Saturday, March 12, 2011

Ilmu Sosial Dasar

ILMU SOSIAL DASAR (ISD)
(KEMISKINAN)




DI TULIS OLEH :

NAMA : Rachmad Rivai
NPM : 2009221
MK : Ilmu Sosial Dasar (ISD)
PRODI : Bahasa Indonesia






SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) LUBUKLINGGAU
2011/2012
KATA PENGANTAR


Alhamdulillahi robbil’alamin puji syukur penulis persembahkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan, baik jasmani maupun rohani, sehingga dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga selalu dilimapAhkan oleh_NYA kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW para keluarga, sahabat, kerabat serta pengikut-pengikutnya yang selalu setia hingga akhir zaman amiiin.
Tak lupa juga penulis menyampaikan terima kasih kepada para dosen pembimbing mata kuliah khususnya bapak Drs. Jamiluddin sebagai dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Sosial Dasar (ISD) yang telah membimbing kami dalam semester ini.
Penulis juga menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih atas kritik dan saran semoga makalah ini berguna untuk kita.

Lubuklinggau, Januari 2011


Penulis










DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………. iii
BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………........ 1
A. LATAR BELAKANG ……………………………………..... 1
B. RUMUSAN MASALAH ………………………………….... 1
C. TUJUAN …………………………………………………….. 1
BAB II. PEMBAHASAN ………………………………………………. 2
A. MASALAH SOSIA ………………………………………… 2
B. KEMISKINAN ……………………………………………… 2
C. STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN ……... 5
BAB III. PENUTUP …………………………………………………….. 7
A. KESIMPULAN ……………………………………………… 7
B. SARAN ………………………………………………..…….. 7
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………..……….. 8












BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kemiskinan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk problema yang muncul dalam kehidupan masyarakat, khususnya pada Negara-negara yang sedang berkembang sperti Indonesia yang masih begitu besar tingkat kemiskinan masyarakatnya. Kemiskinan yang dimaksud adalah kemiskinan dalam bidang ekonomi. Dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian dan tempat berteduh.
Banyak faktor yang melatar belakangi masalah kemiskinan ini seperti ekonomi, sosial atau budaya yang ada di dalam masyarakat.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian di atas dapat kita lihat berbagai permasalahan yang ada dalam masalah kemiskinan ini seperti :
1. Mengapa kemiskinan terjadi?
2. Apa faktor penyebab kemiskinan?
3. Orang atau masyarakat yang bagaimana dikatakan miskin?
4. Bagaimarna strategi penanggulangan masalah kemiskinan ini?

C. TUJUAN
Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dasar (ISD) sebagai tugas akhir semester gazal, pembuatan makalah ini juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca betapa harusnya kita memberantas kemiskinan ataupun minimal dapat mengurangi tingkat kemiskinan ini, agar kita tidak selalu mengandalkan pemerintah untuk mengurangi kemiskinan ini, tetapi masyarakat juga harus ikut berperan dalam mengurangi masalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN

A. MASALAH SOSIAL
Menurut Soerjono Soekamto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.
Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.
B. KEMISKINAN
Kemiskinan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk problema atau masalah sosial yang muncul dalam kehidupan masyarakat, khususnya pada negara-negara yang sedang berkembang atau bahkan terkadang dapat pula terjadi pada Negara maju, biasanya perrmasalahan kemiskinan pada Negara maju sering terjadi pada para imigran.
Sebagai masalah yang menjadi isu global disetiap Negara berkembang, wacana kemiskinan dan pemberantasannya haruslah menjadi agenda wajib bagi para pemerintah dan pemimpin Negara. Peran serta pekerja sosial dalam menangani permasalahan kemiskinan sangat diperlukan, terlebih dalam memberikan masukkan (input) dan melakukan perencanaan strategis (strategic planning) tentang apa yang akan menjadi suatu kebijakan dari pemerintah.
Sebelum mengetahuinya lebih dalam, perlu diketahui penyebab kemiskinan yang secara tidak langsung menjadi standar global :
1. kemiskinan kebudayaan, hal ini biasanya terjadi disebabkan karena adanya kesalahan pada subyeknya. Misalnya : malas, tidak percaya diri, gengsi, tak memiliki jiwa wirausaha yang kompatibel, tidak mempunyai kemampuan dan keahlian, dan sebagainya.
2. kemiskinan structural, hal ini biasanya terjadi karena disebabkan oleh faktor eksternal yang melatarbelakangi kemiskinan. Faktor eksternal itu biasanya disebabkan kinerja dari pemerintah diantaranya : pemerintah yang tidak adil, korupsi, paternalistik, birokrasi yang berbelit, dan sebagainya.
Isbandi Rukminto Adi, Phd menegaskan pula tentang akar kemiskinan berdasarkan level permasalahan dan membaginya menjadi beberapa dimensi, diantaranya:
1. Dimensi Mikro : mentalitas materialistic dan ingin serba cepat ( instan )
2. Dimensi Mezzo : melemahnya social trust ( kepercayaan social ) dalam suatu komunitas dan organisasi, dan otomatis hal ini sangat berpengaruh terhadap si subyek itu sendiri
3. Dimensi Makro : kesenjangan (ketidakadilan) pembangunan daerah yang minus (desa) dengan daerah yang surplus (kota), strategi pembangunan yang kurang tepat (tidak sesuai dengan kondisi sosio-demografis) masyarakat Indonesia
4. Dimensi Global : adanya ketidakseimbangan relasi antara Negara yang sudah berkembang dengan Negara yang sedang berkembang.
Departemen Sosial sebagai instansi yang membawahi sacara langsung masalah kemiskinan tidak pernah absent dalam mengkajinya termasuk melaksanakan program-program kesejahteraan sosial yang dikenal dengan PROKESOS yang dilaksanakan baik secara intra-departemen maupun antar-departemen bekerjasama dengan departemen-departemen lain secara lintas sektoral. Dalam garis besar, pendekatan Depsos dalam menelaah dan menangani kemiskinan sangat dipengaruhi oleh persepektif pekerjaan sosial (social work). Pekerjaan sosial dimaksud, bukanlah kegiatan-kegiatan sukarela atau pekerjaan-pekerjaan amal begitu saja, melainkan merupakan profesi pertolongan kemanusiaan yang memiliki dasar-dasar keilmuan (body of knowledge), nilai-nilai (body of value) dan keterampilan (body of skills) professional yang umumnya diperoleh melalui pendidikan tinggi pekerjaan sosial ( S1, S2,dan S3 ).
Sementara itu klasifikasi atau penggolongan seseorang atau masyarakat dikatakan miskin ditetapakan dengan menggunakan tolak ukur utama, yaitu :
 Tingkat pendapatan. Misalnya saja di Indonesia, tingkat pendapatan digunakan ukuran kerja waktu sebulan. Dengan adanya tolak ukur ini, maka jumlah dan siapa yang tergolong dalam orang miskin dapat diketahui dengan pendapatannya perbulan. Atau dengan menggunakan batas minimal jumlah kalori yang di konsumsi, yang diambil persamaanya dalam kg beras.
 Kebutuhan relatif per keluarga. Dibuat berdasarkan atas kebutuhan minimal yang harus dipenuhi dalam sebuah keluarga agar dapat melangsungkan kehidupannya secara sederhana tetapi memadai sebagai warga masyarakat yang layak.
Jika dikaitkan dengan kemakmuran, maka ada dua persepsi masyarakat yang cukup berlawanan tentang hal ini. Persepsi pertama adalah yang berpikir rasional dan eksak. Bahwa kemakmuran seseorang diukur dengan jumlah serta nilai bahan-bahan dan barang-barang yang dimiliki dan dikuasai untuk memelihara dan menikmati hidupnya. Semakin banyak jumlah dan makin tinggi nilainya, maka akan makin tinggi taraf kemakmuran hidupnya. Sedangkan persepsi kedua adalah pandangan masyarakat umum, terutama pedesaan. Mereka beranggapan bahwa kemakmuran tidaklah berbeda dengan kebahagiaan. Seseorang akan merasa makmur bila sudah ada keserasian antara keinginan-keinginan dan keadaan materil atau sosial yang dimiliki atau dikuasainya. Karenanya mereka selalu berusaha untuk menyeimbangkan antara keinginan dan keadaan materinya. Jika keinginan mereka berlebih, sementara keadaan materil mereka tidak mencukupi maka mereka harus mengurangi keinginan yang ada, begitu juga sebaliknya.
Kemiskinan secara umum dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok, yaitu :
1. Kemiskinan yang disebabkan aspek badaniyah atau mental seseorang. Pada aspek badaniyah, biasanya orang tersebut tidak bisa berbuat maksimal sebagaimana manusia lainnya yang sehat jasmani seperti sakit parah atau cacat badan. Sedangkan aspek mental, biasanya mereka disifati oleh sifat malas bekerja dan berusaha ssecara wajar, sebagaimana manusia lainnya.
2. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam. Biasanya pihak pemerintah menempuh dua cara, yaitu memberi pertolongan sementara dengan bantuan secukupnya dan mentransmigrasikan ke tempat hidup yang lebih baik.
3. Kemiskinan buatan atau bkemiskinan structural. Selain disebabkan oleh keadaan pasrah pada kemiskinan dan memandangnya sebagai nasib dan takdir Tuhan, juga karena struktur ekonomi, sosial dan pollitik.

C. STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN
Usaha dalam memerangi kemiskinan dapat dilakukan dengan cara memberikan pekerjaan yang mempunyai pendapatan yang layak kepada orang miskin. Kerena dengan cara ini bukan hanya tingkat pendapatan yang dinaikkan, tetapi harga diri sebagai manusia dan sebagai warga masyarakat dapat dinaikkan seperti warga masyarakat lainnya. Dengan lapangan kerja dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja dan merangsang berbagai kegiatan-kegiatan di sektor ekonomi lainnya.
Sesuai dengan konsepsi mengenai keberfungsian sosial, strategi penanganan kemiskinan pekerjaan sosial terfokus pada peningkatan kemampuan orang miskin dalam menjalankan tugas-tugas kehidupan sesuai dengan statusnya. Karena tugas-tugas kehidupan dan status merupakan konsepsi yang dinamis dan multi-wajah, maka intervensi pekerjaan sosial senantiasa melihat sasaran perubahan (orang miskin) tidak terpisah dari lingkungan dan situasi yang dihadapinya. Prinsip in dikenal dengan pendekatan “person in environment dan person in situation”
Seperti yang telah dijelaskan diatas Depsos sebagai suatu instansi memiliki pula beberapa agenda yang memang merupakan disiapkan untuk menekan angka kemiskinan, diantara program kerja Depsos yang telah terealisasi yang menurut Edi Suharto, Phd adalah strategi pendekatan pertama yaitu pekerja sosial melihat penyebab kemiskinan dan sumber-sumber penyelesaian kemiskinan dalam kaitannya dengan lingkungan dimana si miskin tinggal, baik dalam konteks keluarga, kelompok pertemanan (peer group), maupun masyarakat. Penanganan kemiskinan yang bersifat kelembagaan (institutional) biasanya didasari oleh pertimbangan ini. Beberapa bentuk PROKESOS yang telah dan sedang dikembangkan oleh Depsos dapat disederhanakan menjadi :
1. pemberian pelayanan dan rehabilitasi sosial yang diselenggarakan oleh panti-panti sosial
2. program jaminan, perlindungan dan asuransi kesejahteraan sosial
3. bekerjasama dengan instansi lain dalam melakukan swadaya dan pemberdayaan usaha miro, dan pendistribusian bantuan kemanusiaan, dan lain-lain
Pendekatan kedua, yang melihat si miskin dalam konteks situasinya, strategi pekerjaan sosial berpijak pada prinsip-prinsip individualisation dan self-determinism yang melihat si miskin secara individual yang memiliki masalah dan kemampuan unik. Program anti kemiskinan dalam kacamata ini disesuaikan dengan kejadian-kejadian dan atau masalah-masalah yang dihadapinya. PROKESOS penanganan kemiskinan dapat dikategorikan ke dalam beberapa strategi, diantaranya :
1. Strategi kedaruratan. Misalnya, bantuan uang, barang dan tenaga bagi korban bencana alam.
2. Strategi kesementaraan atau residual. Misalnya, bantuan stimulant untuk usaha-usaha ekonomis produktif.
3. Strategi pemberdayaan. Misalnya, program pelatihan dan pembinaan keluarga muda mandiri, pembinaan partisipasi sosial masyarakat, pembinaan anak dan remaja.
4. Strategi “penanganan bagian yang hilang”. Strategi yang oleh Caroline Moser disebut sebagai “the missing piece strategy” ini meliputi program-program yang dianggap dapat memutuskan rantai kemiskinan melalui penanganan salah satu aspek kunci kemiskinan yang kalau “disentuh” akan membawa dampak pada aspek-aspek lainnya. Misalnya, pemberian kredit, program KUBE (kelompok usaha bersama)






BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kemiskinan yaitu suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
Klasifikasi orang dikatakan miskin :
 Tingkat pendapatan di bawah standar yang layak dalam masyarakat yang bersangkkutan.
 Kebutuhan relatif per keluarga, keseimbangan antara pendapatan dan kebutuhan keluarga.

B. SARAN
Untuk memerangi kemiskinan yang terjadi dalam masyarakat, pemerintah hendaknya membuka lapangan pekerjaan yang sangat di butuhkan oleh masyarakat dalm memperbaiki taraf hidupnya. Selain pemerintah, masyarakat juga hendaknya ikut berperan serta dalam mengurangi tingkat kemiskinan ini seperti membuka lapangan kerja untuk masyarakat yang lainnya.
Di dalam pembuatan makalah ini mungkin masih banyak kekurangan, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.










