baru, kata buku berfungsi sebagai UP dan kata baru sebagai penerang dari kata buku. Hubungan makna ini ada kemungkinan diletakkannya kata yang diantara unsurnya sehingga kata buku baru menjadi buku yang baru. Contoh lain :
Pohon rindang
Binatang buas
Acara terakhir
Pembatas
Dalam hal ini unsur Atr berfungsi sebagai pembatas UP, contoh rumah fauzi yang menyatakan makna rumah (milik) fauzi. Hubungan makna ini ditandai tidak mungkinnya diletakkan kata yang, dan, atau, dan adalah diantara unsur frase N yang terdiri dari N diikuti N. Contoh lain :
Anggota DPR
Buku sejarah
Pembangunan daerah
Penentu atau Penunjuk
Hubungan makna ini berkemungkinan diletakkannya kata penunjuk ini atau itu yang berfungsi sebagai penunjuk UP, kata penunjuk bukan menyatakan makna ’penerang’ sekalipun dapat di tambahkan kata yang diantara unsurnya, dan bukan pula menyatakan makna ’pembatas’ tetapi menyatakan makna penentu atau penunjuk. Contoh :
Rumah itu
Mahasiswa yang rajin itu
Pekarangan ini
Mobil ini
2. Frase Verbal
Frase verbal atau frase golongan V adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran :
Contoh : Rachmad sedang makan roti di ruang tamu
Rachmad – makan roti di ruang tamu
Frase sedang makan dalam klausa di atas mempunyai distribusi yang sama dengan kata makan. Kata makan termasuk golongan V. Karena itu frasse sedang makan juga termasuk golongan V. Contoh lain :
- Akan pergi
- Dapat menyanyi
- Sudah pulang
- Sedang makan
Kata pergi, menyanyi, pulang, dan makan termasuk golongan kata verbal, sedangkan kata akan, dapat, sudah dan sedang termasuk golongan kata tambah (T). Kata-kata tambah tersebut seperti akan, sudah, sering, dapat, sedang, baru dan tidak.
Zaenal Arifin dan junaiyah (2008), frase verbal adalah frase yang terdiri dari atas gabungan verba dan adverba atau gabungan verba adverbia atau gabungan verba dan preposisi gabungan (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:22).
Contohnya :
1. Pergi kerja, bangkit berlari, tegak berdiri
2. Pulang pergi, makan minum
3. Berlari cepat, berjalan mundur, bernyanyi merdu, cepat berlari.
3. Frase Bilangan
Frase bilangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan (Ramlan 1985:162). Misalnya frase dua ekor dalam dua ekor ayam, frase ini mempunyai distribusi yang sama dengan dua, persamaan tersebut dapat dilihat dari jajarannya :
Dua ekor ayam
Dua – ayam
Kata dua termasuk golongan kata bilangan, karena itu frase dua ekor ayam termasuk ke dalam golongan frase bilangan. Contoh lain :
Lima botol (minyak goreng)
Tujuh drigen (bensin)
Sepuluh mangkok (bakso)
Kata lima, tujuh, sepuluh diatas termasuk golongan kata bilangan, sedangkan botol, drigen dan mangkok termasuk golongan kata penyukat. Jadi frase bilangan tersebut terdiri dari unsur kata bilangan diikuti kata penyukat.
Zaenal Arifin dan Junaiyah menyebut frase ini dengan frase numeral yaitu, frase yang terdiri atas numeralia sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan nomina penggolongan bilangan dan nomina ukuran (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:24). Contohnya :
tujuh belas, tiga puluh, lima puluh
dua lusin, empat gros, lima botol
4. Frase Keterangan
Frase keterangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan. Misalnya frase tadi pagi yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata tadi. Peersamaan tersebut dapat diketahui dari jajarannya :
Tadi pagi dewi pergi kuliah
Tadi – dewi pergi kuliah.
Kata-kata keterangan seperti tadi, kemarin, nanti, besok, lusa, sekarang contoh lain misalnya :
Kemarin pagi paman datang.
Nanti malam ayah mulai ronda.
Besok saya pergi ke bandung.
5. Frase Depan
Frase depan ialah frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai aksinya. Misalnya :
di sebuah kota
di toko ayah
sejak kemarin sore
Frase di sebuah kota terdiri dari kata depan di sebagai penanda, diikuti oleh frase sebuah kota sebagai aksinya, dan begitu juga dengan frase sejak kemarin sore yang terdiri dari sejak sebagai kata depan dan frase kemarin sore sebagai aksinya.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Frase adalah satuan gramatikal yang secara potensial berupa gabungan kata yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas dan mempunyai sifat nonpredikatif.
Frase dapat dibedakan menjadi :
1. Frase Eksosntris dan Endosentris
Frase Eksosentris :
Eksosentris Direktif (frase preposisi)
Frase posposisi
Frase preposposisi
Frase Endosentris ;
Endosentris Koordinatif
Endosentris Atributif
Endosentris Apositif
2. Frase Berdasarkan Persamaan Distribusi
Frase Nominal
Frase Verbal
Frase Bilangan
Frase Keterangan
Frase Depan
B. SARAN
Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak bahkan lebih lengkap tentang pembahasan Sintaksis, pembaca dapat membaca dan mempelajari buku-buku Sintaksis dari berbagai pengarang, karena di dalam makalah ini penulis hanya membahas garis besarnya saja tentang pembahassan Sintaksis dan hanya membahas lebih dalam tentang frase.
Di sini penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penulisan makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal dan Junaiyah. 2008. Sintaksis. Jakarta: Grasindo
Ramlan, M. 1985. Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono
Tarigan, Henry Guntur. 1984. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa
http://www.rider-system.net/2009/09/konsep-frasa.html
Meskipun ini belum sempurna namun aku cukup puas den-gan hasil kerja sendiri
meskipun dihujani kritik dan saran
Pepatah mengatakan
Pengalaman adalah guru yang paling baik
“Memulai membuat karya sendiri dari sekarang adalah lebih baik daripada tidak pernah membuat sama sekali”
Ini adalah awal dari karya-karya tulis selanjutnya
Rachmad Rivai
Subscribe to:
Posts (Atom)