DAFTAR PUSTAKA


Edi Suharto. Phd. Konsep Kemiskinan dan Strategi Penanggulangannya
Edi Suharto, Phd . Pendekatan Pekerja Sosial dalam Menangani masalah kemiskinan
http://www.policy.hu/suharto/makIndo13.html

Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia

OLEH
NAMA/ NPM : RACHMAD RIVAI (2009221)
PRODI : Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia
MK : Pembinaan dan Pengembangan BI

Beberapa definisi dari pembinaan adalah sebagai berikut :
A. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Poerwadarmita, 1987), pembinaan adalah suatu usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
B. Menurut Thoha (1987:7), pembinaan adalah suatu proses, hasil atau pertanyaan menjadi lebih baik, dalam hal ini mewujudkan adanya perubahan, kemajuan, peningkatan, pertumbuhan, evaluasi atau berbagai kemungkinan atas sesuatu.
C. Menurut Widjaja (1989), pembinaan adalah suatu proses atau pengembangan yang mencakup urutan-urutan pengertian, diawali dengan mendirikan, membutuhkan, memelihara pertumbuhan tersebut yang disertai usaha-usaha perbaikan, menyempurnakan dan mengembangkannya.
Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembinaan adalah suatu proses atau tindakan yang secara efisien, efektif dan bertahap dengan tujuan untuk mewujudkan perubahan dan menyempurnakan agar lebih baik.
Sedangkan pengembangan adalah suatu proses, cara atau perbuatan mengembangkan sesuatu menjadi lebih baik.

Kesimpulan :
Jadi pengertian atau definisi dari Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia menurut saya adalah suatu proses, cara atau perbuatan yang efisien dan efektif mengembangkan dan menyempurnakan bahasa, yaitu bahasa Indonesia agar lebih baik.

Sosiolinguistik Variasi Bahasa

VARIASI BAHASA



DI TULIS OLEH :

NAMA : RACHMAD RIVAI
NPM : 2009221
PRODI : Pend. Bhs. dan Sastra Indo
MK : SOSIOLINGUISTIK





SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) LUBUKLINGGAU
2010/2011
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahii robbil’alamin puji syukur penulis ucapkan kepada ALLAH SWT, yang telah memberikan nikmat kesehatan, baik kesehatan jasmani maupun rohani, sehingga dapat menyusun makalah ini sebagaimana mestinya. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan oleh_NYA kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW para keluarga, sahabat, kerabat serta para pengikut-pengikutnya yang selalu setia hingga akhir zaman amiiin.
Tak lupa juga penulis ucapkan terima kasih kepada para dosen yang memberikan bimbingan mata kuliah,terutama bapak Supriyanto, M.Pd yang memberikan bimbingan mata kuliah Sosiolinguistik umum ini.
Penulis juga menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan makalah-makalah selanjutnya sangat di harapkan. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Lubuklinggau, Desember 2010

PENULIS






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I, PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Linguistik
B. Pengertian Variasi Bahasa
C. Macam-macam Variasi Bahasa
D. Sebab-sebab Adanya Variasi Bahasa
E. Penggunaan Variasi Bahasa
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bahasa adalah lambang bunyi yang di hasilkan oleh alat ucap yang mempunyai makna atau arti. Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh makhluk hidup untuk berinteraksi sesamanya, terutama manusia. Macam-macam bahasa di dunia ini sungguh beragam, terutama di Indonesia yang mempunyai banyak suku bangsa, budaya dan bahasa. Proses menguasai bahasa melibatkan soal-soal luaran seperti latar belakang sosial penutur, kedudukan dan kebudayaan penutur dalam masyarakat.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian dari variasi bahasa itu?
2. Bagaimana macam-macam variasi bahasa itu?
3. Apa saja yang menyebabkan adanya variasi bahasa itu?
4. Bagaimana penggunaan variasi bahasa tersebut?
C. TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memperlihatkan bahwa begitu banyaknya bahasa-bahasa yang digunakan dalam masyarakat untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Variasi-variasi bahasa ini disebabkan karena banyak hal seperti latar belakang sosial, budaya, pendidikan, bahkan kedudukan ekonomi yang berbeda-beda.



BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN SOSIOLINGUISTIK
Sosiolinguistik merupakan ilmu antar disiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan yang sangat erat. Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kegiatan sosial ataupun gejala sosial dalam suatu masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil objek bahasa sebagai objek kajiannya. Sosiolinguistik menurut Kridalaksana merupakan ilmu yang mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa, serta hubungan diantara para bahasawan dengan ciri fungsi variasi bahasa itu didalam suatu masyarakat bahasa. Sedangkan menurut Nababan,Sosiolinguistik merupakan pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan.
B. PENGERTIAN VARIASI BAHASA
Variasi bahasa menurut Aslindgaf (2007:17) adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola yang menyerupai pola umum bahasa induksinya. Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register).


C. MCAM-MACAM VARIASI BAHASA
Chaer (2004:62) mengatakan bahwa variasi bahasa itu pertama-tama kita bedakan berdasarkan penutur dan penggunanya, Adapun penjelasan variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1). Variasi Bahasa dari Segi Penutur
a. Variasi Bahasa Idiolek
Variasi bahasa idiolek adalah variasi bahasa yang bersifat perorangan. Menurut konsep idiolek. setiap orang mempunyai variasi bahasa atau idioleknya masing-masing.
b. Variasi Bahasa Dialek
Variasi bahasa dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Umpamanya, bahasa Jawa dialek Banyumas, Pekalongan, Surabaya, dan lain sebagainya.
c. Variasi Bahasa Kronolek atau Dialek Temporal
Variasi bahasa kronolek atau dialek temporal adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok sosial pada masa tertentu. Misalnya,variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, variasi bahasa pada tahun lima puluhan, dan variasi bahasa pada masa kini.
d. Variasi Bahasa Sosiolek
Adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Variasi bahasa ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan lain sebagainya.

e. Variasi Bahasa Berdasarkan Usia
Variasi bahasa berdasarkan usia yaitu varisi bahasa yang digunakan berdasarkan tingkat usia. Misalnya variasi bahasa anak-anak akan berbeda dengan variasi remaja atau orang dewasa.
f. Variasi Bahasa Berdasarkan Pendidikan
Variasi bahasa yang terkait dengan tingkat pendidikan si pengguna bahasa. Misalnya, orang yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar akan berbeda variasi bahasanya dengan orang yang lulus sekolah tingkat atas. Demikian pula, orang lulus pada tingkat sekolah menengah atas akan berbeda penggunaan variasi bahasanya dengan mahasiswa atau para sarjana.
g. Variasi Bahasa Berdasarkan Seks
Variasi bahasa berdasarkan seks adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis kelamin dalam hal ini pria atau wanita. Misalnya, variasi bahasa yang digunakan oleh ibu-ibu akan berbeda dengan varisi bahasa yang digunakan oleh bapak-bapak.
h. Variasi Bahasa Berdasarkan Profesi, Pekerjaan atau Tugas Para Penutur
Variasi bahasa berdasarkan profesi adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis profesi, pekerjaan dan tugas para penguna bahasa tersebut. Misalnya, variasi yang digunakan oleh para buruh, guru, mubalik, dokter, dan lain sebagainya tentu mempunyai perbedaan variasi bahasa.
i. Variasi Bahasa Berdasarkan Tingkat Kebangsawanan
Variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan adalah variasi yang terkait dengan tingkat dan kedudukan penutur (kebangsawanan atau raja-raja) dalam masyarakatnya. Misalnya, adanya perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh raja (keturunan raja) dengan masyarakat biasa dalam bidang kosa kata, seperti kata mati digunakan untuk masyarakat biasa, sedangkan para raja menggunakan kata mangkat.
j. Variasi Bahasa Berdasarkan Tingkat Ekonomi Para Penutur
Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur adalah variasi bahasa yang mempunyai kemiripan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan hanya saja tingkat ekonomi bukan mutlak sebagai warisan sebagaimana halnya dengan tingkat kebangsawanan. Misalnya, seseorang yang mempunyai tingkat ekonomi yang tinggi akan mempunyai variasi bahasa yang berbeda dengan orang yang mempunyai tingkat ekonomi lemah.
Berkaitan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat golongan, status dan kelas sosial para penuturnya dikenal adanya variasi bahasa akrolek, basilek, vulgal, slang, kulokial, jargon, argoi, dan ken.
Adapun penjelasan tentang variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1. Akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi dari variasi sosial lainya.
2. Basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan di pandang rendah.
3. Vulgal adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakai bahasa yang kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak berpendidikan.
4. Slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia.
5. Kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari yang cenderung menyingkat kata karena bukan merupakan bahasa tulis. Misalnya dok (dokter), prof (profesor), let (letnan), nda (tidak), dll.
6. Jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok sosial tertentu. Misalnya, para montir dengan istilah roda gila, didongkrak, dll.
7. Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh profesi tertentu dan bersifat rahasia. Misalnya, bahasa para pencuri dan tukang copet,kaca mata artinya polisi.
8. Ken adalah variasi sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek penuh dengan kepura-puraan. Misalnya, variasi bahasa para pengemis.
2). Variasi Bahasa dari Segi Pemakaian
Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau fungsinya disebut fungsiolek atau register adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya bidang jurnalistik, militer, pertanian, perdagangan, pendidikan, dan sebagainya. Variasi bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tampak cirinya adalah dalam hal kosakata. Setiap bidang kegiatan biasanya mempunyai kosakata khusus yang tidak digunakan dalam bidang lain. Misalnya, bahasa dalam karya sastra biasanya menekan penggunaan kata dari segi estetis sehingga dipilih dan digunakanlah kosakata yang tepat. Ragam bahasa jurnalistik juga mempunyai ciri tertentu, yakni bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Sederhana karena harus dipahami dengan mudah; komunikatif karena jurnalis harus menyampaikan berita secara tepat; dan ringkas karena keterbatasasan ruang (dalam media cetak), dan keterbatasan waktu (dalam media elektronik). Intinya ragam bahasa yang dimaksud di atas, adalah ragam bahasa yang menunjukan perbedaan ditinjau dari segi siapa yang menggunakan bahasa tersebut.
3. Variasi Bahasa dari Segi Keformalan
Variasi bahasa berdasarkan tingkat keformalannya, Chaer (2004:700) membagi variasi bahasa atas lima macam gaya, yaitu:
a. Gaya atau Ragam Beku (frozen)
Gaya atau ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal,yang digunakan pada situasi-situasi hikmat, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah, dan sebagainya.
b. Gaya atau Ragam Resmi (formal)
Gaya atau ragam resmi adalah variasi bahasa yang biasa digunakan pada pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat, dan lain sebagainya.
c. Gaya atau Ragam Usaha (konsultatif)
Gaya atau ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa yang lazim dalam pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi.
d. Gaya atau Ragam Santai (casual)
Gaya bahasa ragam santai adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi yang tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu istirahat dan sebagainya.
e. Gaya atau Ragam Akrab (intimate)
Gaya atau ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab. Variasi bahasa ini biasanya pendek-pendek dan tidak jelas.
f. Variasi Bahasa dari Segi Sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Misalnya, telepon, telegraf, radio yang menunjukan adanya perbedaan dari variasi bahasa yang digunakan. salah satunya adalah ragam atau variasi bahasa lisan dan bahasa tulis yang pada kenyataannya menunjukan struktur yang tidak sama.
D. SEBAB-SEBAB ADANYA VARIASI BAHASA
Bebrapa penyebab adanya variasi bahasa adalah sebagai berikut :
1. Interferensi
Chaer (1994:66) memberikan batasan bahwa interferensi adalah terbawa masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan,sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah dari bahasa yang digunakan itu. Bahasa daerah menjadi proporsi utama dalam komunikasi resmi, sehingga rasa cinta terhadap bahasa nasional terkalahkan oleh bahasa daerah.
Alwi, dkk.(eds.) (2003:9), menyatakan bahwa banyaknya unsur pungutan dari bahasa Jawa, misalnya pemerkayaan bahasa Indonesia, tetapi masuknya unsur pungutan bahsa Inggris oleh sebagian orang dianggap pencemaran keaslian dan kemurnian bahasa kita. Hal tersebut yang menjadi sebab adanya interferensi. Selain bahasa daerah, bahasa asing (Inggris) bagi sebagian kecil orang Indonesia ditempatkan di atas bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa inggris di ruang umum telah menjadi kebiasaan yang tidak terelakkan lagi. Hal tersebut mengakibatkan lunturnya bahasa dan budaya Indonesia yang secara perlahan tetapi pasti telah menjadi bahasa primadona. Misalnya masyarakat lebih cenderung menggunakan kata “pull” untuk “dorong” dan “push” untuk “tarik”, serta “welcome” untuk “selamat datang”.
2. Integrasi
Selain Interferensi, integrasi juga dianggap sebagai pencemar terhadap bahasa Indonesia. Chaer (1994:67), menyatakan bahwa integrasi adalah unsur-unsur dari bahasa lain yang terbawa masuk dan sudah dianggap, diperlukan dan di pakai sebagai bagian dari bahasa yang menerima atau yang memasukinya. Proses integrasi ini tentunya memerlukan waktu yang cukup lama, sebab unsur yang berintegrasi itu telah di sesuaikan, baik lafalnya, ejaannya, maupun tata bentuknya. Contoh kata yang berintegrasi seperti montir, sopir, dongkrak.
3. Alih kode dan Campur Kode
Alih kode adalah beralihnya suatu kode (entah bahasa atau ragam bahasa tertentu) ke dalam kode yang lain (bahasa lain) (Chaer, 1994:67). Campur kode adalah dua kode atau lebih di gunakan bersama tanpa alasan, dan biasanya terjadi dalam situasi santai (Chaer, 1994:69). Diantara dua gejala bahasa itu, baik alih kode maupun campur kode gejala yang sering merusak bahasa Indonesia adalah campur kode. Biasanya dalam berbicara dalam bahasa Indonesia di campurkan dengan unsur-unsur bahasa daerah, begitu juga sebaliknya. Dalam kalangan orang terpelajar sering kali bahasa Indonesia di campur dengan unsur-unsur bahasa Inggris.
4. Bahasa Gaul
Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para anak jalanan. Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian mengumpulkan kosa kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus yang bernama kamus bahasa gaul pada tahun 1999. Contoh penggunaan bahasa gaul adalah sebagai berikut :
Bahasa Indonesia Bahasa Gaul
Ayah Bokap
Ibu Nyokap
Saya Gue

E. PENGGUNAAN VARIASI BAHASA
Penggunaan variasi bahasa harus di sesuaikan dengan tempatnya (diglosia), yaitu antara bahasa resmi dan tidak resmi.
1. Bahasa Resmi (Tinggi)
Bahasa resmi digunakan dalam situasi resmi seperti, pidato kenegaraan, pengantar pendidikan, khotbah, surat menyurat resmi, dan buku pelajaran.
2. Bahasa Tidak Resmi (Rendah)
Bahasa ini digunakan dalam situasi yang non formal atau tidak resmi, seperti di rumah, di warung, di jalan, surat-surat pribadi dan catatan untuk dirinya sendiri.















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Variasi bahasa merupakan suatu fenomena bahasa yang ada dalam masyarakat yang dapat menghambat pertumbuhan, perkembangan serta penggunaan bahasa nasional (bahasa Indonesia) dan di anggap menyimpang terhadap bahasa. Dalam kehidupan sehari-hari hendaknya kita mampu menggunakan variasi-variasi bahasa ini sesuai dengan konteks dan tempatnya. Kita harus mampu membedakan di mana bahasa-bahasa itu harus di gunakan.
B. SARAN
Kita sebagai pengguna bahasa atau penutur hendaknya kita harus dapat menggunakan variasi-variasi bahasa tersebut sesuai dengan tempatnya.
Di sini penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehigga kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penulisan makalah-makalah selanjutnya sangat di harapkan.






DAFTAR PUSTAKA

Alwi,dkk (eds). 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
Chaer, Abdul dkk. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta
Chaer, Abdul. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta
www.um-pwr.ac.id/web/artikel.html

Sintaksis Bahasa Indonesia

SINTAKSIS BAHASA INDONESIA
(FRASE)


Di Tulis Oleh :

NAMA : RACHMAD RIVAI
NPM : 2009221
PRODI : Pend.Bahasa dan Sastra Indonesia
MK : Sintaksis Bahasa Indonesia




SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) LUBUKLINGGAU
2011/2012
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi robbil’alamin puji syukur penulis persembahkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan jasmani dan rohani, sehingga dapat menyele-saikan makalah mata kuliah Sintaksis Bahasa Indonesia sebagai tugas akhir semester.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah khususnya ibu Dra. Tri Astuti, M.Pd sebagai dosen pembimbing mata kuliah Sintaksis Ba-hasa Indonesia.
Mungkin di dalam makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan agar pembuatan makalah-makalah selanjutnya menjadi lebih baik lagi.
Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih atas kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah-makalah selanjutnya. Dan semoga makalah ini juga berguna untuk kita.

Lubuklinggau, Januari 2011


Penulis










DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………….. ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………. iii
BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………….……... 1
A. LATAR BELAKANG ………………………………………….…. 1
B. RUMUSAN MASALAH …………………………………….……. 1
C. TUJUAN …………………………………………………………… 1
BAB II. PEMBAHASAN ………………………………………………….…. 2
1. Pengertian Sintaksis ……………………………………………..... 2
1.1 Aspek-aspek Sintaksis ……………………………………...…. 2
1.1.1 Kata : Ciri dan Klasifikasi …………………………...…. 2
1.1.2 Frase : Ciri dan Klasifikasi …………………………...… 4
1.1.3 Klausa : Ciri dan Klasifikasi …………………………..... 4
1.1.4 Kalimat : Ciri dan Klasifikasi …………………………... 4
2. Pengertian Frase …………………………………………………... 5
2.1 Penggolongan Frase ………………………………………….... 5
2.1.1 Frase Eksosentris dan Endosentris ……………………… 6
a. Frase Eksosentris ……………………………………. 7
b. Frase Endosentris …………………………………… 10
2.1.2 Frase Nominal,Verbal,Bilangan,Keterangan dan Frase Depan 13
1. Frase Nominal ……………………………………….. 14
1.1. Kategori Kata atau Frase Yang Menjadi Unsurnya 14
1.2. Hubungan Makna Antar Unsur-unsurnya ……….. 16
2. Frase Verbal …………………………………………. 19
3. Frase Bilangan ………………………………………. 20
4. Frase Keterangan ……………………………………. 22
5. Frase Depan …………………………………………. 22
BAB III. PENUTUP …………………………………………………………... 24
A. KESIMPULAN …………………………………………………..... 24
B. SARAN …………………………………………………………….. 25
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………… 26











BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antar kata dalam tu-turan (speech). Unsur bahasa yang termasuk di dalam lingkup sintaksis adalah frase,klausa dan kalimat. Dan salah satunya yang akan di bahas dalam makalah ini adalah frase.
Didalam makalah ini penulis menyajikan berbagai pengertian frase dan macam-macamnya dari beberapa sumber buku dan juga sumber elektronik sebagai sumber tambahan.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan beberapa masalah yang perlu dibahas, yaitu :
1. Apakah pengertian dari sintaksis?
2. Apakah pengertian dari frase?
3. Bagaimana penggolongan frase?
C. TUJUAN
Tujuan dari makalah ini adalah untuk memperdalam mata kuliah Sintaksis Bahasa Indo-nesia yang telah di pelajari dan dibimbing oleh dosen pembimbing mata kuliah Sintaksis Ba-hasa Indonesia, yaitu ibu Dra. Tri Astuti, M.Pd. terutama bagian frase yang akan dibahas dalam makalah ini.










BAB II
PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN SINTAKSIS
Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang bearti ”dengan” dan kata tattein yang bearti ”menempatkan” jadi secara etimologi bearti : menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Banyak ahli telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan sintaksis. Ada yang mengatakan bahwa ”sintaksis adalah telaah mengenai pola-pola yang dipergunakan sebagai sarana untuk menggabung-gabungkan kata menjadi kalimat” (Stryker 1969:21 dalam Tarigan 1984:5). Ada pula yang mengatakan bahwa ”analisis mengenai konstruksi-konstruksi yang hanya mengikutsertakan bentuk-bentuk bebas disebut sintaksis” (Bloch and Trager 1942:71 dalam Tarigan 1984:5). Dan ada lagi yang mengatakan bahwa ”sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan struktur frase dan kalimat” (Ramlan 1976:57). Sedangkan menurut Zaenal Arifin dan Junaiyah dalam bukunya SINTAKSIS memberikan pengertian bahwa sitaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang dibahas dalam sintaksis adalah frase, klausa dan kalimat.
1.1 Aspek-Aspek Sintaksis
Aspek-aspek Sintaksis meliputi :
1.1.1 Kata: Ciri dan Klasifikasi
Kata dapat dilihat dari berbagai segi. Pertama, kata dilihat dari segi pemakai bahasa. Menurut pemakai bahasa, kata adalah satuan gramatikal yang diujarkan, bersifat berulang-ulang dan secara potensial ujaran itudapat berdiri sendiri. Kedua, kata dilihat secara bahasa, secara linguistik kata dapat dibedakan atas satuan pembentuknya. Oleh karena itu, kata dapat dibedakan sebagai satuan fonologis, satuan gramatikal, dan satuan ortografis.
1). Kata sebagai satuan fonologis
Kata mempunyai ciri-ciri fonologis yang sesuai dengan ciri fonologis bahasa yang bersangkutan. Misalnya ciri fonologis kata bahasa indonesia, seperti berikut:
a. Mempunyai pola fonotatik suatu kata
b. Bukan bahasa vokalik
c. Tidak ada gugus konsonan pada posisi akhir
d. Batas kata tidak di tentukan oleh fonem suprasegmental
2). Kata sebagai satuan gramatikal
Menurut Lyons (1971) dan Dik (1976), secara gramatikal, kata bebas bergerak, dapat dipindah-pindahkan letaknya, tetapi identitasnya tetap.
3). Kata sebagai satuan ortografis
Secara ortografis, kata ditentukan oleh sistem aksara yang berlaku dalam bahasa itu. Bahasa Indonesia, misalnya menggunakan aksara latin. Jadi sebuah kata dituliskan terpisah dari kata lainnya, misalnya terima kasih dan kerja sama ditulis berpisah, bukan terimakasih dan kerjasama.
1.1.2 Frase: Ciri dan Klasifikasi
Frase adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif (Rusyana dan Syamsuri, 1976) atau satu konstruksi ketatabahasaan yang berdiri atas dua kata atau lebih. Frase terdiri atas Endosentris dan Eksosentris, frase Nominal, Verbal, Bilangan, Keterangan, dan Frase Depan.
1.1.3 Klausa: Ciri dan Klasifikasi
Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Klausa berpotensi menjadi kalimat.
Klausa dapat dibedakan berdasarkan distribusi satuannya dan berdasarkan fungsinya.
Pada umumnya klausa, baik tunggal maupun jamak, berpotensi menjadi kalimat. Kalimat inti terdiri atas klausa tunggal, sedangkan kalimat majemuk terdiri atas lebih dari satu klausa. Oleh karena itu, kalimat majemuk terdiri atas klausa-klausa yang saling berhubungan.
1.1.4 Kalimat: Ciri dan Klasifikasi
Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final, dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.
Jika dilihat dari fungsinya, unsur-unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Menurut bentuknya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal serta kalimat majemuk.

2. PENGERTIAN FRASE
Frase lazim dikatakan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (hubungan antara kedua unsur yang membentuk, frase tidak berstruktur subjek – predikat atau predikat – objek), atau lazim juga di sebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam suatu kalimat. Frase adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa (Cook 1971:91;Elson and Pickett 1969:73). Menurut Ramlan frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa ( Ramlan 1985:138). Yang dimaksud dengan tidak melampaui unsur klausa adalah unsur S, P, O, PEL, KET. Contoh, Eka sedang membaca majalah di ruang tamu yang terdiri dari beberapa fungsi yaitu, Eka menduduki fungsi S, sedang membaca menduduki fungsi P, majalah menduduki fungsi O dan di ruang tamu menduduki fungsi KET.
2.1 Penggolongan Frase
Frase dapat di golongkan menjadi :
1. Berdasarkan tipe strukturnya, maka frase dapat dibedakan atas :
 Frase Eksosentris dan Endosentris
2. Berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase dapat digolongkan menjadi :
 Frase Nominal, Verbal, Bilangan, Keterangan dan Frase Depan.

2.1.1 Frase Eksosentris dan Endosentris
Frase dua orang mahasiswa dalam klausa dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan mempunyai distribusi yang sama dengan unsur dua orang, maupun dengan unsur mahasiswa. Persamaan distribusi itu dapat dilihat dari jajaran di bawah ini:
Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.
Dua orang – sedang membaca buku baru di perpustakaan.
- Mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.
Demikian juga frase sedang membaca yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, yaitu dengan unsur membaca. Dan frase buku baru yang mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya, yaitu unsur buku. Frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya disebut frase endosentrik, dan frase yang tidak demikian, maksudnya tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya, disebut frase eksosentris. Contoh frase yang eksosentris adalah frase di perpustakaan dalam klausa di atas, frase tersebut tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya. Ketidaksamaan tersebut dapat dilihat dari jajaran di bawah ini:
Dua orang mahasiswa sedang membaca bukuu baru di perpustakaan
*dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di -
*dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru – sperpustakaan.

a. Frase Eksosentris
Frase eksosentris adalah frase yang sebagian atau seluruhnya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan semua komponennya, baik dengan sumbu maupun dengan preposisi (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:19), frase eksosentris adalah frase yang tidak berhulu, tidak berpusat atau non-headed (White-hall 1956:9 dalam Tarigan 1984:94) ataupun noncentered (Cook 1971:90). Sedangkan menurut ramlan frase eksosentris adalah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya (Ramlan 1985:142).
Berdasarkan struktur internalnya, frase eksosentris ini disebut juga relater-axis atau frase relasional. Dan berdasarkan posisi penghubung yang mungkin terdapat di dalamnya, maka frase eksosentris atau frase relasional dapat dibagi attas :
a) Frase preposisi
b) Frase posposisi
c) Frase preposposisi
Perlu diketahui bahwa dalam bahasa Indonesia hanya mengenal frase preposisi. Namun untuk menambah pengetahuan kita maka tidak ada salahnya kalau frase posposisi dan frase preposposisi kita bahas juga.
 Eksosentris Direktif (Frase Preposisi)
Frase preposisi adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian depan (Tarigan 1984:94). Contoh frase preposisi adalah dengan baik, sejak kemarin, di samping. Pada umumnya frase proposisional berfungsi sebagai keterangan.
Pada dasarnya, frase preposisi menunjukkkan makna berikut :
 ’tempat’, seperti di pasar dan pada dinding
 ’asal arah’, seperti dari kampung, dari sekolah
 ’asal bahan’, seperti (cincin) dari emas, (kue) dari tepung beras
 ’tujuan arah’, seperti ke pasar, ke kampus
 ’menunjukkan peralihan’, seperti kepada saya,(percaya) terhadap Tuhan
 ’perihal’, seperti tentang ekonomi, (terkenang) akan kebaikannya
 ’tujuan’, seperti untukmu, buatku
 ’sebab’, seperti karena, lantaran, sebab, gara-gara (kamu)
 ’penjadian’, seperti oleh karena, untuk itu
 ’kesertaan’, seperti denganmu, dengan ayah
 ’cara’, seperti dengan baik, dengan senang
 ’alat’, seperti cangkul, dengan traktor
 ’keberlangsungan’, seperti sejak kemarin, dari tadi, sampai besok, sampai nanti
 ’penyamaan’, seperti selaras dengan, sesuai dengan
 ’perbandingan’, seperti seperti dia, sebagai bandingan

 Frase Posposisi
Frase posposisi atau post-position adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian belakang. Frase ini tidak terdapat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu bahasa yang mempunyaai frase ini adalah bahasa Jepang. Contoh :
ga ”penanda subyek”
heitai ga, kureta. ”The soldier gave it to me”.
O ”penanda obyek”
Heitai O, mita. ”I saw a soldier”
de ”by means of; in; on; at”
Kisya de, kita. ”I come by train”.
 Frase Preposposisi
Frase preposposisi adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian depan dan di bagian belakang. Frase ini tidak terdapat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu bahasa yang menggunakan frase ini adalah bahasa Karo. Contoh :
i juma nari ”dari ladang”
i tiga nari ”dari pasar”
i Bandung nari ”dari bandung”
i jenda nari ”dari sini”
i jah nari ”dari sana”
b. Frase Endosentris
Frase endosentris adalah frase yang seluruhnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan perilaku salah satu komponennya (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:20-21). Artinya adalah salah satu komponennya dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya. Frase endosentris adalah frase yang berhulu, yang berpusat, atau headed phrase (White hall 1956:9 dalam Tarigan 1984:97), yaitu frase yang mempunyai fungsi yang sama dengan hulunya. Sedangkan menurut ramlan, frase endosentris adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya (Ramlan 1985:142).

Frase endosentris dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Endosentri koordinatif
2. Endosentris atributif
3. Endosentris apositif
1. Endosentris Koordinatif
Frase ini terdiri dari unsur-unsur yang setara. Kesetaraannya itu dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau. Misalnya:
- Rumah pekarangan
- Suami istri
- Dua tiga
- Ayah ibu
- Pembinaan dan pengembangan
- Pembangunan dan pembaharuan
Zaenal Arifin dan Junaiyah (2008), frase koordinatif adalah frase endosentris berinduk banyak, yang secara potensial komponennya dapat dihubungkan dengan partikel dan, ke, atau, tetapi, ataupun konjungsi korelatif, seperti baik ...maupun dan makin ... makin (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:25). Kategori frase koordinatif sesuai dengan kategori komponennya. Contoh :
a. Kaya atau miskin, kaya ataupun miskin, kaya dan miskin; dari, untuk, dan oleh rakyat, untuk dan atas nama klien; pintar, tetapi congkak
b. Baik merah maupun biru, entah suka entah tidak (suka), makin pagi makin baik, makin tua makin bermutu.
Perhatikan bahwa kata yang dapat digabungkan hanya kata yang berkategori
sama, seperti merah-biru, tua-bermutu, suka-(tidak) suka, dan pagi-baik.
Jika tidak menggunakan partikel, gabungan itu disebut frase parataktis, seperti tua muda, besar kecil, hilir mudik, keluar masuk, pulang pergi, naik turun, makan minum, ibu bapak, dan kaya miskin.
2. Endosentris Atributif
Berbeda dengan endosentrik koordinatif, frase golongan ini terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau. Misalnya :
- Pembangunan lima tahun
- Sekolah Inpres
- Buku baru
- Pekarangan luas
- Orang itu
- Malam ini
Kata-kata yang dicetak miring dalam frase-frase diatas, yaitu kata pembangunan, sekolah, buku, pekarangan, orang, malam, merupakan unsur pusat (UP), yaitu unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur yang terpenting, sedangkan unsur lainnya merupakan atribut (Atr).
3. Endosentris Apositif
Dalam klausa surti anak pak Tejo sedang belajar, satuan Surti, anak pak Tejo juga merupakan frase. Frase ini memiliki sifat yang berbeda dengan frase endosentrik yang koordinatif dan yang atributif. Dalam frasse endosentrik yang koordinatif unsur-unsurnya dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau, dan dalam endosentrik yang atributif unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau dan secara semantik ada unsur yang terpenting, yang lebih penting dari unsur lainnya. Dalam frase Surti anak pak Tejo unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung
dan atau atau dan secara semantik unsur yang satu dalam hal ini unsur anak pak Tejo, sama dengan unsur lainnya, yaitu sama dengan unsur Surti. Karena sama unsur anak pak Tejo dapat menggantikan unsur Surti :
Surti, anak pak Tejo, sedang belajar
Surti, - ,sedang belajar
- , anak pak Tejo sedang belajar
Unsur Surti merupakan UP, sedangkan unsur anak pak Tejo merupakan aposisi (Ap).
Zaenal Arifin dan Junaiyah (2008), frase apositif adalah frase endosentris berinduk banyak yang secara luar bahasa komponennya menunjuk pada wujud yang sama (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:25). Contohnya :

Ria, anak kakakku yang tinggal di palembang,
Megawati Soekarnoputri, salah seorang mantan Presiden Republik Indonesia,
Para buruh menolak – membangkang – masuk kerja.
Dia tidak miskin – walaupun tidak kaya –

2.1.2 Frase Nominal, Veerbal, Bilangan, Keterangan dan Frase Depan
Berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu :
- Frase Nominal
- Frase Verbal
- Frase Bilangan
- Frase keterangan
Di samping itu, ada frase yang tidak memiliki persamaan distribusi dengan golongan kata, yaitu yang disebut frase depan, sehingga seluruhnya terdapat lima frase yang akan dibahas satu persatu.
1. Frase Nominal
Frase nominal adalah frase yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal (Ramlan 1985:145). Persamaan distributif itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran :
Contoh : - ia membeli baju baru
ia membeli baju baru
Frase baju baru dalam klausa diatas mempunyai distribusi yang sama dengan kata baju. Kata baju termasuk golongan kata nominal, karena itu frase baju baru termasuk golongan frase nominal. Contoh-contoh lain :
- Mahasiswa lama
- Gedung sekolah
- Kapal terbang itu
- Jalan raya ini
1.1. Kategori Kata atau Frase yang Menjadi Unsurnya
Secara kategori frase nominal mungkin terdiri dari :
1) N diikuti N, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti oleh kata atau frase nominal sebagai UP atau Atr. Jadi semua unsurnya berupa kata atau frase nominal. Misalnya :
 Rumah pekarangan
 Ayah ibu
 Suami istri
 Kakak saya
Frase rumah pekarangan, ayah ibu, suami istri, dan kakak saya terdiri dari kata nominal semua, yaitu kata rumah, ayah, suami, dan kakak sebagai UP, diikuti kata pekarangan, ibu, istri dan saya sebagai UP pula.
2) N diikuti V, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata frase verbal sebagai Atr. Misalnya :
 Orang bertopi
 Ayah bekerja
 Adik bermain
3) N diikuti Bil, artinya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti oleh kata atau frase bilangan sebagai Atr. Misalnya :
 Orang dua
 Telur tiga butir
 Sawah lima petak
 Harimau lima ekor
4) N diikuti Ket, artinya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase keterangan sebagai Atr. Misalnya :
 Koran kemarin pagi
 Buku tahun kemarin
 Nasi tadi pagi
 Orang tadi
5) N diikuti FD, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase depan sebagai Atr. Misalnya :
 Beras dari tetangga
 Kereta api ke Surabaya
 Pisang dari Ambon
6) N didahului Bil, artinya terdiri dari kata atau frase nominal UP, didahului oleh kata atau frase bilangan sebagai Atr. Misalnya :
 Sepuluh ekor ayam
 Lima batang kayu
 Dua buah sepeda baru
7) N didahului Sd, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP didahului oleh kata atau frase sandang sebagai Atr. Misalnya ;
 si Ahmad
 sang Pujangga
1.2. Hubungan Makna antar Unsur-unsurnya
Pertemuan unsur-unsur dalam suatu frase menimbulkan hubungan makna. Misalnya peertemuan kata rumah dengan kata pekarangan dalam frase pekarangan rumah menimbulkan hubungan makna ’penjumlahan’. Di samping itu, mungkin juga menimbulkan hubungan makna ’pemilihan’. Hubungan makna itu secara jelas ditandai oleh kemungkinan diletakkannnya kata dan atau atau di antara kedua unsurnya, yang menjadi pekarangan dan rumah atau pekarangan atau rumah.
Kemungkinan hubungan-hubungan makna dalam frase nominal tersebut adalah sebagai berikut :
 Penjumlahan
Makna ini ditandai oleh kemungkinan diletakkannya penghubung dan diantara kedua unsurnya. Misalnya :
 Suami (dan) istri
 Pekarangan (dan) rumah
 Nusa (dan) bangsa
 Pemilihan
Kemungkinan diletakkannya kata atau diantara unsurnya. Misal :
 Ayah atau ibu
 Dua atau tiga tahun lagi
 Empat atau lima kilo beras
 Kesamaan
Kesamaan ini ditandai dengan kemungkinan diletakkannya kata adalah diantara unsurnya, misal Lubuklinggau kota madani yang secara semantik unsur Lubuklinggau sama dengan kota madani. Contoh lain :
 Bapak SBY presiden RI
Bapak SBY adalah presiden RI
 Kakak saya Ahmad
Kakak saya adalah ahmad
 Rahmad mahasiswa STKIP
Rahmad adalah mahasiswa STKIP
 Penerangan
Maksudnya adalah fungsi Atr sebagai penerang UP, contoh buku baru, kata buku berfungsi sebagai UP dan kata baru sebagai penerang dari kata buku. Hubungan makna ini ada kemungkinan diletakkannya kata yang diantara unsurnya sehingga kata buku baru menjadi buku yang baru. Contoh lain :
 Pohon rindang
 Binatang buas
 Acara terakhir
 Pembatas
Dalam hal ini unsur Atr berfungsi sebagai pembatas UP, contoh rumah fauzi yang menyatakan makna rumah (milik) fauzi. Hubungan makna ini ditandai tidak mungkinnya diletakkan kata yang, dan, atau, dan adalah diantara unsur frase N yang terdiri dari N diikuti N. Contoh lain :
 Anggota DPR
 Buku sejarah
 Pembangunan daerah
 Penentu atau Penunjuk
Hubungan makna ini berkemungkinan diletakkannya kata penunjuk ini atau itu yang berfungsi sebagai penunjuk UP, kata penunjuk bukan menyatakan makna ’penerang’ sekalipun dapat di tambahkan kata yang diantara unsurnya, dan bukan pula menyatakan makna ’pembatas’ tetapi menyatakan makna penentu atau penunjuk. Contoh :
 Rumah itu
 Mahasiswa yang rajin itu
 Pekarangan ini
 Mobil ini

2. Frase Verbal
Frase verbal atau frase golongan V adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran :
Contoh : Rachmad sedang makan roti di ruang tamu
Rachmad – makan roti di ruang tamu
Frase sedang makan dalam klausa di atas mempunyai distribusi yang sama dengan kata makan. Kata makan termasuk golongan V. Karena itu frasse sedang makan juga termasuk golongan V. Contoh lain :

- Akan pergi
- Dapat menyanyi
- Sudah pulang
- Sedang makan
Kata pergi, menyanyi, pulang, dan makan termasuk golongan kata verbal, sedangkan kata akan, dapat, sudah dan sedang termasuk golongan kata tambah (T). Kata-kata tambah tersebut seperti akan, sudah, sering, dapat, sedang, baru dan tidak.
Zaenal Arifin dan junaiyah (2008), frase verbal adalah frase yang terdiri dari atas gabungan verba dan adverba atau gabungan verba adverbia atau gabungan verba dan preposisi gabungan (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:22).
Contohnya :
1. Pergi kerja, bangkit berlari, tegak berdiri
2. Pulang pergi, makan minum
3. Berlari cepat, berjalan mundur, bernyanyi merdu, cepat berlari.

3. Frase Bilangan
Frase bilangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan (Ramlan 1985:162). Misalnya frase dua ekor dalam dua ekor ayam, frase ini mempunyai distribusi yang sama dengan dua, persamaan tersebut dapat dilihat dari jajarannya :

Dua ekor ayam
Dua – ayam
Kata dua termasuk golongan kata bilangan, karena itu frase dua ekor ayam termasuk ke dalam golongan frase bilangan. Contoh lain :
 Lima botol (minyak goreng)
 Tujuh drigen (bensin)
 Sepuluh mangkok (bakso)
Kata lima, tujuh, sepuluh diatas termasuk golongan kata bilangan, sedangkan botol, drigen dan mangkok termasuk golongan kata penyukat. Jadi frase bilangan tersebut terdiri dari unsur kata bilangan diikuti kata penyukat.
Zaenal Arifin dan Junaiyah menyebut frase ini dengan frase numeral yaitu, frase yang terdiri atas numeralia sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan nomina penggolongan bilangan dan nomina ukuran (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:24). Contohnya :
 tujuh belas, tiga puluh, lima puluh
 dua lusin, empat gros, lima botol

4. Frase Keterangan
Frase keterangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan. Misalnya frase tadi pagi yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata tadi. Peersamaan tersebut dapat diketahui dari jajarannya :
Tadi pagi dewi pergi kuliah
Tadi – dewi pergi kuliah.
Kata-kata keterangan seperti tadi, kemarin, nanti, besok, lusa, sekarang contoh lain misalnya :
 Kemarin pagi paman datang.
 Nanti malam ayah mulai ronda.
 Besok saya pergi ke bandung.

5. Frase Depan
Frase depan ialah frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai aksinya. Misalnya :
 di sebuah kota
 di toko ayah
 sejak kemarin sore

Frase di sebuah kota terdiri dari kata depan di sebagai penanda, diikuti oleh frase sebuah kota sebagai aksinya, dan begitu juga dengan frase sejak kemarin sore yang terdiri dari sejak sebagai kata depan dan frase kemarin sore sebagai aksinya.







BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Frase adalah satuan gramatikal yang secara potensial berupa gabungan kata yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas dan mempunyai sifat nonpredikatif.
Frase dapat dibedakan menjadi :
1. Frase Eksosntris dan Endosentris
 Frase Eksosentris :
 Eksosentris Direktif (frase preposisi)
 Frase posposisi
 Frase preposposisi
 Frase Endosentris ;
 Endosentris Koordinatif
 Endosentris Atributif
 Endosentris Apositif
2. Frase Berdasarkan Persamaan Distribusi
 Frase Nominal
 Frase Verbal
 Frase Bilangan
 Frase Keterangan
 Frase Depan

B. SARAN
Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak bahkan lebih lengkap tentang pembahasan Sintaksis, pembaca dapat membaca dan mempelajari buku-buku Sintaksis dari berbagai pengarang, karena di dalam makalah ini penulis hanya membahas garis besarnya saja tentang pembahassan Sintaksis dan hanya membahas lebih dalam tentang frase.
Di sini penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penulisan makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan.
























DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zaenal dan Junaiyah. 2008. Sintaksis. Jakarta: Grasindo
Ramlan, M. 1985. Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono
Tarigan, Henry Guntur. 1984. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa
http://www.rider-system.net/2009/09/konsep-frasa.html















Meskipun ini belum sempurna namun aku cukup puas den-gan hasil kerja sendiri
meskipun dihujani kritik dan saran
Pepatah mengatakan
Pengalaman adalah guru yang paling baik
“Memulai membuat karya sendiri dari sekarang adalah lebih baik daripada tidak pernah membuat sama sekali”
Ini adalah awal dari karya-karya tulis selanjutnya

Rachmad Rivai